Permohonan anak SMP kepada Menteri Muhadjir

Ilman Patria Nasution
Permohonan anak SMP kepada Menteri Muhadjir
Apakah dulu, waktu masih seumuran kami, Pak Menteri tidak punya impian seperti kami ini?

Baru-baru ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengeluarkan wacana full day school. Adik saya yang masih di SMP, mewakili teman-temannya, memohon kepada Pak Menteri yang terhormat untuk tidak membuat kebijakan yang ‘aneh-aneh’ lagi. Berikut isi permohonan mereka:

Pak Menteri, kami murid-murid SMP, dengan berat hati tidak setuju dengan wacana untuk meminta kami seharian di sekolah. Kami, dengan berat hati, sudah cukup letih pulang sekolah jam setengah 4 sore. Bukannya kami pemalas, atau seperti yang Pak Menteri bilang kalau kami adalah generasi lemah dan tidak tahan banting, kami hanya tidak paham mengapa kami harus seharian di sekolah.

Kami jam 7 pagi sudah harus hadir di sekolah, belajar, pulang setengah 4 sore, dan sekarang Pak Menteri meminta kami untuk lebih lama lagi di sekolah.

Pagi-pagi di sekolah, guru menyuruh kami untuk berdoa padahal kami tidak paham makna dari doa itu sendiri. Kami hanya berusaha menuruti perintah guru kami. Jika kami bertanya, kami tidak mendapat jawaban yang pasti. Jika pertanyaan kami sedikit menyimpang, malah ada guru yang memarahi dan menghukum kami. 

Setelah itu, kami belajar di kelas dan lagi-lagi kami harus menerima bulat-bulat apa yang guru kami sampaikan. Kami tidak paham belajar fisika itu buat apa, begitu juga dengan matematika. Kami tidak tahu apa yang kami lakukan di sekolah. Kami hanya bisa terheran-heran ketika Stephen Hawking yang hebat itu di filmnya bisa mengatakan, ’Fisika dan matematika bisa menjelaskan apa yang terjadi di alam.’ Kami tidak bisa melihat itu ketika guru kami mengajar di depan kelas.

Kami berharap bisa menikmati apa yang kami terima dari guru, tetapi itu saja kami tidak bisa dapatkan di sekolah. Apakah kami sebodoh itu, Pak Menteri?

Pak Menteri, kami tidak lemah dan kami generasi yang suka belajar. Kami suka belajar bermain bola bersama teman-teman di sekitar rumah kami. Kami suka belajar musik dari koleksi lagu-lagu ayah kami di rumah. Kami suka belajar membuat film dengan menonton film favorit kami, seperti Star Wars sebagai contohnya. Kami ingin seperti Lionel Messi, Pak Menteri. Kami juga ingin menjadi legenda seperti  the Beatles. Kami ingin membuat film keren yang bisa mengalahkan Star Wars. Semangat untuk mencapai impian inilah yang membuat kami menjadi generasi yang kuat, Pak Menteri. Kami yakin bisa menunjukkannya melalui karya-karya terbaik kami. Kalau kami sampai sore di sekolah, pulang sudah letih, lalu kapan kami bisa mengejar semua impian kami?

Apakah dulu, waktu masih seumuran kami, Pak Menteri tidak punya impian seperti kami ini? Apakah Pak Menteri dulu punya keberanian untuk bisa menjadi seperti Diego Maradona, misalnya?

Belum lagi ada beberapa orang tua dari teman-teman kami yang begitu ambisius. Banyak dari kami yang pulang sekolah, bukannya pulang ke rumah, malah lanjut mengikuti bimbingan belajar. Masih ada orang tua kami yang memaksa anaknya harus bisa dapat nilai bagus di sekolah.

Kami tidak masalah, kok, jika harus mengikuti sekolah sampai siang. Kami mau, kok, mengikuti pelajaran yang disampaikan guru kami. Kami tahu itu suatu saat akan bermanfaat untuk kami di masa depan, seperti yang orang tua kami sering katakan.

Hanya saja, seharian di sekolah ini terasa membuang-buang waktu dan tenaga kami. Kami butuh waktu untuk bermain di rumah, bermain bersama teman-teman kami, dan waktu untuk kami belajar hal-hal baru yang menyenangkan dari lingkungan sekitar. Sebelum kami terlalu sibuk mengejar impian seperti yang dilakukan kakak-kakak dan orang tua kami.

Demi Lionel Messi, the Beatles, Star Wars, peneliti, penulis kelas dunia, apapun itu cita-cita dan keinginan kami, kami cuma ingin jam sekolah yang lebih singkat.

Terima kasih, Pak Menteri. Maafkan jika kami lancang.

Kurang lebih inilah permohonan mereka kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang baru, Muhadjir Effendy. – Rappler.com

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.