Gruduk Jakarta, perjuangan Bonek “menghidupkan” kembali Persebaya

Mahmud Alexander
Gruduk Jakarta, perjuangan Bonek “menghidupkan” kembali Persebaya
Bonek menagih keadilan kepada PSSI. Mereka ingin timnya diakui.

JAKARTA, Indonesia — Kesetiaan Bonek, sebutan pendukung Persebaya Surabaya, patut diacungi jempol. Sudah sejak 2013 mereka puasa menonton laga di stadion demi membela tim Persebaya yang “asli”.

Ya, Persebaya yang berdiri sejak 1927 (dikenal dengan nama Persebaya 1927) tak bisa berkompetisi sejak tahun itu setelah unifikasi liga antara Liga Primer Indonesia (IPL) dan Indonesia Super League (ISL). Penyatuan liga tersebut adalah konsekuensi setelah Komite Penyelamat Sepak Bola Indonesia (KPSI) pimpinan La Nyalla Mattalitti merapat ke PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia).

Akibatnya, Persebaya 1927 tak bisa tampil di ISL karena dilarang mengikuti playoff tim yang bisa lolos ke ISL.

PSSI justru mengakui Persebaya yang satunya, yang berlaga di Divisi Utama. Persebaya yang tak mendapat dukungan mayoritas Bonek inilah yang kemudian berubah nama menjadi Surabaya United dan kini Bhayangkara Surabaya United.

Alhasil, Bonek saat itu pun bergolak, mereka bersumpah tak akan menonton pertandingan, sampai Persebaya asli bertanding. 

Dan benar, Bonek menjauhi hiruk pikuk dukung mendukung tim di stadion. Tapi itu bukan berarti semangat mereka mati. Bonek ibarat bom waktu yang siap meledak setiap saat. 

Sayup-sayup perjuangan terus mereka lakukan. Mulai dari menolak menonton tim Persebaya ISL, sampai melakukan perlawanan secara hukum. Perjuangan Bonek harus melewati beberapa KLB. 

Saat KLB digelar di Surabaya, pada 17 April 2015, puluhan ribu Bonek mendemo dan menolak KLB PSSI digelar di Surabaya karena menilai organisasi ini adalah sarang mafia dan kepengurusannya gagal mengelola sepak bola. Perjuangan mereka berhasil. Pemerintah semakin yakin untuk membekukan PSSI setelah sederet permasalahan yang tercipta sebelumnya.

Tapi, perjuangan mereka belum selesai. Sebab, PSSI tetap memberi tempat untuk Persebaya yang “palsu”.

Saat PT Persebaya Indonesia mendapatkan hak atas merk dan logo Persebaya dari Kemenkumham, Bonek pun kembali menuntut PSSI dan klub yang mengaku bernama Persebaya dan bernaung di bawah PT MMIB untuk menanggalkan nama tersebut. 

Nama mereka memang akhirnya berganti menjadi Surabaya United, kemudian Bhayangkara Surabaya United. Tapi, di balik itu PT MMIB ternyata masih mengajukan banding atas putusan Kemenkumham dan menggugat PT Persebaya Indonesia yang memegang hak nama Persebaya Surabaya. 

Bonek kembali bersorak gembira, karena Pengadilan Niaga Surabaya pada hari Kamis, 30 Juni lalu menolak gugatan PT MMIB dan menetapkan nama Persebaya Surabaya, merk dan logo adalah hak PT Persebaya Indonesia. Tak puas, MMIB kini melakukan kasasi ke MA.

Berjuang untuk berkompetisi

Apapun hasil dari pengajuan kasasi, itu belum menjadi fokus. Saat ini, mereka berjuang untuk mendapatkan hak klub mereka untuk berkompetisi.

Beberapa kali aksi telah digelar di Surabaya. Mereka tak puas, gerakan pun dilanjutkan ke Jakarta, pada 2-3 Agustus. Itu sekaligus untuk mendapatkan momen gelaran Kongres Luar Biasa (KLB) pada ‎3 Agustus di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta.

Tua-Muda, laki-perempuan ramai-ramai berkorban waktu dan uang, untuk mendukung perjuangan agar Persebaya berkompetisi. Semua lini bergerak, bahkan Bone di luar Jawa dan Indonesia turut menunjukkan perjuangan mereka.

“Kalau tidak bisa hadir fisik, mereka bergerak melakukan donasi untuk gerakan kami ini,” ujar salah satu pentolan Bonek, Hasan Tiro, di Stadion Tugu, Jakarta.

