Buntut tudingan Turki, 8 siswa SMA di Semarang batal dapat beasiswa

KD Suarez
Buntut tudingan Turki, 8 siswa SMA di Semarang batal dapat beasiswa
Siswa-siswi SMA Semesta Semarang yang dikirim umumnya memiliki kemampuan di atas rata-rata. Pembatalan ini merugikan pihak sekolah dan murid


SEMARANG, Indonesia — Delapan siswa SMA di Semarang batal mendapat beasiswa akibat sekolah mereka dituding berkaitan dengan sebuah organisasi teroris di Turki.

Kepala SMA Asrama Bilingual Semesta Mohammad Haris mengatakan, ke-8 muridnya batal meraih beasiswa setelah diputuskan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), pada Senin, 1 Agustus.

“Atas saran Kemenlu, kami menunda jadwal pemberangkatan kedelapan siswa kami ke Turki. Tapi, setelah diberitahukan kepada para murid, mereka akhirnya memilih tidak jadi berangkat dan memutuskan berkuliah di universitas dalam negeri,” kata Haris, Senin.

Sebelumnya, Kedutaan Besar Turki di Jakarta meminta pemerintah Indonesia menutup 9 sekolah di Tanah Air, pada 28 Juli lalu. Melalui siaran persnya, pemerintah Turki melalui kedubesnya menuding ke-9 sekolah terkait dengan organisasi teroris bernama Fetullah Terrorist Organization (FETO) di Turki.

SMA Semesta merupakan satu dari 9 sekolah yang dituding mendapat pendanaan dari organisasi pimpinan Fetullah Gullen itu. Gullen dianggap bertanggungjawab dalam percobaan kudeta militer yang sempat meletus di Ankara, Turki, namun gagal pada bulan lalu.

(BACA: Turki minta Indonesia tutup sekolah yang terkait organisasi FETO)

Haris mengklaim keputusan mereka yang batal bertolak ke Turki telah disetujui oleh orangtua masing-masing. Meski begitu, ia enggan merinci nama-nama siswa tersebut.

Seorang siswi asal Kudus yang seharusnya dikirim ke Turki, kini harus mendaftar kuliah di kampus swasta. Pun demikian dengan yang dilakukan ketujuh siswa lainnya.

“Karena pendaftaran kuliah di kampus negeri telah ditutup, maka yang bersangkutan legawa masuk ke kampus swasta. Ya, mau bagaimana lagi karena situasinya tidak memungkinkan buat pergi ke sana,” ujarnya.

Rugikan pihak sekolah

Pembatalan jadwal keberangkatan bagi kedelapan siswa tersebut baru terjadi pada tahun ini, dan menjadi kerugian tersendiri bagi pihak sekolah. Sebab, SMA Semesta dikenal kerap menelurkan pelajar berprestasi yang mampu mengungguli lawan-lawannya saat ikut lomba science tingkat internasional.

Pihak sekolah telah menjadwalkan pertemuan dengan Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy untuk membahas permasalahan tersebut, pada Kamis, 4 Agustus.

(BACA: SMA Semesta: Tudingan Pemerintah Turki bentuk intervensi kepada Indonesia

Nur Rochim, juru bicara SMA Asrama Bilingual Semesta, mengungkapkan tiap tahun selalu ada 10 muridnya yang mendapat beasiswa untuk berkuliah di kampus-kampus bergengsi di Turki. Karena itulah, ia kecewa dengan tudingan pemerintah Turki yang dianggap tak mendasar.

“Pastinya kecewa, karena siswa yang dikirim di sana kemampuannya di atas rata-rata. Di sekolahan kita, tiap tahun yang berangkat 10 anak. Mereka kuliah di jurusan ekonomi, teknologi aplikasi modern, biologi, kimia, sampai fisika,” kata Nur Rochim.

Ia berpendapat kuliah ke Turki merupakan kesempatan langka. Selain mahalnya ongkos kuliah, tiap siswa juga mendapat pengalaman hidup berharga selama tinggal di negeri dua benua itu.

Ia mengestimasikan, biaya berkuliah di Turki jika ditanggung secara mandiri bisa menghabiskan dana sampai Rp 50 juta setahun. Dana yang dipakai semakin membengkak jika jangka waktu kuliah yang ditempuh kian lama.

“Bayangkan saja, Rp 50 juta setahun kalau udah empat tahun dia kuliah, sangat banyak dana yang dihabiskan. Makanya, murid peraih beasiswa bukan orang sembarangan,” ucapnya. —Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.