Peringati 10 tahun gempa bumi Yogyakarta, masyarakat gelar doa bersama

Daru Waskita
Banyak warga Bantul yang sempat menjadi pengemis pasca gempa bumi 10 tahun lalu

Warga membangun monumen pusat gempa di Dusun Potrobayan,Bantul, DI Yogyakarta, pada 25 Mei 2016. Monumen berupa tugu prasasti yang dibangun di episentrum gempa tersebut untuk mengenang 10 tahun gempa bumi Yogyakarta yang terjadi pada 27 Mei 2006. Foto oleh Hendra Nurdiyansyah/Antara

YOGYAKARTA, Indonesia — Tepat pukul 06:59 WIB pada Sabtu, 27 Mei 2006, bencana gempa bumi mengerikan menerjang wilayah Bantul dan sekitarnya dengan kekuatan 5,9 Skala Richter. Pusatnya terjadi di pertemuan sungai Opa-Oya, Dusun Potrobayan, Desa Srihardono, Kecamatan Pundong, Kabupaten Bantul, Yogyakarta.

Lebih dari 6.000 warga Yogyakarta dan Jawa Tengah meninggal dunia dan ratusan ribu rumah rusak ringan hingga rusak berat. Ribuan warga Bantul lainnya mengalami luka ringan hingga berat yang dirawat berbagai rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang dibangun oleh negara sahabat maupun dari lembaga non-pemerintah yang selama ini aktif di Indonesia.

Hari ini, Jumat, 27 Mei 2016, tepat 10 tahun gempa bumi melanda Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Meski sudah satu dasawarsa, namun bencana tersebut masih menyisakan kenangan pilu dan trauma yang cukup mendalam. Apalagi bagi keluarga yang tidak saja rumahnya roboh, namun ada anggota keluarganya meninggal dunia tertimpa bangunan rumah.

Masyarakat di Dusun Potrobayan, yang merupakan dusun terdekat dari titik episentrum gempa bumi tektonik, menggelar salat subuh bersama di lokasi pendirian prasasti titik episentrum gempa bumi tersebut.

(BACA: Bantul bangun prasasti untuk peringati 10 tahun gempa Yogyakarta)

Salat subuh bersama dilanjutkan dengan doa bersama untuk para arwah korban gempa bumi 2006 ini dipimpin langsung oleh Bupati Bantul, Suharsono.

Raut wajah sedih masih tampak pada warga Dusun Potrobayan yang tak kuasa menahan kesedihannya ditinggal kelurga menghadap Sang Ilahi.

“Doa yang dipanjatkan sangat menyentuh hati. Di Dusun Potrobayan ini ada ada 12 orang yang meninggal saat kejadian gempa dan satu orang menyusul pasca kejadian gempa,” kata Purwanti, warga setempat, usai mengikuti doa bersama.

Bupati Bantul, Suharsono, mengatakan gempa bumi 2006 merupakan pelajaran penting bagi masyarakat Bantul dan Pemkab Bantul dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana yang tidak bisa diprediksi kapan terjadi.

“Harus diakui saat gempa bumi 2006 terjadi semua pihak belum siap menghadapi bencana yang sangat hebat tersebut dengan korban jiwa ribuan dan belum korban luka sedang hingga berat yang harus mendapatkan perawatan di rumah sakit,” kata Suharsono.

Tim SAR melakukan penyelamatan korban gempa menggunakan teknik High Angle Rescue Tehnique (HART) dalam simulasi di Yogyakarta, pada 21 Mei 2016. Foto oleh Hendra Nurdiyansyah/Antara

Saat itu, menurut Suharsono, warga Yogyakarta, anggota Search-and-Rescue (SAR), dan Satlak Penanggulangan Bencana masih berkonsentrasi menghadapi penanganan bencana erupsi Merapi, sehingga mereka harus ditarik ke Kabupaten Bantul.

“Sekitar satu jam dari gempa bumi, muncul isu tsunami sehingga masyarakat panik dan meninggalkan korban yang meninggal begitu saja tanpa diurus. Malam hari usai gempa hujan deras mengguyur Yogyakarta dan banyak anak kecil hingga orang tua yang harus basah tanpa ada tempat berteduh. Masyarakat pun masih dihantui gempa susulan,” ujar Suharsono.

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X mengatakan pasca kejadian gempa bumi banyak timbul permasalahan dengan banyaknya warga Bantul yang turun ke jalan-jalan untuk mengemis dan sangat memprihatikan.

Kehilangan harta benda tidak kehilangan apa-apa. Kehilangan nyawa kehilangan separuh. Kehilangan harga diri maka kehilangan semuanya

“Saya pun bertekad untuk mengembalikan semangat masyarakat Bantul dengan semboyan, ‘Kehilangan harta benda tidak kehilangan apa-apa. Kehilangan nyawa kehilangan separuh. Kehilangan harga diri maka kehilangan semuanya’,” kata Sri Sultan usai napak tilas gempa bumi 2006 beberapa waktu yang lalu.

Bangkitnya kembali masyarakat Bantul khususnya dari keterpurukan akibat gempa karena memiliki modal sosial gotong royong. Kohesi masyarakat yang sangat erat ini mempercepat proses rehabilitasi dan rekontruksi pasca masa tanggap darurat.

“Masyarakat membangun rumahnya secara mandiri, gotong royong tidak seperti penanganan bencana di daerah lain yang pembangunan rumahnya diserahkan ke kontraktor,” kata Suharsono.

Kini setelah 10 tahun gempa bumi berlalu, desa tanggap bencana dan sekolah siaga bencana telah terbentuk. Penanganan bencana serta gladi atau simulasi menghadapi bencana gempa bumi telah rutin digelar sehingga masyarakat selalu diingatkan ketika menghadapi bencana gempa bumi dan bencana lainnya.

“Momentum 10 tahun kejadian gempa bumi kiranya dapat digunakan oleh masyarakat Bantul sebagai masyarakat yang tangguh bencana,” kata Suharsono. —Rappler.com