Suka duka TKI kirim uang ke kampung halaman

Lita Iqtianti
Suka duka TKI kirim uang ke kampung halaman
Bagaimana sistem pengiriman uang lewat Western Union?

Pernah menonton film Minggu Pagi di Victoria Park? Film yang disutradarai oleh Lola Amaria itu bercerita tentang kehidupan buruh migran Indonesia di Hongkong.

Sebelumnya, saya kerap memandang kehidupan para tenaga kerja Indonesia (TKI) hanya bekerja dan bekerja. Tapi setelah melihat film itu, saya jadi tahu bahwa mereka juga punya waktu hangout bareng sesama TKI, berbelanja, dan tentunya memiliki berbagai intrik saat hidup di luar negeri sana.

Salah satu yang menjadi pusat perhatian pemerintah Indonesia saat ini adalah bagaimana para TKI yang kurang piawai mengatur keuangan mereka. Sehingga pada akhirnya banyak dari mereka yang harus terus bekerja di luar negeri tanpa perencanaan yang matang. 

Padahal, konon idealnya, mereka hanya perlu bekerja selama beberapa tahun untuk kemudian kembali ke Tanah Air dan memiliki modal untuk membuka usaha di daerah asalnya. Ini tentu akan terjadi jika mereka memiliki pengetahuan tentang keuangan.

Ya, itu memang kondisi ideal. Tapi bagaimana kenyataannya?

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan sejumlah keluarga TKI di acara Western Union. Acara ini merupakan tindak lanjut dari kampanye mereka pada Ramadan lalu, yaitu “30 Hari Untuk Kebaikan”.

Jadi, di kampanye ini, mereka mengundi penguna jasa Western Union untuk mendapatkan sejumlah dana pendidikan. Lalu, apa hubungannya Western Union dengan TKI?

Nah, ini menarik sekali.

Bagi kita yang tinggal di kota besar, transaksi keuangan sudah kita rasakan begitu mudahnya. Menerima atau mengirim uang ke luar negeri (entah untuk keluarga atau sekadar belanja online) semudah belanja di Indomaret. Bagaimana dengan para TKI dan keluarganya yang kebanyakan tinggal di pelosok desa, di mana bank tak sebanyak di kota besar, apalagi ATM?

Para TKI ternyata merupakan konsumen terbesar Western Union. Kemudahannya dalam mengirim dan menerima uang, membuat pengiriman uang dari TKI di luar negeri lebih mudah bagi keluarganya.

Kok bisa?

Jujur saja, pada awalnya saya pribadi tidak terlalu mengerti bagaimana sistem pengiriman uang lewat Western Union. Tapi kemarin itu, saya jadi benar-benar paham bagaimana sistem pengiriman uang lewat Western Union. Mudahnya nih, mirip sama sistem wesel pos yang tren di era sebelum 90-an lah.

Lho, memangnya masih ada yang membutuhkan sistem pengiriman uang lewat sistem yang mirip wesel?

Buat kita yang di kota besar, mungkin enggak terlalu butuh. Tapi coba bayangkan saudara-saudara kita, para pahlawan devisa yang bekerja di negeri seberang saat mau mengirimkan uang ke keluarga mereka di pelosok desa yang notabene minim akses perbankan. Dengan sistem yang lebih canggih, keluarga para TKI bisa menerima kiriman uang dari luar negeri hanya dalam hitungan jam!

Balik lagi ke masalah TKI. Berdasarkan hasil survei Western Union terhadap penggunanya, ternyata TKI paling banyak mengirimkan uang ke keluarganya adalah untuk pendidikan anak. 

Tapi mirisnya, ketika saya bertanya ke sejumlah keluarga TKI yang datang menjemput hadiah dana pendidikan dari Western Union mengenai jadwal pengiriman uang dari keluarga yang bekerja di luar negeri, jawabnya, “Eggak tentu mbak. Tergantung majikannya ngegaji mereka kapan,” begitu rata-rata jawaban mereka. 

“Kadang bisa tiga bulan sekali, malah pernah sampai 5 bulan baru digaji. Jadi kakak saya baru bisa kirim uangnya”.

Duh, kalau sudah begini, harus mengadu pada siapa, ya? Kita yang kerja dekat keluarga saja kalau gajian terlambat 1-2 hari sudah ngamuk enggak karuan. Bagaimana dengan mereka? —Rappler.com

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.