JAKARTA, Indonesia – Pemerintah Filipina akhirnya memulangkan 168 calon jemaah haji asal Indonesia yang sempat tertahan di kantor imigrasi Bandara Internasional Ninoy Aquino, Manila pada Minggu, 4 September. Sebanyak 110 calon jemaah diterbangkan langsung ke Makassar, sedangkan 58 orang sisanya dipulangkan melalui Jakarta.
Keluarga calon jemaah haji pun ikut menunggu di gedung terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta untuk menjemput mereka. Mereka dipulangkan dengan menggunakan maskapai Air Asia dan diperkirakan tiba sekitar pukul 14:10 WIB.
Dari sekian banyak anggota keluarga yang menanti, Rappler bertemu dengan Gian, adik dari salah satu calon jemaah haji yang masih tertahan di Manila, Filipina. Pemerintah Filipina membutuhkan kesaksian dari 9 calon jemaah haji Indonesia untuk membuktikan bahwa mereka korban dan bukan bagian dari sindikat pengiriman calon jemaah haji dengan dokumen ilegal.
Biro perjalanan memberikan mereka paspor Filipina asli walaupun diperoleh dengan cara ilegal.
“Kakak saya yang bernama Anton Kapriyatna sudah tahu sejak awal diberangkatkan ke Saudi dengan menggunakan paspor Filipina. Berdasarkan informasi dari warga tempat tinggal kami, cara itu selalu sukses dan sudah berlangsung 4 tahun,” ujar Gian yang bermukim di Parung Panjang, Bogor pada Minggu, 4 September.
Baru kali ini saja, upaya itu terkuak oleh otoritas setempat.
Anton, kata Gian memperoleh informasi bisa naik haji melalui Filipina dari rekannya yang sudah pernah naik haji. Dia tidak tahu nama biro perjalanan haji yang direkomendasikan oleh rekan Anton.
“Tetapi, biaya yang dikeluarkan kurang lebih mencapai Rp 140 juta dan ONH plus. Itu juga diperoleh dengan cara meminjam,” tutur Gian.
Maka Anton merasa terkejut ketika tiba di Bandara Manila pada Kamis, 18 Agustus, mereka malah dicegat oleh otoritas imigrasi Filipina. Sementara, keluarga baru tahu keesokan harinya sekitar pukul 14:00.
“Saya tahu dari kakak saya sendiri, dia ditahan karena menggunakan paspor Filipina. Dia mengaku bingung mengapa ditahan oleh pihak imigrasi. Sementara, pihak biro travel hanya diam dan tidak bertanggung jawab,” katanya lagi.
Karena tidak ada yang berani berkomunikasi dengan otoritas setempat, akhirnya Anton menawarkan diri untuk berbicara dengan otoritas imigrasi.
“Dia mengatakan bersedia untuk diinterogasi oleh imigrasi asal 176 calon jemaah haji lainnya diberikan makanan. Kakak saya itu kasihan melihat kondisi mereka,” tutur Gian menirukan kalimat kakaknya.
Salah satu alasan Anton yang dimintai keterangan, kata Gian, karena dia cukup fasih berbahasa Inggris.
Atas bantuan KBRI Manila, 177 calon jemaah haji itu akhirnya bisa dipindahkan ke fasilitas yang ada di KBRI sambil menunggu proses verifikasi selesai. Mabes Polri berjanji akan mengungkap pelaku dan sindikat yang memberangkatkan calon jemaah haji melalui Filipina itu.
Sementara, bagi ratusan calo jemaah haji, impian mereka untuk ke Tanah Suci terpaksa pupus. Kementerian Agama mengatakan 177 calon jemaah haji itu sudah tidak bisa berangkat ke Arab Saudi untuk menunaikan ibadah haji. – Rappler.com
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.