Filipino movies

Pamer tubuh tidak sama dengan feminisme

Olin Monteiro
Pamer tubuh tidak sama dengan feminisme
Apakah feminisme memang sekadar bisa omong bebas dan bebas pamer tumbuh?

Ketika saya berumur 14 tahun, Madonna baru menjadi superstar dengan lagu hitnya, Like A Virgin. Madonna, si penyanyi dengan rok pendek tutu, stocking, rambut berantakan, kalung salib, bandana pita, jaket jeans, dan gelang bertumpuk. 

Begitulah identitas perempuan pada awal 1980-an. Saat itu rok mini masih dianggap radikal dan gaya Madonna termasuk heboh. Setelah itu, Madonna juga memperkenalkan “bustier” atau bra yang terlihat di balik jaket yang dipakainya. Ketika itu, otomatis Madonna dianggap sebagai simbol feminisme dengan fashion statement yang dianggap “membebaskan” perempuan.

Fast forward ke 2016, para penyanyi dan penampil terkenal pada saat ini, seperti Beyonce, Rihanna, Miley Cyrus, dan lain-lain, punya satu kesamaan dalam berpakaian, hanya memakai wardrobe ala bikini, atau dengan kata lain, bra dan celana dalam. 

Mereka pun langsung dianggap simbol feminisme. Kenapa bisa begitu? Sekarang ini semua superstar dan gaya pakaiannya bisa dilihat langsung melalui akun media sosial masing-masing. Apakah ini memang jadi style zaman sekarang atau sejak kapan? Apakah feminisme memang sekedar bisa omong bebas dan bebas pamer tumbuh?

Tubuh perempuan sudah menjadi komoditas dari industro musik di dunia — dan di Indonesia. Padahal, sebagian besar dari para penyanyi yang dipakaikan baju seksi ini memiliki suara yang bagus, musik yang kreatif, dan pangsa pasar yang OK. 

Pat Benatar, dengan lagu You Better Run, menjadi salah satu musik video penyanyi perempuan pertama pada era awal masa MTV. Ketika itu Benatar tampil dengan kaos garis-garis hitam-putih dan celana kulit rocker ‘80an. Hanya rentang 30 tahun, perbedaan fashion dari kaos berubah menjadi seperti yang dikenakan artis-artis zaman sekarang yang menampilkan lebih banyak kulit.

Setelah Britney Spears memakai baju transparan bikini putih dalam video klip Toxic, fashion musisi perempuan dunia ikut berubah. Rihanna dan Gwen Stefani masih memakai bra dan celana panjang atau rok, sampai kira-kira 2006 atau 2007.

Tapi peta busana musisi seleb semakin berubah setelah pada 2008 Beyonce mengeluarkan Single Ladies, di mana sang diva dan penari memakai full bikini wardrobe yang menjadi inspirasi banyak penyanyi lain setelah itu. 

Yang menjadi ironi adalah ide feminisme itu disamakan dengan fashion atau perilaku dari musisi perempuan yang tampil dengan video-video dengan gaya atau penampilan sesuai tren yang sedang berlaku sekarang, Sering kita lihat iklan di mana perempuan memakai baju seksi di samping mobil baru tanpa kejelasan atau keterkaitan dengan produk.

Ketika penyanyi seperti Rihanna bertelanjang dada dalam videonya, Lady Gaga dengan g-string, dan Miley Cyrus dengan tempelan stiker di area dadanya sekedar menutup area puting, itu semua juga dianggap perilaku feminis.

Di mana salah kaprahnya? Dalam satu postingan di instagram, Kim Kardashian, seorang sosialita dari reality show Keeping up With The Kardashians, mengunggah foto selfie telanjangnya dan menyatakan dirinya liberated. Komentar dari fans mengatakan dia sebagai feminis dan mengagung-agungkan kebebasan berekspresi perempuan. Postingan ini menimbulkan pro dan kontra dari fans maupun sesama selebriti lainnya.  

