5 hal mengenai gempa bumi Yogyakarta pada tahun 2006

Rappler.com
5 hal mengenai gempa bumi Yogyakarta pada tahun 2006
Gempa bumi berlangsung selama 57 detik, namun menewaskan hampir 5.000 orang.

JAKARTA, Indonesia – Hari ini tepat 10 tahun yang lalu, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) diguncang gempa bumi hebat berkekuatan 5,9 skala richter. Ini merupakan gempa bumi terhebat yang pernah menimpa Yogyakarta dan menewaskan ribuan jiwa.

Sambil mengenang kembali peristiwa satu dekade lalu, berikut 5 hal yang perlu kamu ketahui mengenai gempa tersebut:

1. Korban tewas mencapai 4.983 orang

Gempa bumi yang menimpa Yogyakarta terjadi pada pukul 05:55:03 sekitar 57 detik. Berdasarkan data Badan Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, lokasi gempa berada di koordinat 8,007° LS dan 110,286° BT pada kedalaman 17,1 km.

Sedangkan menurut Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG), posisi episenter gempa terletak di koordinat 8.03 LS dan 110,32 BT pada kedalaman 11,3 kilometer.

Secara umum, posisi gempa berada sekitar 25 kilometer selat-barat daya Yogyakarta, 115 kilometer selatan Semarang, 145 kilometer selatan-tenggara Pekalongan dan 440 km timur-tenggara Jakarta. Walaupun hiposenter gempa berada di laut, tetapi tidak mengakibatkan tsunami.

Kendati begitu, ribuan korban jiwa melayang dalam insiden tersebut. Harian Kompas yang terbit pada tanggal 28 Mei 2006 mencatat korban jiwa mencapai 3.098 orang.

Sementara, data dari Departemen Sosial mencatat total korban tewas mencapai 4.983 jiwa. Angka ini sebelumnya diralat dari korban 6.200 orang.

Mengenai kekeliruan angka korban jiwa tersebut, kantor berita Deutsche Welle (DW) menulis hal tersebut terjadi karena ada korban tewas yang dihitung dua kali dan beberapa yang diduga tewas ternyata selamat. Sementara, jumlah korban yang mengalami luka mencapai 36 ribu orang.

2. Huru-hara akibat rumor tsunami

Satu jam pasca gempa mengguncang Yogyakarta muncul isu tsunami akan melanda kota itu. Alhasil jalan-jalan di Bantul telah dipadati kendaraan sejak pagi hari.

Warga terlihat berlari dengan panik dan mencari tempat yang lebih tinggi untuk berlindung. Mereka yang membawa kendaraan terlihat dipenuhi muatan orang. Sementara, warga yang mengendarai sepeda motor dikendarai oleh 3 orang, bahkan ada ikut membawa bayi dengan motor tersebut.

Para pasien yang sedang dirawat inap di beberapa rumah sakit pun ikut keluar dengan tertatih-tatih dengan infus masih melekat di tubuh. Sebagian dari mereka menuju ke Sleman sehingga terjadi kemacetan.

Sementara, massa di Sleman justru berlari menuju ke arah selatan, karena mengira gempa berasal dari letusan Gunung Merapi. Saat itu, Merapi memang diketahui sedang mengeluarkan awan panas dalam jumlah besar. Kepanikan semakin menjadi, karena saluran komunikasi dan listrik terputus, sehingga sulit mengakses informasi.

3. Banyak gedung alami kerusakan parah

Pasca gempa bumi pertama, Yogyakarta diguncang dengan gempa susulan seperti pada pukul 06:10 WIB dan 11:22 WIB. Akibat gempa itu banyak rumah dan gedung perkantoran yang roboh. Bahkan, instalasi listrik dan tali komunikasi mengalami kerusakan.

