Kisah mantan santri Dimas Kanjeng: Barter 200 miliar untuk dapat uang 2 triliun

Syarifah Fitriani
Kisah mantan santri Dimas Kanjeng: Barter 200 miliar untuk dapat uang 2 triliun
Almarhumah Najemiah Muin bergabung ke padepokan Dimas Kanjeng sejak tahun 2013 usai membayar uang mahar sebesar Rp 1,2 juta

MAKASSAR, Indonesia – Santri Dimas Kanjeng Taat Pribadi tidak hanya berada di Provinsi Jawa Timur saja, tetapi sudah menyebar hingga ke area lain, salah satunya di Makassar, Sulawesi Tengah. Tercatat ada sekitar 2.000 lebih santri Dimas Kanjeng di sana.

Seorang perempuan bernama Najemiah Muin diketahui termasuk satu dari sekitar 2.000 santri itu sejak tahun 2013 lalu. Namun, beberapa bulan yang lalu, Najemiah meninggal akibat sakit.

Putra dari Najemiah, Muh Nur Najmul mengaku sejak bergabung ke Padepokan Dimas Kanjeng, almarhumah kerap berkomunikasi secara intens dengan pria yang mengaku bisa menggandakan uang tersebut. Bahkan, Najemiah kerap mengirimkan uang kepada Dimas Kanjeng. Ada yang ditransfer ke akun bank, namun ada juga yang diantar langsung ke Padepokan Dimas Kanjeng di Probolinggo, Jawa Timur.

Namun, Najmul mengaku tak tahu untuk apa almarhumah ibunya mengirimkan uang ke Dimas Kanjeng. Yang dia ketahui untuk bisa bergabung ke padepokan Dimas Kanjeng, calon santri harus membayar senilai Rp 1,2 juta.

Belakangan, Najmul juga baru tahu jika transaksi keuangan antara almarhumah ibunya dan Dimas Kanjeng justru semakin intens. Totalnya, bahkan mencapai sekitar Rp 200,2 miliar.

“Kalau jumlah (uangnya) banyak, maka langsung diantar oleh pihak keluarga. Tetapi, kalau jumlah (uangnya) sedikit, pengiriman melalui bank saja. Ada juga barter yang dilakukan oleh ibu saya dan Dimas Kanjeng kala itu,” ujar Najmul ketika ditemui media pada Rabu, 5 Oktober.

Dia mengaku baru mengetahui santri di sana bisa meminta untuk menggandakan uang kepada Dimas Kanjeng saat almarhumah jatuh sakit. Saat itu, dari padepokan Dimas Kanjeng mengirimkan 9 peti. Isinya berupa uang dan batangan logam emas.

Merasa curiga dengan keaslian emas itu, Najmul kemudian berinisiatif mengetes kadar emas batangan pemberian Dimas Kanjeng. Dia pun terkejut saat tahu semua emas batangan yang disimpan Najemiah tidak ada yang asli.

“Pada waktu itu saya belum berinat melaporkan, karena kami masih fokus merawat ibu yang sedang sakit. Sekarang (setelah ibu meninggal) merupakan waktu yang tepat,” katanya lagi.

Dari kediaman Najemiah, polisi berhasil menyita sekitar 500 kilogram emas batangan palsu. Tetapi, Najmul baru tahu sang ibunda melakukan perjanjian untuk menggandakan uang dengan Dimas Kanjeng hingga mencapai nilai Rp 2 triliun, setelah dia jatuh sakit.

Najmul mengaku sempat curiga dengan peti-peti yang dikirimkan Dimas Kanjeng. Tetapi, dia urung melakukan pemeriksaan karena merasa tidak enak terhadap sang ibu.

Saat ibunya sakit, Najmul menyebut Dimas Kanjeng melalui seorang pesuruhnya sempat mengirimkan beberapa botol air mineral. Kata Dimas Kanjeng, air tersebut merupakan obat yang dapat menyembuhkan penyakit Najemiah.

Namun, usai dikonsumsi habis, Najemiah bukannya sembuh, tetapi menunjukkan tanda-tanda kelainan. Hingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhir.

“Kami tidak bisa menuduh atau berprasangka buruk juga. Ini sudah kehendak Allah SWT,” katanya.

Mahkota Nyi Roro Kidul

Keluarga Najmul kemudian melaporkan kasus ini kepada Polda Jawa Timur. Mereka kemudian mengirim tim penyidik ke kediaman Najemiah di Jalan Sunu, Makassar pada Selasa, 4 Oktober. Penyidik meragukan keaslian uang dan emas yang dikirim oleh Dimas Kanjeng dari Probolinggo.

Menurut Kapolda Sulsel Irjan Pol Anton Charliyan, awalnya Dimas Kanjeng mengirimkan 9 peti ke rumah almarhumah Najemiah. Tetapi, 5 peti telah dikembalikan karena diketahui isinya palsu.

“Uang itu dikirim dari Probolinggo sebanyak 9 peti. Tetapi, ketika diperiksa, keasliannya kami ragukan, sehingga yang 5 peti dikembalikan. Kebetulan, di sini masih tersisa 4 peti,” ujar Anton pada Rabu, 5 Oktober.

Setelah diperiksa, dari 4 peti itu, 3 peti di antaranya berisi emas batangan dan beberapa benda pusaka. Sisa 1 peti lainnya berisi uang dengan mata uang dari beberapa negara.

“Di dalam peti ternyata ditemukan keris dan benda berbentuk mahkota juga. Katanya, itu mahkota dari Nyi Roro Kidul,” tutur Anton.

Keseluruhan benda tersebut akan diuji keasliannya di laboratorium. Hasilnya baru akan diumumkan kemudian.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, 9 peti itu dikirim oleh Kanjeng Dimas usai almarhumah Najemiah mengirim uang senilai Rp 200,2 miliar.

“Jadi (uang) Rp 9 miliar ditransfer lewat bank. Sisanya diantarkan ke Probolinggo. Ini berlangsung dari tahun 2013 hingga 2015 lalu,” kata dia.

Malu untuk melapor

Walau pada faktanya banyak yang menjadi korban penipuan Dimas Kanjeng, tetapi posko yang telah disiapkan oleh Polda Sulsel ternyata sepi peminat. Bahkan, tidak sedikit korban penipuan yang memilih langsung untuk melapor ke Polda Jatim ketimbang ke Polda Sulsel.

Kepala Bidang Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan sudah satu pekan sejak posko pelaporan bagi korban dibuka, tetapi sampai saat ini belum ada laporan yang mereka terima.

“Mungkin mereka malu untuk melaporkan kejadian yang mereka alami. Kemarin, ada satu orang yang mau melapor ke Polda Sulsel, tetapi ujung-ujungnya melapor ke Polda Jatim. Ya, kami mau berbuat apa,” kata Frans.

Dia berharap bagi para korban Dimas Kanjeng Taat di Sulsel, agar tidak malu untuk melapor ke posko di Polda Sulsel. Apalagi diketahui, jumlah santri di Padepokan Dimas Kanjeng di Makassar mencapai lebih dari 2.000 orang.

“Lapor saja, karena kami masih membuka posko pelaporan setiap saat. Memang ini merupakan hak pribadi masing-masing. Tetapi, jangan malu untuk melapor jika memang menjadi korban,” tutur Frans memberi himbauan kepada korban. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.