5 hal penting dari sosok Rodrigo “Digong” Duterte

Rappler.com
5 hal penting dari sosok Rodrigo “Digong” Duterte
Cara bicara yang ceplas-ceplos dan memerintah dengan gaya informal membuat popularitas Duterte kian dikenal publik

JAKARTA, Indonesia – Nama Rodrigo Duterte mulai mencuri perhatian publik ketika dia maju sebagai calon Presiden Filipina dalam pemilu bulan Mei lalu. Walau tidak diunggulkan, rupanya Duterte berhasil keluar sebagai pemenang dengan meraih 14,8 juta suara. Dia mengalahkan saingan terberatnya, Manuel Roxas.

Gaya bicaranya yang nyeleneh dan ceplas-ceplos membuat popularitas Duterte kian meroket dan bahkan dijuluki “Donald Trump Asia”. Berikut 5 hal mengenai pria yang kerap disapa “Digong” itu:

1. Awali karir dari Walikota

Sebelum menjadi Presiden, Duterte pernah menjadi Wali Kota Davao hingga tahun 1998. Sejak menjadi wali kota, julukan “the punisher” telah melekat di sosok Duterte. Alasannya, Duterte sangat tegas dalam mengatasi tindak kriminal di kota tersebut sehingga membuat ciut nyali para pelaku kriminal di Davao.

Alhasil, angka kriminalitas di kota Davao menurun secara signifikan hingga tahun 2000. Sayang, cara yang dipilih Duterte tergolong kejam. Di bawah kepemimpinannya, banyak orang yang tewas dengan cara misterius.

Beberapa aktivis mengaku bahwa mereka memiliki dokumentasi ratusan pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok penjagal saat Duterte masih menjabat walikota. Dia diduga yang menginstruksikan pembunuhan tersebut. 

Davao sendiri merupakan kampung halaman Duterte. Dia lahir dan dibesarkan di sana.  Duterte juga pernah menjabat menjadi wakil walikota dan anggota kongres di provinsi tersebut.

Walaupun tidak lagi menjabat sebagai wali kota Davao, Duterte menyatakan akan memperketat kebijakannya terutama usai terjadi ledakan yang diduga didalangi oleh kelompok militant Abu Sayyaf.  

2 .Gaya bicara ceplas-ceplos

Selain terkenal tegas dalam menjalankan kebijakannya, popularitas Duterte meroket karena gaya kepemimpinannya yang tidak formal. Gaya bicaranya ceplas ceplos dan kerap melontarkan sumpah serapahnya. Salah satu makian yang sering dia lontarkan yakni “putang ina” atau yang bermakna “anak seorang pelacur”.

Akibat gaya bicaranya ini yang membuat publik ragu terhadap kemampuan berdiplomasi Duterte. Dia pernah memaki siapa pun, mulai dari Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, hingga pemimpin tertinggi umat Katolik, Paus Fransiskus.

Nyalinya yang besar membuat Duterte tidak gentar menghadapi kelompok militant Abu Sayyaf yang berbasis di bagian selatan Filipina. Bahkan, dengan gayanya yang khas, Duterte mengancam akan memakan tubuh para teroris itu dengan menggunakan cuka dan garam.

“Kalian bisa merekrut orang, memperkosa, atau memotong leher tapi kami tak akan membiarkan itu. Kami bisa lakukan itu 10 kali lebih brutal. Saya pertaruhkan kehormatan saya, hidup saya dan jabatan saya selaku Presiden!,” ancam Duterte.

Sementara, dari gaya berpakaian, Duterte cenderung sederhana. Dia jarang mengenakan pakaian formal. Oleh sebab itu, publik Filipina terkejut ketika melihat Duterte mengenakan pakaian formal saat menghadiri KTT ASEAN di Vientiane, Laos.

Menurut sang ibu, Duterte adalah anak yang selalu penasaran dengan hal – hal di sekitarnya, bahkan termasuk anak nakal. Maka, tak heran sang Ibu kerap memberinya hukuman.

Saking nakalnya, Duterte pernah dikeluarkan dari Ateneo de Davao High School. Walaupun termasuk bad boy, Duterte adalah seorang kutu buku yang sangat tertarik buku sejarah Filipina. Dia uga merupakan penggemar berat buku biografi

3. Gagas perang terhadap narkoba

Duterte berjanji kepada rakyatnya akan mengakhiri perdagangan obat-obatan terlarang di Filipina dalam kurun waktu 3-6 bulan mendatang. Hal ini terbukti sejak dilantik dan menjabat pada tanggal 1 Juli, selama pemerintahan Duterte, hamper 3.000 orang telah tewas.

