TNI akan bangun pangkalan militer terpadu di Natuna

Rappler.com
TNI akan bangun pangkalan militer terpadu di Natuna

ANTARA FOTO

Anggaran untuk membangun pangkalan militer terintegrasi akan cair tahun ini. Sayang, nominal anggarannya tidak disebut oleh TNI

JAKARTA, Indonesia – Presiden Joko “Jokowi” Widodo menjadikan Pulau Natuna sebagai salah satu area yang diprioritaskan untuk dibangun. Selain melakukan pembangunan di bidang ekonomi, Jokowi ingin menjadikan Natuna sebagai pangkalan militer.

Rencananya TNI akan membangun benteng pertahanan terpadu tiga matra antara darat, udara dan laut. Saat ini, pembangunan telah berlangsung 10 persen. Sisanya akan rampung usai anggaran pembangunan disuntik pada tahun ini. Tetapi, belum diketahui berapa anggaran yang dialokasikan pemerintah untuk proyek tersebut.

Direktur Zeni Angkatan Darat Brigjen Erwin memaparkan ada 6 daerah di Natuna yang akan dibangun pertahanan integrasi. 

“Pembangunan berlangsung di Ranai, Sepempang, Desa Sungai Ulu, Selat Lampa, Desa Tanjung Payung dan Desa Tanjung Datuk, Pak,” ujar Erwin mempresentasikan rencana pembangunan pertahanan Pulau Natuna di hadapan Jokowi pada Kamis, 6 Oktober.

Di Ranai, kata Erwin, TNI akan membangun Sisdalops TNI terpadu, mess prajurit dan rumah sakit terintegrasi dan hanggar pesawat.

“TNI AU membangun skuadron UAV, satelit rudal jarak sedang, perpanjangan runway, pembangunan taxy way, bunker lima pesawat tempur dan Den Hanud 475 Paskhas,” kata Erwin lagi.

Sementara, di Desa Sungai Ulu, TNI tengah membangun Baterai Arhanud rudal. Rencana lainnya, TNI AL akan membangun dermaga bunker kapal selam di Tanjung Sekal. Sama seperti pembangunan pangkalan militer terintegrasi, anggaran untuk membangun bunker tersebut sudah masuk ke dalam APBN 2016.

Di Selat Lampa, TNI akan membangun dermaga kapal atas air, dermaga beaching, dan fasilitas pangkalan. Luas dermaga ini rencananya mencapai 7,4 hektar.

“Jadi, pembangunannya akan direklamasi, kemudian di atasnya dibangun dermaga berbentuk huruf L sepanjang 200 meter. Kapal bisa bersandar di sini dan di depan. Ini untuk Angkatan Laut,” kata Erwin.

Sementara, di Desa Setengar akan dibangun komplek komposit Maharlan, gudang amunisi terpadu dan markas Kizipur.

“Progress pembangunannya antara 6-8 persen pada pondasi dan bangunannya,” tutur Erwin lagi.

Fasilitas radar permukaan dan long range camera, rencananya akan dibangun TNI di Desa Tanjung Payung. Di Desa Tanjung Datuk, akan dibuat radar permukaan, radar weibel, long range camera dan satu komplek baterai armed mlrs.

Bukan pamer ke Tiongkok

Di tempat yang sama, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menepis pembangunan fasilitas militer dan latihan Angkasa Yudha di Pulau Natuna dilakukan sebagai ajang pamer kekuatan. Alasan pemerintah menempatkan lebih banyak personil militer di Natuna, kata Retno, demi menjaga keamanan di pulau-pulau terluar Indonesia.

“Latihan militer di Natuna merupakan bagian dari latihan yang dilakukan secara rutin oleh TNI. Tahun 2013 misalnya latihan serupa juga pernah digelar di sini. Kemudian, di tahun 2015, latihan dilakukan di Cilegon, lalu tahun ini kembali dilakukan di Natuna,” ujar Retno kepada media.

Selain mengembangkan bidang pertahanan, pemerintah juga memperkuat kehadirannya di sektor ekonomi dan sosial di Pulau Natuna. Oleh sebab itu, pemerintah juga membangun Bandara Ranai di sana.

Mantan Duta Besar Indonesia di Belanda itu kembali menegaskan tidak ada tumpang tindih wilayah antara Indonesia dengan Tiongkok di Pulau Natuna.

“Kalau menyangkut Indonesia, sudah jelas bahwa kita hanya memiliki perbatasan atau over lapping perbatasan dengan Malaysia dan Vietnam yang saat ini masih dinegosiasikan. Proses negosiasi itu juga bukan hal mudah, karena kami sudah melakukannya sekian lama,” kata Retno.

Terkait dengan isu sengketa di Laut Tiongkok Selatan, Retno merujuk kepada hasil kesepakatan di antara pemimpin ASEAN di KTT Laos awal bulan September. Menurut menlu perempuan pertama Indonesia itu, masing-masing pemimpin negara di kawasan ASEAN sepakat untuk menjaga agar situasi di LTS tetap stabil dan aman.

“Kemarin sempat diluncurkan hotlines antara negara anggota ASEAN dengan Tiongkok. Selain itu, juga tercapai kesepakatan cues untuk saling berkomunikasi terkait isu ini,” tutur dia. – Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.