Indonesia

Dua atlet ‘wildcard’ renang Indonesia di Olimpiade berniat buktikan kemampuan

Jennifer Sidharta
Dua atlet ‘wildcard’ renang Indonesia di Olimpiade berniat buktikan kemampuan
Meskipun mendapatkan kesempatan tampil berkat 'wildcard', Glenn Victor Susanto dan Yessy Venesia Yosaputra akan berusaha untuk mengharumkan nama bangsa di Olimpiade Rio 2016.

JAKARTA, Indonesia — Indonesia pada awalnya tidak ikut menyertakan atlet cabang olahraga renang dalam pagelaran Olimpiade Rio 2016, namun Federasi Renang Internasional (FINA) memberikan dua wildcard bagi Indonesia.

Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) pun memilih Glenn Victor Susanto dan Yessy Venesia Yosaputra untuk atlet putra dan putri di Olimpiade tahun ini.

Siapa mereka, prestasi apa saja yang telah keduanya torehkan bagi Merah Putih, serta apa impian mereka di Olimpiade?

DIDIKAN SANG AYAH. Perenang putra Glenn Victor Sutanto berlatih jelang Olimpiade Rio, Brasil, di Jakarta, Jumat, 22 Juli. Foto oleh Wahyu Putro A/ANTARA     

Glenn: Berenang karena disuruh ayah

Atlet yang akan bertanding di gaya kupu-kupu pria 100 meter pada Olimpiade Rio 2016 ini lahir di Bandung pada 7 November 1989.

Ia pertama kali berenang karena disuruh olahraga oleh ayahnya, yang berprofesi sebagai dokter, dan karena ibunya yang hobi berenang. Glenn sempat berhenti berenang, tetapi saat duduk di bangku SMP, temannya mengajaknya berenang untuk mengisi waktu luang. 

Ketika itu, pelatih di klub renangnya menyatakan ia bisa jadi atlet. Sejak itulah ia melanjutkan rutinitas berenang hingga kini ia menyandang status sebagai atlet renang Indonesia. 

Pertama kali ia mengikuti kompetisi renang tingkat internasional adalah saat SEA Games di Jakarta pada 2011. 

“Deg-degan sih, pasti nervous, soalnya mungkin kan biasanya pertandingan cuma sama orang lokal doang, tiba-tiba waktu itu ada dari Singapura, dari Malaysia,” tutur Glenn kepada Rappler, menjelaskan perasaannya kala itu. 

Ia mengaku tidak takut menghadapi cedera, karena ia selalu melakukan pemanasan sebelum berenang. Sepanjang kariernya hingga kini, ia memang belum pernah mengalami cedera parah.

Kalaupun ada yang ditakutinya, itu adalah ketika latihan. “Ada setnya, ada target waktu gitu, ada perasaan, ‘Masuk enggak nih?’ Misalnya kan sebisa mungkin mencapai target apa yang diinginkan sama pelatih,” ucapnya.

OLIMPIADE PERTAMA. Glenn Victor Sutanto berpose usai berlatih jelang Olimpiade Rio 2016. Foto oleh Wahyu Putro A/ANTARA     

Olimpiade pertama 

Olimpiade di Brasil pada Agustus nanti adalah Olimpiade pertama bagi Glenn. 

“Waktu itu saya ingat, saya lagi di Bandung. Saat itu sehabis pertandingan dari Perancis, jadi ketemu keluarga. Sudah lama enggak ketemu keluarga, terus dikabarin sama Coach Albert kalau terpilih untuk Olimpiade,” kata Glenn, merujuk kepada pelatih renang PRSI, Albert Susanto. 

“Seneng sih, soalnya ini kan event terbesar untuk olahraga.”

Sebelumnya Glenn dan beberapa atlet renang Indonesia lainnya menargetkan diri agar bisa lolos babak kualifikasi Olimpiade, tetapi mereka tidak berhasil. Namun FINA kemudian memberikan dua wildcard bagi Indonesia.

“PRSI memilih wildcard dan saya kepilih. Ya, merasa senang aja bisa dipilih,” aku Glenn. 