Beberapa fasilitas publik, situs bersejarah dan lokasi wisata pun tak luput dari guncangan gempa. Bangunan yang mengalami kerusakan antara lain:

  • Mall Saphir Square (kerusakan parah terlihat di lantai 4 dan 5. Tembok depan mall di lantai tersebut roboh hingga berlubang. Kanopi teras Mall ambruk dan menimpa teras Mall yang sebagian ikut roboh)
  • Mall Ambarukmo Plaza
  • GOR Among Rogo
  • STIE Kerja Sama di Jalan Parangtritis 
  • Institut Seni Indonesia yang berlokasi di kilometer 6,5 mengalami kerusakan sangat parah
  • Candi Prambanan 
  • Makam Imogiri
  • Salah satu bangsal di Kraton Yogyakarta yakni bangsal Trajumas (simbol keadilan ambruk)
  • Objek Wisata Kasongan (khusus Gapura Kasongan mengalami patah di bagian kiri dan kanan. Ruko-ruko kerajinan keramik sebagian besar mengalami rusak berat bahkan roboh)
  • Bandara Adi Sutjipto mengalami kerusakan bangunan dan keretakan pada landasan pacu

Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Nasional (Bakornas) pada 11 Juni 2006 melaporkan total bangunan yang mengalami kerusakan berat di dua provinsi yakni Yogyakarta dan Jawa Tengah mencapai 127.879 buah. Sementara, jumlah kerusakan sedang mencapai 182.392 bangunan dan rusak ringan 261.219 bangunan.

4. Bantuan tidak merata

Penanganan korban bencana gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah sempat dianggap lambat oleh beberapa pihak. Memasuki hari keempat, masih banyak warga yang merasa belum menerima bantuan.

Bahkan, ruas jalan raya dari Yogyakarta, Bantul hingga Imogiri dipenuhi anak-anak dan warga yang meminta bantuan.

“Bantuan Bu.. bantuan Pak..,” teriak mereka setiap ada orang yang lalu-lalang dengan kendaraan seperti dikutip BBC Indonesia 31 Mei 2006.

Namun, Menteri Sosial ketika itu Bachtiar Chamsyah membantah bantuan belum diberikan. Dia mengatakan justru telah menyaksikan sendiri masing-masing kecamatan di Bantul mendapat kiriman 5 ton beras. Tetapi, bantuan itu terlihat tidak merata diterima korban.

Bahkan, berdasarkan situs resmi Kementerian Sosial mereka telah mendistribusikan hingga 100 ton beras pada tanggal 27 Mei 2006 bagi korban. Mereka juga memberikan bantuan makanan lain berupa sardencis, kecap, sambel, minyak goreng dan mie instan.

Kemsos juga mengklaim telah mendistribusikan bantuan sandang dan evakuasi kit seperti tenda pengungsian.

Pemerintah juga menyalurkan bantuan berupa dana tunai kepada korban di area Yogyakarta dan Jawa Tengah. Setiap keluarga dialokasikan menerima bantuan per bulan berkisar Rp 280 ribu hingga Rp 1.050 juta. Selain itu, setiap orang menerima bantuan beras 10 kilogram per bulan.

Penyaluran bantuan dana tunai dilakukan mulai 6 Juni 2006. Bantuan tidak hanya dikucurkan oleh pemerintah, tetapi berbagai negara asing seperti Inggris, Australia, Tiongkok, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Kanada.

5. Pemerintah kucurkan dana Rp 1,2 triliun untuk rehabilitasi

Presiden SBY pada bulan Juli 2006 menggelontorkan dana sebesar Rp 1,2 triliun untuk proses rehabilitasi dan rekonstruksi dua provinsi tersebut.

“Rehabilitasi dan rekonstruksi itu meliputi pembangunan rumah penduduk yang rusak atau yang hancur. Juga pembangunan infrastruktur yang rusak, seperti jalan, jembatan, pasar, Puskesmas, gedung sekolah, fasilitas umum, bangunan pemerintah, tempat-tempat ibadah, bangunan sejarah dan lain-lain,” ujar SBY dalam pidato penyerahan bantuan pada tahun 2006 lalu.

Pemerintah juga menghidupkan kembali sektor ekonomi, terutama sektor riil dan industri rumah tangga melalui bantuan modal dan kebijakan khusus perbankan. – Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.