Alhasil dana pun mengalir ke rekening bersama, yang sampai Selasa (2/8) dinihari jumlahnya telah lebih dari Rp 24 juta. Dia yakin, bantuan akan terus mengalir sampai hari H perjuangan Arek Bonek Persebaya asli.

Sejumlah uang masuk dari Malaysia, Swiss, Jerman‎, dan beberapa negara lainnya, karena mendengar perjuangan Bonek dari media sosial. 

Gerakan yang dinamakan #GrudukJakarta itu, ternyata menjadi viral di media sosial. Solidaritas dan rasa rindu mereka akan Persebaya yang berkompetisi, mengalahkan kebutuhan mereka untuk bekerja, bahkan bersekolah.

Beberapa Bonek, benar-benar melakukan estafet, berangkat dari daerah masing-masing, berganti-ganti truk sampai berkali-kali untuk bisa sampai di Jakarta. 

“Saya delapan kali ganti truk dari Nganjuk, akhirnya sampai juga,” ungkap Soleh.

‎Ramadan Oktavianto, adalah Bonek paling kecil yang terlihat di antara bonek-bonek lainnya. ‎Usianya baru 12 tahun, dia berangkat secara estafet, menumpang truk dan pickup.

Dia diarahkan setelah kesasar dan bertemu dengan pendukung PSIS Semarang, Panser. Setelah dibantu, akhirnya dia bisa sampai ke Jakarta.

“Sekolah enggak apa-apa enggak masuk, yang penting bisa ikut Bonek dan Persebaya,” ujarnya polos.

Bermodal Rp 50 ribu, dia berangkat dari Blitar, Jatim, dan hanya pamit dengan neneknya. Sementara ayah dan ibunya telah berpisah.

“Ini masih sisa Rp 20 ribu,” ujarnya dengan lugu. 

Perjuangan ini belum berakhir. Sampai di Jakarta, hanyalah langkah awal Bonek untuk bisa mendorong tim kesayangan mereka, mendapatkan hak berkompetisi setelah dizalimi PSSI. 

Bisakah Persebaya berkompetisi

Salah satu tuntutan Bonek sejak awal berjuang adalah keinginan agar Persebaya yang asli ini, mendapatkan hak kompetisi. Perjuangan lainnya, adalah soal siapa yang berhak atas merek dan logo Persebaya.

Perjuangan yang terakhir, setidaknya sudah dimenangkan oleh Bonek dan Persebaya sampai hari ini. Namun, untuk hak berkompetisi masih harus menunggu persetujuan di Kongres PSSI. 

Saat dikonfirmasi, Presidium Bonek Andi Pecie menyebutkan pihaknya yakin Persebaya bisa berkompetisi, paling lambat pada 2017. 

“Mau main di mana pun, kasta mana pun. Kami tidak masalah. Yang penting hak-hak Persebaya dikembalikan. Harapannya 2017 Persebaya sudah bisa main,” ujar Andi.

Tapi, sebelum itu, aksi akan dilakukan ke arena KLB agar PSSI minimal, mengakui Persebaya karena selama ini, PSSI seperti sengaja menghilangkan tim asal Kota Pahlawan tersebut.

“Persebaya sampai sekarang adalah anggota PSSI. Karena tidak ada satu surat pun yang menyatakan bahwa Persebaya bukan lagi anggota PSSI,” tegasnya.

‎Bonek menurut dia juga siap vis à vis dengan PSSI, ‎agar PT MMIB segera dicoret dan dikeluarkan dari Arena Kongres.  

“Mereka malah mengakui PT MMIB dan inilah konspiratif PSSI. Kami nanti akan meminta kepada PT MMIB keluar dari kongres, karena mereka bukanlah anggota PSSI. Padahal dalam keputusan pengadilan bahwa kami yang menang, yang berhak menggunakan logo Persebaya dan nama. Bukan mereka,” tutur dia.

Melihat peta politik di PSSI saat ini, adanya klub Bhayangkara Surabaya United yang sahamnya sudah menjadi milik Polri, tidak memungkinkan ‎bagi Persebaya untuk memaksakan diri diakui oleh PSSI.

Itu karena adanya settingan besar, untuk bisa menyatukan BSU dengan Persebaya alias merger. Selama masih ada Joko Driyono, maka Bonek sepertinya harus bertahan lebih lama lagi karena mereka memang lebih memilih tim Persebaya palsu untuk tampil kompetisi, sama seperti kasus saat unifikasi Liga IPl-ISL dan kompetisi ISL 2015‎.

Apalagi, saat ini Bonek memiliki dua tuntutan besar, selain meminta berkompetisi, mereka juga meminta PT MMIB untuk tak mengikuti kongres.—Rappler.com

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.