Daging dan perubahan iklim, apa hubungannya?

Nikki Natividad
Bagaimana setiap gigitan daging lezat di hamburger-mu berkontribusi pada perubahan iklim.

JAKARTA, Indonesia – Budaya makan bersama sangat penting bagi masyarakat Filipina. Tidak peduli ada perayaan besar, bertemu dengan seseorang, atau hanya sekedar  nongkrong akhir pekan, makanan menjadi unsur yang selalu ada.

Bahkan, di Filipina, pengeluaran terbesar adalah untuk makanan lezat.

Sekarang, coba tanya pada dirimu sendiri: Berapa banyak makanan yang mengandung daging? Kalau jawabanmu semuanya, maka… kejutan! Kamu ternyata turut berkontribusi pada perubahan iklim!

Tahukah kamu kalau produksi dan konsumsi daging bertanggung jawab memproduksi 18 persen gas rumah kaca dunia? Pembuatan makanan, termasuk pertanian dan peternakan, adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua, setelah sektor energi.

Kalau kamu abai akan fakta ini, hal ini cukup wajar, mengingat konsumsi daging terlihat aman dan  biasa saja. Sebelum kamu memesan steak medium-rare atau memakan hamburger lezat, sadarilah bagaimana hal ini memperparah perubahan iklim.

Lalu apa?

Meski terdengar menakutkan, tidak berarti semua orang harus berhenti makan daging. Industri ternak memberikan penghasilan bagi banyak orang, dan daging adalah unsur penting bagi budaya Pinoy.

Ketimbang mengambil langkah drastis (dan mungkin tidak berkelanjutan), kamu bisa membantu memitigasi perubahan iklim cukup dengan mengurangi jumlah daging yang kamu makin sehari-hari.

Hari Tanpa Daging Sedunia yang jatuh setiap 13 Juni ini mungkin bisa menjadi titik awalmu.

Cukup mengganti sepiring masakan daging hari ini, dengan variasi lain yang tak memakainya.

Berhenti makan daging sehari, dan kamu akan mengurangi:

  • Emisi karbon yang cukup untuk mendidihkan seteko air 388 kali.
  • Lebih dari 11 gram lemak atau 2 sendok makan mentega
  • Penggunaan air oleh 9 orang
  • Lebih dari 90 kalori.

-Rappler.com