Senang dan bangga dirasakan Glenn karena ia bisa mewakili Indonesia di Olimpiade. Namun, perbedaan latihannya untuk mempersiapkan diri mengikuti Olimpiade dengan latihan biasa adalah meningkatkan race pace

“Karena waktunya sudah dekat sama Olympic, jadi kita cuma me-maintain yang kemarin kita latihan biasa,” ucapnya.

Tantangannya di Olimpiade Rio, menurut Glenn, adalah perbedaan waktu 10 jam antara Brasil dengan Indonesia. Perbedaan itu dikhawatirkannya dapat memengaruhi jam biologisnya, khususnya saat pertandingan berlangsung.

“Target pribadi [di Olimpiade Rio] sih saya ingin memperbaiki waktu pribadi aja, sih,” kata Glenn, menambahkan bahwa catatan waktu terbaiknya adalah 52,90 detik untuk gaya kupu-kupu 100 meter.

Berharap renang jadi sepopuler olahraga

Kenangan paling berkesan sepanjang kariernya sebagai atlet renang adalah saat bertanding melawan perenang dunia di Kejuaraan Dunia Perancis Terbuka 2016.

“Biasa kan kita cuma lihat [para perenang dunia] di YouTube, ini berkesempatan untuk race bareng mereka,” ungkap Glenn. 

Untuk menjadi seorang atlet, menurut Glenn, dibutuhkan disiplin. Ia menyatakan optimistis dengan masa depan olahraga renang di Indonesia, selama ada pembinaan.

Glenn menyatakan ia sering terinspirasi oleh kata-kata atlet lain. “Terus mungkin saya lihat dedikasi mereka, disiplin mereka itu sangat luar biasa,” ujarnya. 

Menurutnya, walau renang tidak sepopuler olahraga lain seperti sepak bola, renang adalah olahraga yang tidak rentan cedera dan tidak ada beban, bahkan atlet lain banyak yang memilih renang untuk memulihkan diri dari cedera. 

“Kalau bisa anak-anak yang kecil mungkin coba mulai dikenalkan sama olahraga renang karena di luar negeri kayanya semua anak kecil start-nya dari berenang,” ucapnya.

Glenn sendiri pernah merasa terpuruk dan ingin berhenti jadi atlet, terutama karena ia merasa jenuh sebab latihannya rutin sejak pagi hingga sore hari. 

“Waktu itu sih saya ingat sama orangtua, soalnya mereka bilang kamu udah sejauh ini, udah mencapai sejauh ini, janganlah berhenti,” akunya, menambahkan bahwa mereka juga mendorongnya mensyukuri apa yang telah ia capai dan menyemangatinya agar tetap terus berusaha.

TERINSPIRASI KAKAK. Yessy Yosaputra awalnya berenang karena mengikuti jejak kakaknya yang memiliki penyakit asma. Foto oleh Wahyu Putro A/ANTARA     

Yessy: Mengikuti jejak kakak

Lain Glenn, lain Yessy. Gadis kelahiran Bandung, 27 Agustus 1994, ini adalah atlet renang kategori gaya punggung perempuan 200 meter.

Awalnya ia berenang karena mengikuti jejak kakaknya, Hans Yosaputra, yang memulai berenang lantaran berpenyakit asma. Kedua kakak Yessy, Hans dan Yuliana, juga menekuni renang. 

Yessy mengaku sangat suka bermain air sehingga ia semakin suka berenang. “Terus udah gitu jadi mulai masuk klub. Pertama kali ikut lomba, lumayan bisa juara ketiga, jadi dari situ mulai senang,” kata Yessy mengenang awalnya ia terjun ke kolam.

Walau mulai berenang sejak berusia 5 tahun, Yessy mulai serius menjadi atlet saat naik kelas dua SMP. “Di situ sudah mulai masuk Pelatda [Pemusatan Latihan Daerah] buat ikut PON [Pekan Olahraga Nasional], terus dari situ mulai masuk Pelatnas juga,” katanya.

