Greysia/Nitya rela berkorban demi emas di Rio

Jennifer Sidharta
Greysia/Nitya rela berkorban demi emas di Rio
Berbekal pengalaman dan persiapan yang matang, Greysia/Nitya siap menghadapi lawan-lawannya di Olimpiade Rio 2016

JAKARTA, Indonesia — Dalam Olimpiade Rio 2016, pasangan ganda putri bulu tangkis Indonesia, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari, menjadi salah satu yang diunggulkan untuk mendapatkan medali.

Dengan pengalamannya di Olimpiade London 2012, Greysia berharap persiapannya kali ini lebih matang dan bisa memberikan hasil yang jauh lebih baik dari empat tahun lalu.

Sementara bagi Nitya yang baru pertama kali ikut Olimpiade, tentunya pengalaman ini tidak akan disia-siakan. 

Mereka berharap seluruh pengorbanan selama persiapan mejelang Olimpiade dapat memberikan hasil yang maksimal dan membanggakan Indonesia.

BERTEMAN BAIK. Greysia dan Nitya telah saling mengenal sejak kecil. Foto oleh Dennis Tumiwa/Rappler     

Mengenal bulu tangkis sejak kecil

Greysia lahir di Jakarta pada 1987, sementara Nitya lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 1988.

Keduanya telah saling mengenal sejak kecil, tetapi Olimpiade Rio 2016 adalah Olimpiade pertama mereka sebagai pasangan ganda putri di cabang olahraga bulu tangkis. 

Sejak berusia 5 tahun, Greysia, yang akrab disapa Grace, gemar bermain bulu tangkis di depan rumah. 

“Dari kecil memang tertarik,” tutur Grace kepada Rappler di sela-sela latihan jelang Olimpiade beberapa waktu lalu.

“Mau menekuni bidang bulu tangkis hingga akhirnya diseriusin gitu dan ada prestasi waktu pas remaja, beranjak dewasa gitu, jadi diterusin sebagai karier,” akunya.

Sementara, Nitya, yang sering disapa Titin, awalnya ikut kakak sepupunya les bulu tangkis. Ternyata, ia menyukai olahraga ini hingga menekuninya sampai sekarang. 

“Memang dari keluarga saya ada darah olahraga, juga terus ditambah lagi waktu kecil kan suka liat kayak Ci Susi [Susanti], Kak Rexy [Mainaky] main, jadi lebih terinspirasi untuk bisa seperti mereka,” tutur Nitya merujuk pada legenda bulu tangkis Indonesia yang pernah meraih medali di Olimpiade.

Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari saat berlatih di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta, jelang keberangkatannya menuju Rio de Janeiro, Brasil. Foto oleh Prasetyo Utomo/ANTARA      

Cedera sebagai momok menakutkan

Bagi Greysia, hal yang paling menakutkan bagi atlet bukanlah kalah atau gagal, melainkan cedera. Lantaran sejak kecil ia sudah menempatkan bulu tangkis sebagai prioritasnya dan menomorduakan hal lain, termasuk sekolah. 

Nitya menambahkan saat mengalami cedera pasti ia merasa terpuruk, dan mengkhawatirkan pertandingan bulutangkisnya.

“Namanya cedera, setiap atlet pasti ada cederanya gitu, cuma kembali lagi motivasi kita untuk ada di sini untuk apa,” kata Nitya.

Olimpiade Rio 2016 adalah Olimpiade pertama Nitya, dan Olimpiade kedua Greysia, yang sebelumnya berlaga di Olimpiade London 2012 bersama Meiliana Jauhari. 

Greysia meyakini kali ini secara teknik dan mental, ia dan pasangannya lebih matang sehingga mengharapkan bisa tampil dengan kekuatan maksimal dan performa puncak di Olimpiade 2016. 

“Secara pribadi, ini salah satu goal saya dalam bulutangkis selama ini,” tutur Nitya, menambahkan bersama Greysia, ia telah memberi fokus dan persiapan maksimal agar bisa mencapai yang terbaik di Olimpiade Rio.

JELANG OLIMPIADE. Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari  berpose bersama sang pelatih Eng Hian. Foto oleh Dennis Tumiwa/Rappler       

Lebih stres jelang Olimpiade

Saat menghadapi pertandingan biasa, setiap bulan keduanya melalui turnamen dan menurut Greysia itu lebih membuatnya merasa stres karena mereka harus mengejar poin untuk masuk kualifikasi Olimpiade Rio 2016. 

Kini setelah dipastikan menjadi atlet Olimpiade Rio, mereka punya waktu banyak untuk membenahi kelemahan mereka.

“Maksudnya kita mau evaluasi semua, terus kita menguatkan juga, banyak waktu untuk kita bisa menguatkan secara sisi fisik dan juga tekniknya gitu serta mental,” ucap Greysia.  

Berdasarkan pengalamannya, Greysia merasa tantangan terbesar bukanlah lawannya melainkan dirinya sendiri.

“Ini pertandingan besar, jadi otomatis harus bisa mengontrol diri kita sendiri. Jadi buat saya, buat kita, lawan terbesar kita nanti, lawan terhebat kita adalah gimana caranya kita bisa unggulin diri kita sendiri, bisa memenangkan emosi kita di saat kita bermain nanti di sana,” ujarnya.

Nitya dan Greysia menargetkan bisa menyumbang medali bagi Indonesia, khususnya medali emas. 

Terinspirasi Susi Susanti

Bagi orang yang ingin menjadi atlet, menurut Greysia, yang terpenting adalah adanya kemauan dan kecintaan pada olahraga karena menekuni bidang olahraga membutuhkan banyak pengorbanan.

“Kalau kita jadi. Kalau kita enggak jadi, kita mau jadi apa?” ucapnya berapi-api.

“Di sini kita tuh bukan sekedar hobi, tapi benar-benar ini kerjaan kita, ini passion kita, dan ini hobi kita.”

Bagi Nitya, ada sosok pemain bulutangkis yang menginspirasinya, yaitu Susi Susanti. “Karena di lapangan semangat juangnya enggak pernah padam, jadi terus walaupun ketinggalan jauh dia tetap semangat aja,” ungkapnya.

Greysia juga mengidolakan Susi karena ia bisa menjadi juara dan memiliki kehidupan di luar olahraga pada saat yang bersamaan. 

“Kita tahu sekarang bahwa jadi cewek tuh susah banget, mengimbangi dengan kita olahraga, karena sewaktu kita tahu juga dia udah punya keluarga, dan kita tahu dia punya kehidupan di luar olahraga, dengan mengimbanginya itu, harus dua gitu, kita benar-benar memilih, berkorban,” urai Greysia.

Mendeskripsikan pasangannya, Greysia menyatakan Nitya adalah sosok yang pantang menyerah dengan keadaan. Sementara bagi Nitya, Greysia adalah seorang yang sangat ceria dan suka bercanda, dan sifatnya itu cocok dengannya di lapangan. 

“Dengan semangatnya yang tinggi di lapangan jadi di saat saya ngerasa aduh saya mati-mati sendiri, nah dia nyemangatin itu yang jadi tambah saya, ‘Oh iya, saya bisa bangkit lagi’,” kata Nitya. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.