Sementara, lebih dari 4.400 orang yang terkait narkoba telah ditangkap. Duterte juga mengiming – imingi hadiah sebesar 2 juta peso atau sekitar Rp 570 juta kepada siapa saja yang berhasil menangkap polisi atau pejabat yang melindungi gembong narkoba di Filipina.

Namun karena aksi kerasnya ini, Duterte diprotes oleh kelompok pembela HAM seperti Human Right Watch and Amnesty International. Dia dianggap melanggar hak asasi manusia dengan membunuh orang tanpa melalui proses hukum terlebih dahulu. Kampanye anti narkobanya ini juga pernah diprotes oleh organisasi PBB yang mengganggap program, tersebut ilegal.  

Dalam kampanyenya pada 7 Mei lalu di Manila, Duterte menyatakan, “Lupakan hak asasi manusia. Jika saya berhasil masuk istana kepresidenan, saya hanya akan melakukan apa yang telah saya lakukan sewaktu menjadi wali kota dulu. Kalian para pecinta narkoba, tukang sembunyi dan tak mau berbuat apa-apa, lebih baik enyah saja kalian. Karena saya akan bunuh kalian. Saya akan buang kalian semua ke Teluk Manila untuk menggemukkan perut ikan-ikan di sana,”.

Dia bahkan mengancam jika ada yang berani menuduh telah membunuh para pengedar narkoba, maka Duterte bersedia digugat.

“Tetapi, saya juga akan membunuh kalian,” kata Duterte.

4. Hina Presiden Barack Obama

Duterte memulai kunjungan ke acara internasional secara buruk. Sebelum bertolak ke Laos untuk menghadiri KTT ASEAN, dia justru melontarkan kalimat kasar kepada Presiden Amerika Serikat, Barack Obama.

Makian itu dia sampaikan karena mendengar informasi dari media, akan dikonfrontir mengenai caranya memberantas peredaran narkoba.

“Siapa Obama berani menanyakan saya mengenai hal itu? Saya akan bertanya kepada Anda, Anda siapa?”, kata Duterte sebelum bertolak ke Laos.

Alhasil Obama membatalkan pertemuan bilateral dengan Duterte yang semula dijadwalkan pada hari Selasa kemarin. Duterte kemudian mengaku menyesal telah melontarkan kalimat kasar. Dia mengaku enggan dimintai komentar mengenai Obama pasca insiden itu.

Namun, keduanya tetap bertemu pada Rabu, 7 September sebelum dilakukan makan malam. Menteri Luar Negeri Filipina, Perfecto Yasay mengaku bahagia karena pertemuan yang berlangsung singkat itu bisa terealisasi.

“Mereka bertemu di ruang pertemuan dan menjadi orang terakhir yang meninggalkan ruangan tersebut. Saya tidak tahu berapa lama pertemuan di antara keduanya berjalan,” ujar Yasay.

Gedung Putih juga membenarkan pertemuan itu. Perwakilan Gedung Putih menyebut keduanya sempat berbicara dalam suasana yang menyenangkan.

Namun, di bagian akhir KTT ASEAN, Obama mengingatkan Duterte agar mengatasi isu peredaran narkoba dengan cara yang benar.

5. Ancam keluar dari PBB

Tindakan main hakim sendiri dalam program anti narkotika yang diusung oleh Duterte tidak hanya mendapat kecaman keras dari aktivis pembela HAM, tetapi juga dari organisasi PBB. Sekretaris Jenderal PBB memprotes keras kebijakan keras Duerte yang diduga melibatkan aksi pembunuhan tanpa melalui proses peradilan itu.

Protes keras itu kemudian ditanggapi Duterte dengan sengit. Dia meminta agar PBB tidak ikut campur dalam urusan pemerintahannya.

“Mungkin kami akan memutuskan untuk berpisah dengan PBB. Jika PBB tak memiliki rasa hormat, maka kami akan meninggalkan PBB,” ujar Duterte dalam jumpa pers di Davao pada tanggal 22 Agustus.

Tetapi, belakangan ucapan itu diralatnya sendiri. Dia menyebut kalimat itu hanya sekedar lelucon belaka.

“Anda tidak bisa diajak bercanda ya,” ujar Duterte kepada media yang menanyakan tentang keseriusannya akan pernyataannya.

Sebelumnya, Duterte juga pernah menyampaikan komentar pedas terhadap PBB, karena dianggap ikut campur dalam urusan internal Pemerintah Filipina. Dia menyebut PBB dengan kata “persetan”. Menurut Duterte, sebagai organisasi, PBB dianggap gagal memecahkan berbagai isu internasional seperti pembantaian di Afrika Selatan.

Duterte juga mengatakan PBB tidak pernah memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan Filipina. – Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.