Praveen/Debby saling melengkapi di Olimpiade Rio 2016

Jennifer Sidharta
Cerita Praveen Jordan dan Debby Susanto, perwakilan Indonesia dalam cabang olahraga badminton, kategori ganda campuran di Olimpiade Rio 2016.

 

 

JAKARTA, Indonesia — Dalam Olimpiade Rio 2016, Indonesia berkesempatan mengirimkan dua pasang atlet bulu tangkis dalam nomor ganda campuran.

Selain sang legenda Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir, tahun ini menjadi momen bersejarah bagi pasangan Praveen Jordan/Debby Susanto. Untuk pertama kalinya, mereka berkesempatan mewakili Indonesia di ajang Olimpiade.

Perkenalan Praveen dan Debby dengan bulu tangkis

Praveen, yang juga akrab disapa Ucok, lahir di Kota Bontang, Kalimantan Timur, pada 1993. Ayahnya merupakan pemain bulu tangkis, dan ia sempat dilatihnya bermain bulu tangkis di Kalimantan.

“Jadi pertama kali [main bulutangkis] gara-gara lihat dia [ayah] main dan terus coba bergabung pertama kali di klub Jaya Raya, dan menekuni badminton sampai akhirnya seperti sekarang,” kata Praveen kepada Rappler dalam salah satu sesi latihan pra-Olimpiade.

https://www.rappler.com/tachyon/r3-assets/8DCF566620A04E82AF76AC9F71C9AA60/img/B7BEF01CA9CD4023879CB179B8B14432/IMG_1876.jpg‘);”>

FAKTOR KETURUNAN. Debby Susanto (kiri) dan Praveen Jordan (kanan) sama-sama mengenal bulu tangkis berkat keluarganya. Foto oleh Dennis Tumiwa/Rappler

Senada dengannya, pasangan Praveen di Olimpiade Rio 2016, Debby Susanto, mencoba bermain badminton karena mengikuti sang ayah yang menyukai bulutangkis. Bahkan Debby berharap dengan sukses di bidang olahraga ini, ia tak perlu lagi bersekolah.

“Awalnya nyoba-nyoba ngikut-ngikut, karena kan malas sekolah, jadi udah lah mikir main badminton aja kan enak, enggak sekolah. Tapi lama-lama, ibaratnya udah enggak bisa nih, kalau enggak main badminton, sudah terlanjur suka, ibaratnya gitu,” kata Debby.

Pemain bulu tangkis yang lahir pada 1989 di Palembang, Sumatera Selatan, ini mulai masuk klub bulu tangkis di Jakarta pada 2004. Sementara, Praveen masuk klub Jaya Raya pada 2005. 

Terlanjur cinta pada bulu tangkis

Pertandingan badminton membawa keduanya ke luar negeri, dan itu adalah salah satu hal yang disukai Praveen dari olahraga ini. Ia juga merasa sangat senang tatkala menjuarai turnamen, karena ia mewakili Indonesia dan membuktikan bahwa negerinya bisa menjadi juara.

Debby juga menyatakan bangga karena bisa mewakili Indonesia, dan menyukai bulutangkis karena terlanjur cinta. Sejak kecil ia “menepok bulu” hingga olahraga ini menjadi rutinitas baginya, bahkan ia merasa aneh kalau sehari saja tidak bermain badminton. 

Namun, keduanya pernah pula merasa terpuruk saat menekuni karier sebagai atlet bulu tangkis. Di saat seperti itu, Debby mengaku ia mendorong dirinya agar tidak mau kalah dari keadaan. 

“Maksudnya kita berpikirnya pasti masih bisa kalau kita mau usaha. Kalau kita nyerah detik itu juga berarti kita enggak mungkin ada di sini sekarang,” aku Debby. 

https://www.rappler.com/tachyon/r3-assets/8DCF566620A04E82AF76AC9F71C9AA60/img/9C760BF9C05F410882A1263A61A2A82F/000_Del6402726.jpg‘);”>

BERPENGALAMAN. Penampilan Debby Susanto di babak semi final Yonex-Sunrise India Open 2015. Foto oleh Chandan Khanna/AFP

Debby mengaku panutannya adalah pemain bulu tangkis ganda campuran seniornya, Liliyana Natsir, karena prestasinya yang luar biasa.