Karena kebanggannya bisa mewakili Indonesia di kompetisi internasional, dan senang saat bisa menjadi juara, Yessy menjadi atlet renang. Lomba renang tingkat internasional pertamanya adalah di Singapura. Ia mengaku ketika itu “deg-degan dan lebih tegang” daripada saat bertanding di Indonesia.

Renang, kata Yessy, adalah olahraga yang bisa membantu memulihkan cedera. Menurutnya, kalau ada atlet renang yang cedera, itu terjadi karena latihan fisiknya, bukan ketika sang atlet berenang.

“Kalau olahraga renang, yang ditakutin sih buat saya sih enggak ada, lebih ke tantangannya. Mungkin lebih ke diri pribadi ya, kan kita harus bisa memecahkan rekor terbaik kita,” kata Yessy. 

‘Pengalaman paling berharga sepanjang hidup’

Kesempatan pertama Yessy mewakili Indonesia di ajang Olimpiade adalah saat Olimpiade Rio 2016. Ia mengaku tak menyangka bisa terpilih sekaligus senang karena diberi kesempatan. Lantaran, Yessy mengikuti Olimpiade berkat wildcard yang diberikan FINA dan PRSI. 

“Enggak nyangka banget, lah, apalagi Olimpiade itu makin lama makin susah, buat masuknya aja susah, jadi ibaratnya Indonesia bisa mengambil wildcard, terus pilih perempuannya saya,” urai Yessy. 

“Bangga banget. Bisa dibilang ini pengalaman paling berharga sepanjang hidup.”

Selain terpilih mengikuti Olimpiade, kenangan terbaik Yessy selama menjadi atlet renang adalah saat meraih emas pada SEA Games di Jakarta tahun 2011. 

Seperti Glenn, latihannya tidak banyak berubah dalam rangka persiapan mengikuti Olimpiade, selain ada lebih banyak race pace.

Bagi Yessy, tantangan di Olimpiade nanti adalah suasana dan lingkungan yang berbeda, serta penonton yang lebih banyak. “Sama, paling tantangannya lagi ya harus bisa ngalahin waktu diri sendiri,” katanya.

Di Olimpiade Rio, Yessy menargetkan mencapai catatan waktu yang lebih bagus daripada waktu terbaiknya, 2 menit 15 detik untuk 200 meter gaya punggung.

Disiplin kunci menjadi atlet

Untuk menjadi atlet, menurut Yessy, perlu kemampuan disiplin diri dan menjaga diri. 

“Harus jaga makan, enggak boleh sembarangan, soalnya kan kalau makan sembarangan bisa gampang sakit,” kata Yessy tentang tantangannya sebagai atlet. Pantang makanan yang dimaksud Yessy adalah tak boleh makan gorengan dan makanan ringan. 

“Dan jaga tidur. Kita enggak bisa tidur malem. Tidur membuat kita bisa latihan maksimal, minimal itu harus 8 jam,” urainya. 

Masa depan renang Indonesia, dalam pandangan Yessy, semakin lama semakin bagus. “Progress-nya makin banyak kan, perenang-perenang muda yang semakin kenceng juga.”

Inspirasi

Yessy terinspirasi oleh dua atlet renang, kakaknya yaitu Hans Yosaputra, dan Missy Franklin, perenang asal Amerika Serikat yang lahir pada 1995. 

“Soalnya dia [Missy Franklin] jago banget kan. Dia usianya juga masih muda, sebaya sayalah, enggak beda jauh. Terus tapi dia udah bisa jadi juara dunia, apalagi di nomor gaya punggung. Dia pemegang rekor dunianya,” kata Yessy bersemangat.

Ia mengaku, sebagai atlet, Yessy pernah merasa terpuruk dan ingin berhenti berenang. 

“Pas setelah SEA Games 2011, mungkin sekitar tahun 2013. Waktu mau ke SEA Games berikutnya, sempat merasa down banget, sih. Sempet merasa malas, sudah ingin berhenti berenang,” aku.

Namun, saat itu banyak orang mendukungnya, termasuk kakak dan orangtua Yessy, sehingga sedikit demi sedikit ia menjadi lebih bersemangat dan bisa mencapai prestasinya saat ini. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.