Tanpa bermaksud menjadi polisi, sangat sedih kalau feminisme hanya menjadi fokus pada ide kebebasan perempuan memakai baju atau tidak memakai baju.

Perjuangan gerakan feminisme sudah jauh diperjuangkan sejak jaman suffrage movement  (gerakan perempuan untuk memilih dalam Pemilu) di Amerika Serikat, atau di Indonesia pada awal abad 19, ketika Kartini menuliskan surat-suratnya kepada sahabatnya tentang perempuan harus bersekolah.

Suara Kartini yang menjadi suara feminisme di rentang waktu di mana perempuan masih belum memiliki suara dan pendidikan masih sangat rendah.

Feminisme adalah kesadaran bahwa perempuan masih menjadi pihak yang didiskriminasikan dan belum memiliki hak sama dengan laki-laki. Ada agenda panjang dan perjuangan gerakan perempuan atau gerakan feminisme menuju perbaikan hak-hak perempuan di manapun. 

Perjuangan itu antara lain perbaikan pendidikan, kondisi kesehatan perempuan, hak lingkungan hidup yang baik, hak seksualitas, hak politik, hak perbaikan ekonomi, hak untuk bebas dari kekerasan terhadap perempuan, dan semacamnya.

Ia bukan sekedar menjadi bagian dari fashion atau bagaimana perempuan harus menampilkan diri. Apabila fashion mereka memakai selendang atau hijab, tentu itulah yang harus dilakukan apabila memang perempuan nyaman dengan hijabnya sesuai pilihan sendiri.

Alicia Keys memutuskan untuk tidak lagi memakai make up. Foto dari Instagram/aliciakeys

Feminisme melebihi fashion atau pengkondisian diri perempuan menjadi apa yang diinginkan komunitas atau masyakaratnya. Dunia fashion mengatur agar perempuan memakai baju, dandanan (make up), pernak-pernik sesuai apa yang sekarang laris di pasaran. Industri fashion dan make up menuai jutaan dolar dari konsumsi masyarakat kita di seluruh dunia.

Di balik penggunaan media sosial, belum tentu para selebriti ini hanya ingin berinteraksi dengan fans, tapi juga ada keuntungan di dalamnya yang mungkin tidak diketahui penggemarnya, seperti sponsor.

Seksualitas dan tubuh perempuan selalu menjadi bulan-bulanan dalam industri kecantikan di seluruh dunia. Industri ini sangat menguntungkan dan dibutuhkan oleh masyarakat yang menilai perempuan dari kecantikan dan penampilannya. 

Feminisme tidak ingin menilai perempuan dari tampilannya. Feminisme ingin membela hak-hak perempuan yang belum sama. Feminisme tidak melihat kulit atau bungkus luar dari kemampuan perempuan. 

Dalam hal industri musik, mungkin sudah banyak perempuan menjadi musisi terkenal, tetapi belum tentu juga mereka benar-benar bermusik sesuai keinginan hatinya. Banyak musisi harus mengikuti keinginan produsernya atau marketing, ini terbukti ketika musisi seperti Alicia Keys melalui kampanye No Make Up Movement, atau tidak memakai kosmetik karena tidak mau menutup-nutupi dirinya lagi (secara fisik maupun emosional).

Oleh karena itu, feminisme dan tubuh perempuan, seperti pamer tubuh, bukan menjadi perjuangan paling utama gerakan feminisme. Kita menghormati kebebasan sejati berpakaian atau menjadi diri sendiri. Dinamika feminisme di mana-mana begitu kompleks membutuhkan empati, melampaui penampilan tubuh dan perjalanan panjang.  

Bila perempuan ingin membebaskan diri, bukan berarti juga dia harus pamer badannya. Dia hanya perlu menjadi diri sendirinya, bahagia dengan pilihannya dan berjuang bagi keadilan. —Rappler.com

Olin Monteiro adalah seorang penulis, aktivis perempuan, penerbit buku, dan produser dokumenter perempuan di Jakarta.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.