Sebuah pelajaran dari peretasan akun Twitter Mark Zuckerberg

Aditya Hadi Pratama
Mark Zuckerberg menggunakan kata sandi “dadada” untuk login akun Twitter, Pinterest, dan LinkedIn.

Akun Twitter and Pinterest Mark Zuckerberg dibajak oleh peretas.

JAKARTA, Indonesia — Sekitar 6,5 juta password pengguna LinkedIn dikabarkan bocor pada 2012 lalu. Media sosial untuk para profesional tersebut pun langsung meminta para penggunanya untuk mengubah password mereka.

Awal Mei 2016 yang lalu, muncul seorang peretas (hacker) yang menjual data email dan password milik 117 juta pengguna LinkedIn, termasuk milik CEO Facebook Mark Zuckerberg. Hacker tersebut menjual data yang ia dapat dari peretasan empat tahun lalu itu dengan harga 5 Bitcoin (sekitar Rp 39 juta).

Dari data tersebut, baru diketahui kalau Mark menggunakan password yang luar biasa mudah untuk ditebak, yaitu “dadada”. Sayangnya, password yang sama ternyata juga digunakan Mark untuk akun Twitter dan Pinterest miliknya. Para hacker pun langsung mengambil alih akun Mark di kedua media sosial besar tersebut.

(BACA: ‘Hacker’ tembus akun Twitter Mark Zuckerberg)

Sejauh ini, akun Mark di media sosial yang ia pimpin, seperti Facebook, Instagram, dan WhatsApp, masih aman dari peretasan. Akun Mark di Twitter dan Pinterest pun telah dibenahi dan diamankan dari para peretas.

Dari kasus ini, kita bisa mengambil pelajaran untuk membuat password berbeda pada setiap akun media sosial yang kita punya. Apabila hal tersebut bisa menyulitkan kamu dalam mengingatnya, ada baiknya apabila kamu tetap menggunakan satu password yang sama, namun terus mengubahnya secara berkala.

Kasus yang terjadi pada Zuckerberg ini memang tidak terlalu berbahaya, karena ia sendiri jarang menggunakan akun Twitter dan Pinterest yang ia miliki. Namun tentu akan jadi berbeda apabila hal ini terjadi pada orang-orang yang menaruh beberapa informasi rahasia di akun media sosial mereka. —Rappler.com

 

Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di Tech in Asia