10 tahun terendam lumpur Lapindo, warga Sidoarjo masih terpuruk

Amir Tedjo
10 tahun terendam lumpur Lapindo, warga Sidoarjo masih terpuruk
Walau banyak dari korban sudah menerima uang ganti rugi, tetapi belum bisa menggantikan mata pencaharian warga yang hilang akibat semburan lumpur Lapindo.

SIDOARJO,Indonesia- Meski luapan lumpur Lapindo sudah 10 tahun berlalu, namun bagi sebagian penduduk yang menjadi korban, mereka masih belum bisa bangkit dari keterpurukannya. Achmad Haris merupakan salah satu contoh.

Haris yang sekarang menjadi tukang ojek di sekitar area luapan lumpur Lapindo mengatakan kehidupannya belum kembali normal seperti sebelum luapan lumpur terjadi.

Sebelum luapan lumpur terjadi, Haris tinggal di rumahnya di Jatirejo RT 10 Porong Sidoarjo. Kehidupannya saat itu bisa dibilang berkecukupan karena selain bekerja sebagai buruh pabrik, dia juga mempunyai usaha sampingan membuka warung di rumahnya. Warung itu dikelola oleh istrinya.

“Usaha warung bisa dikatakan sangat membantu sekali karena rumah saya dulu di Jatirejo berdekatan dengan pondok pesantren. Jadi wajar kalau ramai,” kata dia di atas tanggul Lumpur Lapindo pada Minggu, 29 Mei.

Namun begitu bencana lumpur datang, kehidupannya mulai berubah. Pabrik tempatnya bekerja tutup karena tergenang lumpur. Nasib serupa juga menimpa rumahnya.

“Rumah tenggelam, usaha warung pun juga hilang,” kata dia.

Sekitar tahun 2007 atau 2008, Haris mendapatkan ganti rugi rumahnya. Nilainya sekitar Rp 280 juta.

Uang ganti rugi itu, dia gunakan untuk membeli rumah di Desa Kosambi Sidoarjo. Letaknya sekitar tujuh kilometer dari rumah lamanya. Sisa uangnya digunakan untuk bertahan hidup sehari-hari.

“Uang ganti rugi hanya bisa untuk membeli rumah baru. Tak ada sisa untuk modal usaha membuka warung lagi,” kata dia.

Haris pun kemudian mengikuti jejak penduduk korban luapan lainnya yang memilih menjadi tukang ojek di sekitar tanggul luapan lumpur Lapindo. Hasilnya dia anggap cukup lumayan saat itu.

Namun memasuki tahun keenam pasca luapan lumpur, dia merasakan penghasilannya mulai berkurang.

MENGENANG TRAGEDI LUMPUR LAPINDO. Warga korban semburan lumpur Lapindo membangun nisan untuk mengingatkan pemerintah terhadap tragedi yang terjadi pada 29 Mei 2006. Foto oleh Amir Tedjo/Rappler

“Apalagi sekarang sudah sepi wisatawan yang ingin melihat luapan lumpur. Dulu bahkan kalau Lebaran bisa dikatakan panennya ‘tukang ojek lumpur’. Namun kini, sudah sepi,” tutur Haris.

Kondisi terpuruk itu juga dirasakan oleh Dian Karina. Saat lumpur meluap 10 tahun yang lalu, dia masih duduk di kelas satu Sekolah Dasar. Dia mengenang, saat lumpur mulai membanjiri desanya di Siring, Dian dipulangkan dari sekolah lebih awal.

Bersama keluarga dan warga desa lainnya, Dian kemudian tinggal di penampungan sementara di Pasar Baru Porong.

Dua tahun pasca luapan lumpur, musibah kembali datang menghampiri. Ayah Dian yang menjadi penopang ekonomi keluarga meninggal. Sejak saat itu, Harwanti, ibu Dian yang mengambil alih menjadi tulang punggung keluarga. Harwanti akhirnya terjun bekerja menjadi tukang ojek di sekitar tanggul luapan lumpur.

“Jangan ada lagi pengeboran di Sidoarjo. Lihat apa yang telah terjadi pada keluarga kami dan keluarga lainnya yang menjadi korban Lapindo,” kata Dian.

Warga di sekitar area luapan Lumpur Lapindo melakukan kegiatan khusus untuk memperingati tragedi itu 1 dekade lalu. Salah satu pesan yang ingin disampaikan para korban lumpur kepada pemerintah yakni situasi belum kembali normal sepenuhnya.

“Meski sebagian besar warga sudah menerima ganti rugi, namun masih ada saudara-saudara kami yang belum menerima ganti rugi,” kata Al Buchori, koordinator peringatan 10 tahun luapan lumpur Lapindo.

Bagi korban luapan yang sudah menerima uang ganti rugi pun, kata dia, belum tentu kehidupan mereka sudah kembali normal seperti semula. Karena banyak di antara mereka masih terpuruk.

“Banyak para lelaki yang kehilangan pekerjaan mereka karena luapan lumpur. Mereka menjadi tak berdaya. Sebaliknya, banyak perempuan korban lumpur yang terpaksa mengambil alih kendali rumah tangga, karena suami mereka sudah mati akibat stress memikirkan luapan Lapindo,” ujar dia. – Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.