Palarong Pambansa

Pro dan kontra pabrik semen di Pegunungan Kendeng

Rappler.com
Alasan mengapa mereka menolak pembangunan pabrik semen, juga menerimanya.

DONGKRAK AMDAL ABAL-ABAL. Protes terhadap kajian lingkungan yang dianggap palsu terkait pembangunan pabrik semen di Kendeng. Foto oleh Print Woeloeng.

JAKARTA, Indonesia – Perjuangan warga Pegunungan Kendeng, Pati di Jawa Tengah mulai menunjukkan titik terang usai pertemuan dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada Selasa lalu. Hingga setahun ke depan, semua izin terkait pembangunan akan dihentikan hingga KLHS (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) tuntas.

Konflik ini berawal pada tahun 2010, dan terus berlanjut hingga sekarang. Kedua belah pihak yang berseteru adalah Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa, Tbk. lewat anak perusahaannya PT Sahabat Mulia Sakti (SMS).

Ekspansi yang ‘tidak merusak alam’

PT Sahabat Mulia Sakti berencana membagun pabrik semen di Pati dengan total investasi mencapai Rp 7 triliun. Jika tidak ada aral melintang, pembangunan pabrik akan dimulai pada 2017 mendatang. Ketika selesai, pabrik tersebut akan menghasilkan 4,4 juta ton semen per tahun. 

Untuk lahan eksplorasi, Indocement membutuhkan lahan seluas 180 hektare, yang terdiri dari 128 hektare milik masyarakat, dan sisanya milik Perhutani. Pabrik tersebut juga akan menggusur sekitar 300 hingga 400 kepala keluarga.

Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya mengatakan investasinya ini tidak akan merusak alam. “Investasi ini akan memberikan tambahan air bagi masyarakat sekitar sebesar lebih dari 600 ribu meter kubik per tahun,” katanya. 

Selain membangun pabrik semen, perusahaannya juga akan membangun infrastruktur yang merupakan bagian dari CSR. Ia berencana membangun waduk serta embung yang menadah air hujan dan menampung limpahan banjir Sungai Juwana. Daya tampungnya diperkirakan mencapai volume 2,1 juta meter kubik per tahun.

Terkait kecemasan kalau pabrik akan membuat sumber mata air kandas, Christian langsung membantahnya. “Kami selalu menambang di atas muka air. Kalau ada mata air permanen, tidak boleh kami menambang, itu dijaga. Di Cirebon, bahkan ada pemandian air panas yang tidak pernah habis,” kata dia.

Pabrik semen, lanjut Christian, hanya membutuhkan air dalam jumlah sedikit karena produksinya dry-process. Karena itu, Christian mengatakan kalau mereka yang menentang dengan alasan tersebut, sebenarnya kurang pengetahuan dan informasi.

Jika investasi jadi dilaksanakan, ia berharap dampak ekonomi warga bisa bergerak. Sumber pendapatan asli daerah dari sektor penambangan bisa bertambah.

“Cirebon khusus tambang kami setorkan Rp 20 miliar per tahun, karena kapasitas produksinya 4,4 juta ton. Saya harapkan ekonomi setempat bergairah, nanti juga ditambah dengan pajak pekerja dan pajak lain,” ujarnya.

Indonesia tak perlu semen tambahan

Protes Koordinator JM-PPK Gunretno dan warga lainnya tentu saja karena dampak lingkungan. Mereka khawatir akan kehilangan sawah dan mata pencaharian mereka dari bertani bila pabrik tersebut mencaplok wilayah Pati.

“Nanti yang petani jadi buruh, padahal kan tidak sehat. Biarkan kami bekerja dengan alam,” kata Sukinah, salah satu dari 9 Kartini Kendeng yang sempat menyemen kaki sebagai bentuk penolakan di depan Istana Negara pada April lalu.

Mereka juga menuding analisa mengenai dampak lingkungan yang dibuat oleh perusahaan sebagai palsu. Ada manipulasi data oleh para penyusun dokumen dengan tidak benarnya prinsip-prinsip Amdal seperti yang dijelaskan oleh Suryo Adi Wibowo dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Salah satunya adalah jumlah keberadaan gua, ponor, dan mata air yang tidak sesuai. Dalam AMDAL jumlah gua disebutkan ada 9 padahal di lapangan ada 64 gua, untuk mata air disebutkan ada 40 namun di lapangan tercatat ada 125 sumber mata air, kemudian dalam AMDAL tidak menyebutkan adanya ponor namun kenyataannya terdapat 28 titik ponor.

Suryo mengatakan kalau Pulau Jawa sudah tidak lagi layak untuk industri yang banyak menggunakan air. Semen adalah salah satu di antaranya.

“Sudah harus mulai beralih ke yang lain,” kata dia.

Selain itu, kawasan karst Kendeng masih berpotensi menjadi sumber air bersih, yang akan musnah bila ada pabrik semen. – Rappler.com

BACA JUGA: