Mimpi Indonesia jadi negara penghubung keuangan syariah di ajang WIEF

Santi Dewi
Mimpi Indonesia jadi negara penghubung keuangan syariah di ajang WIEF
Indonesia memiliki kombinasi penduduk Muslim dan warga kelas menengah yang besar, sehingga menjadi daya tarik sebagai tempat ideal untuk berinvestasi

JAKARTA, Indonesia – Ajang Forum Dunia Ekonomi Islam (WIEF) ke-12 resmi dibuka oleh Presiden Joko “Jokowi” Widodo di Jakarta Convention Centre (JCC) pada Selasa, 2 Agustus. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 100 negara itu dimanfaatkan Indonesia untuk menunjukkan negara kepulauan itu tempat yang ideal untuk berinvestasi.

Terlebih Indonesia memiliki jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan kelas menengah yang cukup besar.

“Dengan kombinasi penduduk Muslim dan kelas menengah yang besar, Indonesia berpeluang menjadi negara penghubung bagi keuangan berbasis syariah,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani sebagai Ketua Panitia ketika memberikan keterangan pers pada Selasa, 2 Agustus.

Selain itu, kata Sri melalui ajang ini Indonesia ingin menunjukkan banyak pengusaha perempuan yang bisa lahir di negara yang mayoritas penduduknya Muslim. Menurut Sri selama ini terbentuk persepsi bahwa perempuan tidak memiliki kesempatan yang cukup di negara Muslim.

“Di sini, kami bisa menunjukkan perempuan tidak hanya bertindak sebagai buyer tetapi juga produser,” tuturnya.

Peluang komunitas Muslim

Dalam pidato pembukanya, Jokowi menyebut komunitas Muslim memiliki peluang yang lebih besar untuk memajukan perekonomiannya di saat kondisi ekonomi global masih belum pulih pasca krisis tahun 2008 lalu. Menurut mantan Gubernur DKI Jakarta itu, masyrakat Muslim memiliki demografik terbaik dibandingkan dengan agama lain di dunia.

“Komunitas Muslim memiliki populasi anak muda tertinggi. Rata-rata usia anak muda yang beragama Muslim itu berumur 23 tahun, sedangkan rata-rata usia anak muda yang non Muslim berumur 30 tahun,” kata Jokowi.

Perbankan syariah pun, ujar Jokowi juga bernilai multi triliunan. Kini fashion Muslim, kuliner dan arsitektur berkembang secara cepat dan memiiki potensi untuk menciptakan tatanan dunia.

Pendapat serupa disampaikan oleh Perdana Menteri Malaysia Najib Tun Razak yang ikut menjadi pembicara kunci di ajang WIEF 2016. Berdasarkan data yang dia miliki, tingkat perekonomian Muslim di dunia meningkat hampir dua kali lipat secara global pada tahun 2014-2015. Tingkat konsumsi Muslim diprediksi akan menyentuh US$2,6 triliun pada tahun 2020.

Fakta tersebut turut berpengaruh kepada kawasan ASEAN yang sebagian besar penduduknya merupakan komunitas Muslim. Pertumbuhan ekonomi (GDP), kata Najib, bahkan mencapai 4,5 persen pada tahun lalu. Hal ini menjadi anomali di saat perekonomian global tengah mengalami kelesuan.

Tantangan umat Muslim

Perdana Menteri Malaysia Dato Sri Mohd TANTANGAN UMAT MUSLIM. Najib Tun Abdul Razak menyampaikan pidato yang salah satunya berisi tantangan umat Muslim dalam perekonomian global saat pembukaan World Islamic Economic Forum (WIEF) Ke-12 di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa, 2 Agustus. Foto oleh Widodo S. Jusuf/ANTARA

Kendati disuguhi fakta positif, tetapi tidak bisa dipungkiri komunitas Muslim masih dihadapkan dengan beberapa masalah. Di antaranya keterbatasan akses terhadap pendidikan, kemiskinan, pengangguran dan juga perang. Belum lagi ancaman teroris yang mengatasnamakan Islam untuk melakukan tindakan keji kepada manusia.

“Tidak ada satu pun ajaran Islam yang dibawa oleh kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Itu sebabnya penting bagi mayoritas umat Muslim untuk mengutuk mereka,” kata Najib.

Selain itu, Najib turut menyerukan kepada umat Muslim untuk melawan semua kebohongan yang telah disampaikan ISIS mengenai Islam.

“Kita juga harus melawan upaya mereka untuk mencuci otak para pemuda kita dan mengambil keuntungan dari sana. Malaysia tegas menyatakan perlawanan terhadap ISIS dan kaki tangannya,” ujarnya lagi.

Oleh sebab itu, Pemerintah Malaysia membentuk satu organisasi bernama Regional Digital Counter-Messaging Communications Centre (RDC3) di luar ibukota Kuala Lumpur. Tujuannya tak lain untuk melawan propaganda ISIS melalui media maya.

Berdasarkan data yang dimiliki otoritas Malaysia, sebanyak 95 hingga 98 persen warga Malaysia diketahui direkrut melalui media sosial. Saat ini, ada sekita 47 warga Malaysia yang diketahui telah bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah.

Kehadiran Najib di forum WIEF menarik perhatian media lantaran namanya masih dikait-kaitkan dengan skandal korupsi perusahaan investasi 1MDB. Pada Senin 1 Agustus, Najib dan Jokowi telah menggelar pertemuan bilateral di Istana Negara. Terdapat 3 isu strategis yang dibahas oleh kedua pemimpin dalam forum konsultasi bilateral tahunan itu.

WIEF ke-12 akan digelar hingga hari Kamis, 4 Agustus. Diharapkan dalam tiga hari pertemuan itu, bisa membuka peluang bisnis dan menjalin kemitraan di dunia Islam antara para pemimpin negara, industri, akademisi, para ahli dan manajer perusahaan.

Selain dihadiri oleh PM Najib, WIEF ke-12 turut diikuti oleh Presiden Tajikistan, Emomali Rahman, Presiden Republik Guinea, Alpha Conde, dan Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Shriyan Wickremesinghe. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.