Gerombolan Tesamoko luncurkan tesaurus edisi kedua

Ursula Florene
Gerombolan Tesamoko luncurkan tesaurus edisi kedua
Untuk lebih banyak menjangkau kaum muda, tesaurus Tesamoko akan tersedia dalam bentuk aplikasi yang dapat diakses di ponsel pintar.

JAKARTA, Indonesia – Penulis Eko Endarmoko akhirnya kembali merilis edisi kedua buku Tesauraus Bahasa Indonesia pada Senin, 23 Mei. Sebelumnya, pria berusia 56 tahun itu telah menerbitkan Tesaurus Bahasa Indonesia edisi pertama pada tahun 2006 lalu.

Eko mengatakan tesaurus baru tersebut dia kerjakan secara berkeroyok dengan kawan-kawannya yang menamakan diri ‘Gerombolan Tesamoko.’

Masih sama dengan edisi pertama, Eko menyusun kamus ini bukan berdasarkan teori leksikografi -atau bunyi bahasa. “Saya membayangkannya sesuai dengan kebutuhan pengguna,” kata dia saat memberikan sambutan di Jakarta pada Senin, 23 Mei.

Menurut dia, selama ini pengguna tesaurus yang kebanyakan didominasi kaum penulis dan jurnalis, tak terlalu ambil pusing dengan pertalian makna yang dekat dengan kata tertentu. Mereka lebih peduli pada kecocokan, yang biasanya bertitik berat pada bunyi kata. Karena itu, hal ini lebih didasari pada selera subyektif.

Bila pada edisi perdana Eko menyusun kamus dengan format: lema (kata utama), makna, sinonim; maka pada edisi baru ini dia langsung menjabarkan padanan kata dari satu kata utama.

Kitab wajib pelaku aksara

Tesaurus karya Eko selama ini menjadi pegangan utama bagi banyak penulis. Pada peluncuran buku ini, salah satu yang memberikan opini adalah Dewi ‘Dee’ Lestari.

“Saya selalu membawa dua buku, KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) dan tesaurus,” kata dia.

Bagi seorang penulis, sangat penting untuk bisa menemukan padanan dari berbagai kata hingga karyanya kaya diksi.

Keterbatasan kata sering menjadi momok yang menakutkan bagi penulis. Pilihan diksi yang kurang tepat sering membuat tulisan, entah itu berita ataupun karya sastra, menjadi kurang mengalir. Pembaca menjadi bosan dan sulit untuk terbawa dalam alur tulisan.

Maka, tesaurus yang menjadi acuan padanan kata ini tentu menjadi kitab wajib bagi mereka yang sehari-hari berkutat dengan aksara.

Hal senada juga disampaikan oleh jurnalis yang sekaligus sastrawan Seno Gumira Ajidarma. “Kegunaan tesaurus itu tampak seperti saat saya mau membuat puisi,” kata dia.

Dia mencontohkan, saat mencari kata dengan makna tertentu, namun harus berakhiran ‘u’. Namun, yang dia ketahui hanya kata dengan akhiran lain. Bila membuka tesaurus, dia bisa menemukan padanan kata tersebut dengan akhiran yang diinginkannya. Keuntungan ini juga penting untuk caption, atau awalan paragraf dari suatu tulisan yang berfungsi menarik perhatian.

“Dia juga bisa memberikan makna pada kata yang sebelumnya tak bermakna,” kata Seno.

Dia mengaku sering mengambil beberapa kata dari cerita silat Khoo Ping Ho.

Kata-kata yang dia ambil kerap kali sebenarnya tak dia ketahui maknanya. Namun, setelah memberitahukannya pada Eko, dan dimasukkan pada tesaurus, barulah kata-kata tersebut memiliki arti yang sepadan.

Dengan tesaurus, penulis mampu bermain-main dengan kata yang lebih banyak. Bila karya mereka dibaca orang, diksi baru ini juga akan ikut tersebar dan menjadi pengetahuan baru bagi masyarakat yang belum tentu akrab dengan padanan kata.

Mendalami akar bahasa

BUKU TESAURUS. Diskusi di sela peluncuran Tesaurus edisi kedua di Gedung Kompas Gramedia pada Senin, 23 Mei. Bagi pelaku aksara, tesaurus merupakan kitab yang wajib untuk dimiliki. Foto oleh Ursula Florene/Rappler

Tak hanya estetika semata, rupanya tesaurus juga bisa membantu masyarakat untuk menemukan akar dari suatu kata. Sosiolog Neng Dara Affiah mengatakan, pada rezim tertentu sempat ada politisasi kata.

“Seperti kata perempuan yang pada Orde Baru sangat dihindari karena berkesan garang. Akhirnya dipakailah istilah wanita, yang persepsinya dipolitisasi sedemikian rupa jadi penundukan kaum perempuan,” ujar Dara.

Hal ini menimbulkan persepsi kalau wanita adalah akronim dari ‘wani ditata.’

Padahal, era-era sebelumnya, kata wanita banyak sekali dipakai. Bahkan untuk organisasi pergerakan bentukan kaum hawa.

“Menjadi penting bagi kita untuk mengetahui bentuk asli dari suatu kata,” kata dia.

Penyair Goenawan Mohamad juga mengungkap hal senada. Menurut dia, tesaurus penting sebagai rekam jejak sejarah penggunaan diksi pada era tertentu.

Dia sekaligus menanggapi permintaan Dara yang menginginkan kata ‘menggagahi’ tak lagi menjadi padanan kata ‘memperkosa.’ Tindakan tersebut, menurut Dara, bertentangan dengan akar katanya, gagah, yang bermakna kuat.

Namun, bagi Goenawan, penting untuk membiarkan kata tersebut tetap ada. “Jadi masyarakat kelak mengetahui kalau pernah ada persepsi seperti itu, sebagai catatan sejarah bahasa,” kata dia.

Buat aplikasi

TESAMOKO, atau Tesaurus Bahasa Indonesia Edisi Kedua ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan tebal buku lebih dari 802 halaman. Harganya pun cukup mahal, yakni Rp 260 ribu.

Tentu saja buku tebal seperti ini kurang diminati oleh kaum muda Indonesia yang memang tak begitu suka membaca. Karena itu, Eko berencana meluncurkan aplikasi ‘TESAMOKO’.

“Nanti setahun lagi kami luncurkan,” kata dia. Saat ini, aplikasi tersebut masih dalam tahap pengembangan untuk basis ponsel pintar. -Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.