
JAKARTA, Indonesia — Timnas U-19 mengulang penampilan mereka sebelumnya. Performa ciamik di babak pertama, melorot drastis di babak kedua.
Dalam laga kontra Thailand di Vietnam Youth Training Center, Hanoi, Rabu, 14 September, terlihat betul bagaimana permainan skuat Garuda.
Andai laga melawan Thailand hanya berjalan 45 menit, maka Indonesia pasti menang. Demikian pula saat melawan Myanmar, andai laga berjalan 45 menit, Indonesia pasti sudah mengoleksi banyak poin hari ini.
Tapi, itulah sepak bola, sebelum 90 menit dan memasuki masa injury time, pertandingan belum berakhir, tim tak boleh berpuas diri dan tak boleh lengah. Harus tetap waspada, tak merasa jumawa dan meremehkan.
Jika tidak, apa yang menimpa skuat Garuda cukup menggambarkannya. Performa apik, rapat, rapi, dan bermotivasi tinggi di babak pertama. Tapi mereka terlalu cepat mencapai klimaks permainan. Di babak kedua, semuanya menjadi anti-klimaks.
Indonesia sejatinya mampu memberikan tekanan kepada Thailand. Mampu melakukan marking dan penyerangan yang terkoordinasi dengan baik, sehingga membuat lawan sempat panik. Dua kesalahan di kotak penalti, membuat mereka dihukum.
Dimas Drajad yang mengeksekusi penalti dengan baik, mampu mencetak gol pada menit ke-14 dan 17. Sementara itu, Sittichok Paso membuat skor imbang pada menit ke-33 dan 46. Kemudian gol penentu Worachit pada menit ke-53 membuat perjuangan Indonesia lolos fase grup semakin berat.
Problem Timnas adalah di lini belakang yang kerap lengah. Selain dua kali keropos di sisi kanan pertahanan, satu gol lainnya disebabkan marking yang tak sempurna terhadap pemain lawan.
Pemain Timnas memang kehilangan sentuhan awal mereka pada babak kedua. Padahal di 45 menit pertama, bisa membuat pemain lawan tertekan sehingga membuat pelanggaran dan memberikan dua penalti yang dieksekusi baik oleh Dimas Drajad.
Tapi, di babak kedua, permainan Bagas Adi Nugroho dkk justru menurun. Mereka mudah terkecoh dan terlampau longgar menjaga pemain lawan.
Harusnya, saat unggul Indonesia bisa lebih tenang dan antisipatif, tidak mengentengkan lawan, yang berujung kekalahan.
Pelatih Eduard Tjong pun mengakui, performa skuat Garuda sempat lengah. “Kita akui masalah di konsentrasi dan sedikit lengah. Thailand main dewasa,” kata Bagas.
Meski demikian, dia menegaskan permainan anak-anak skuat Garuda tidak kalah denganThailand, mereka tetap main fight dan berani menyerang, namun hasil berkata lain.
“Saya tidak kecewa yang jelas melihat permainan anak-anak. Selanjutnya kita lawan Australia kita harus lebih disiplin dan fokus. Apalagi mereka baru saja menang 3-0 atas Myanmar dan postur mereka tinggi-tinggi. Saya minta ke pemain agar tidak meratapi dan cepat lupakan hasil kekalahan ini,” tuturnya.
Demi fokus ke laga lawan Australia, usai main ini skuat Garuda langsung melakukan proses recovery dengan terapi es.
“Karena lawan Australia lusa sore, soal rotasi mungkin ada, saya akan masukkan pemain yang segar dan bugar,” pungkasnya
Melihat hasil, Dimas Drajad mengaku kecewa berat karena sebelumnya sudah unggul bahkan sampai dua gol namun bisa dibalik oleh Thailand. Dia yakin rekan-rekannya telah memberikan yang terbaik.
“Kita sudah berusaha keras dan maksimal. Minta maaf atas kegagalan ini. Tapi kami tidak boleh menyerah, ada tiga laga lagi. Kami fokus saja memenangi tiga laga sisa,” tuturnya. —Rappler.com
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.