Warga Pamulang merajut kebersamaan dalam perayaan kemerdekaan

Agnes Elisa
Sebagian besar anggota panitia perayaan adalah anak-anak yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Mereka berhasil membuat tema kebersamaan menjadi kenyataan.

Sejumlah penyandang disabilitas mengikuti upacara bendera HUT Kemerdekaan ke-71 di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, Jawa Barat, Rabu, 17 AGUSTUS. Foto oleh Antara/Agus Bebeng/aww/16.

TANGERANG, Indonesia – Beda komunitas, beda juga waktu dan cara merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71.

Kalau warga Indonesia lain merayakan hari kemerdekaan ke-71 pada hari Rabu ini, warga Komplek Permata Pamulang di Tangerang, Banten sudah merayakannya pada 14 Agustus lalu, atau tiga hari lebih awal.

Alasannya?

“Ya, untuk menghindari (mengakomodasi) orang-orang yang (mengikuti) upacara bendera atau (terpaksa) kerja pada tanggal 17 (Agustus) saja sih,” kata Jabal Iman selaku ketua panitia.

Kebetulan, tanggal 14 Agustus 2016 jatuh pada hari Minggu.

Dan pertimbangan Jabal dan 18 anggota panitia lain tidak meleset. Pada hari H, warga Komplek Permata Pamulang berbondong-bondong ke tempat acara. Antusias para warga untuk mengikuti lomba juga sangat tinggi.

 

Warga dari berbagai umur – anak-anak, remaja, dan dewasa – ikut lomba.

 

“Yang ikut kisaran dari TK, SD, SMP sampai bapak-bapak (dan ibu-ibu). Mereka bisa ikut karena kita mempunyai kategorinya masing-masing,” kata Jabal.

 

Mereka juga sangat menikmati jalannya lomba. Acara penuh dengan gelak tawa dan semangat dari warga Pamulang.

Untuk tahun ini, perayaan 17-Agustusan agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Mereka merayakannya dengan hiasan penuh warna-warni. Selain hiasan baju merah-putih, mereka juga menghiasi tiang bendera dengan mengecap tangan memakai cat berwarna seperti merah, kuning, hijau dan menempelkannya di tiang sebagai salah satu hiasan kemerdekaan.

Lomba yang diadakan juga memiliki variasi yang berbeda dari tahun sebelumnya.

“Ada 12 perlomba. Ada (lomba) mewarnai, memasak nasi goreng, sepeda lambat, memasukan bendera ke dalam botol, estafet air, voli air, tarik tambang, bakiak racing, memindahkan karet dengan sedotan, missing lyrics, merias wajah, dan mencari koin di papaya,” kata Jabal.

“Tahun lalu beberapa lomba belum diadakan seperti memasak nasi goreng, sepeda lambat, merias wajah, dan missing lyrics. Tapi pas di tahun ini lomba-lomba tersebut diadakan karena kita ingin mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan di tahun-tahun sebelumnya,” kata Jabal.

Lomba makan kerupuk dan lari karung yang biasanya mewarnai perayaan 17-Agustusan tidak ada dalam daftar lomba.    

Menariknya lagi, sebagian besar anggota panitia perayaan yang berjumlah 19 orang itu adalah anak-anak yang masih duduk di bangku SMP dan SMA. Dan menurut Jabal, anggota generasi muda itu berhasil membuat tema kebersamaan menjadi kenyataan di sekitar Komplek Permata Pamulang.

Jabal juga menambahkan bahwa dengan ikut merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia, warga Pamulang menjadi lebih aktif di komplek dan peduli akan bangsa Indonesia.

Dan dengan modal kebersamaan dan kepedulian itu, Jabal dan generasi mudanya kini mempunyai mimpi untuk membangun gapura di komplek tersebut sebagai tanda pintu gerbang kampung.

“Tujuan saya setelah ini adalah memasang gapura karena saya belum sempat memasang gapura tahun ini,” kata Jabal. – Rappler.com