“Bisa dibilang [Liliyana] masih dalam top performance-nya kan. Jadi dia sosok orang yang enggak mau menyerah dan tetap haus akan gelar,” ungkap Debby.

Sementara, inspirasi Praveen adalah keluarganya.

“Keluarga itu menginspirasi saya. Misalnya di saat saya kalah dan menang, mereka selalu support saya. Enggak peduli apapun itu alasannya,” ucap Praveen, menambahkan berkat itu ia bisa mencoba bermain dengan lebih baik lagi.

Saling melengkapi

Praveen dan Debby saling mengenal sejak 2014. Menurut Praveen, Debby adalah seorang yang bertanggung jawab dan pekerja keras. “Dan satu lagi yang enggak boleh ketinggalan, tuh, judesnya,” kata Praveen tentang rekannya itu seraya tertawa.

Sedangkan di mata Debby, Praveen adalah sosok yang “pecicilan, kadang seperti ulet bulu” tetapi bisa diajak berkomitmen. “Bisa dibilang pekerja keras juga, tapi musiman, kadang kerja keras,” ujarnya.

“Kaya musim buah,” sahut Praveen melengkapi kata-kata Debby.

Di lapangan, keduanya saling melengkapi, sebagaimana diuraikan Debby dan Praveen. 

Praveen, dengan “pukulan-pukulannya yang cantik” dan tenaganya yang kuat, dan Debby dengan komunikasinya yang bisa menyemangati, khususnya saat mereka tertinggal poin-poin dari pihak lawan, mendorong keduanya memberikan permainan terbaik mereka di pertandingan. 

https://www.rappler.com/tachyon/r3-assets/8DCF566620A04E82AF76AC9F71C9AA60/img/17F844F320E74C9CAA25A44FEDE2F1DB/000_APH1238252.jpg‘);”>

SALING MELENGKAPI. Praveen Jordan dan Debby Susanto saling menyemangati dalam pertandingan semifinal melawan duet Tiongkok di Asian Games 2014 di Incheon, Korea Selatan. Foto oleh Roslan Rahman/AFP

Menuju Olimpiade Rio 2016

Pada April 2016, usai Badminton Asia Championship, Debby dan Praveen mencapai target mereka untuk lolos kualifikasi menjadi atlet yang berlaga di Olimpiade Rio 2016. 

Saat itu, mereka merasa lega karena berhasil menembus target awal, serta sangat antusias dan senang karena akan bermain di Olimpiade. 

“Antusias dan yang pasti bangga luar biasa karena kan atlet, atlet mana sih yang enggak mau main di Olimpiade,” kata Debby. 

Karena harus mempersiapkan diri untuk berlaga di Olimpiade, latihan mereka menjadi lebih berat dan padat daripada biasanya.  

“Sebelum-sebelumnya mungkin kalau kita pertandingan gitu, pertandingan selain Olimpade ya, dalam satu minggu paling kita satu hari atau setengah hari yang programnya turun. Kalau ini enggak, kita jadi di-push terus,” kata Debby.

“Mau capek juga programnya tetap. Ibaratnya, ‘Udah lu telen aja abisin aja semua’. Ya, tapi gimana pun juga itu kan buat kita ya,” ujarnya.

Praveen menambahkan, “Kita kan baru sekali (Olimpiade Rio adalah Olimpiade pertama mereka, -red), dan belum tahu kondisi dan situasi kalau main di suasana Olimpiade jadi kita persiapin diri kita masing-masing sebaik mungkin.”

Target mereka di Olimpiade Rio 2016 adalah bermain dan menunjukkan performa terbaik agar tidak ada penyesalan. “Syukur-syukur kita bisa bawa pulang medali,” tutur Debby. —Rappler.com

https://www.rappler.com/tachyon/r3-assets/8DCF566620A04E82AF76AC9F71C9AA60/img/A7A15F381DD642ABB8C1B3EF21F194CB/000_Hkg10178989.jpg‘);”>

SELALU BERSAMA. Penampilan Praveen/Debby saat melawan pasangan Denmark Mads Pieler Kolding/Sara Thygesen dalam Piala Sudiman 2015 di Dongguan, Tiongkok. Foto oleh Wang Zhao/AFP

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.