Kisah pengikut yang mendapat uang 17 juta usai bergabung di Padepokan Dimas Kanjeng

Amir Tedjo
Kisah pengikut yang mendapat uang 17 juta usai bergabung di Padepokan Dimas Kanjeng
Dian mengaku melihat sendiri proses penggandaan uang tersebut hingga menjadi Rp 17 juta. Uang tersebut langsung ditabung ke Bank Mandiri

PROBOLINGGO, Indonesia – Tanah lapang seluas lapangan bola di Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur dipenuhi puluhan tenda terpal dan bertulang bambu. Jika dihitung-hitung, totalnya mencapai sekitar 70 tenda.

Ukuran tenda bervariasi. Ada yang bisa menampung 30 orang, tapi ada juga yang sanggup memuat 50 orang. Tanah lapang ini milik Dimas Kanjeng Taat Pribadi, pria yang tengah disorot oleh publik karena kemampuannya yang diklaim sanggup menggandakan uang. Belakangan, Dimas Kanjeng terseret kasus pidana karena diduga membunuh dua pengikutnya dan melakukan penipuan dalam aksi penggandaan uang.

Para pengikut mulai berkumpul di tanah lapang yang berada tak jauh dari Padepokan Dimas Kanjeng karena diminta oleh pria berusia 46 tahun itu. Dia meminta para pengikut untuk mulai merapat usai bulan Syawal. Alasannya, waktu pencairan sudah dekat. Maka, berdiri lah tenda-tenda itu.

Sebelum memasuki bulan Syawal, pengikut Dimas Kanjeng sudah datang silih berganti. Biasanya, mereka datang dalam jangka waktu tertentu. Terserah mereka. Ada yang datang ke padepokan dan tinggal di sana selama satu pekan, lalu kembali ke rumah. Tetapi, ada pula yang tinggal di sana hingga berbulan-bulan lamanya.

TENDA. Tenda-tenda yang berdiri di dekat Padepokan Dimas Kanjeng. Para pengikut mendirikan tenda di sana karena waktu pencairan (uang) telah tiba. Foto oleh Amir Tedjo/Rappler

Ketika datang ke padepokan, para pengikut biasanya akan tinggal di rumah warga sekitar. Sejak Dimas Kanjeng ngetop, warga sekitar padepokan juga memperoleh berkah dengan menyewakan kamar, usaha makanan dan ojek.

Dian, termasuk salah satu pengikut Dimas Kanjeng yang tinggal di tenda-tenda itu. Dari penampilan dan cara bicaranya, perempuan asal Jakarta ini termasuk dari golongan mapan dan bukan kekurangan. Kepada Rappler, dia mengaku sudah tinggal di Padepokan Dimas Kanjeng selama beberapa bulan.

“Tapi, jangan katakan kami sengsara. Kami memang sedang menjalani ujian. Ini adalah (cara) dari Beliau untuk menggembleng dan merasakan bagaimana susahnya menjadi orang yang tergusur. Ini atas kemauan kami sendiri. Apakah salah?” tanya Dian yang ditemui Rappler Kamis, 6 Oktober.

Dia berkisah awal mula mengetahui Dimas Kanjeng dari seorang teman yang menunjukkan video pria asli Probolinggo itu tengah menunjukkan kemampuannya menggandakan uang.

“Saab itu, saya tak langsung menjawab untuk bergabung. Sama seperti Bu Marwah, saya butuh waktu untuk meminta petunjuk Allah,” kata Dian.

Usai salat istikarah, Dian mengaku menemukan kebenaran jika Dimas Kanjeng memang memiliki kelebihan untuk mendatangkan uang. Dian pun kemudian memutuskan untuk bergabung dengan Padepokan Dimas Kanjeng tahun 2013 lalu.

Menurutnya, selama bergabung dengan padepokan Dimas Kanjeng, tidak ada yang menyimpang dari ajaran pria yang bernama asli Taat Pribadi. Para pengikutnya disibukan dengan ibadah seperti pada umumnya umat Islam yakni salat lima waktu, salat duha dan salat tajahud.

“Setiap hari kami juga melakukan istighosah. Apakah kita salah melakukan istighosah dan minta rizki dari Allah untuk dipercepat? Kami minta kepada pemerintah juga tidak dikasih,” katanya.

Proses “mendapatkan” uang

Selama 3 tahun menjadi pengikut Dimas Kanjeng, Dian mengaku sudah sering melihat dengan mata kepalanya bagaimana gurunya itu “berproses”, sebutan dari para pengikut Dimas Kanjeng untuk mendatangkan uang. Dian juga mengaku sempat mendapatkan uang dari hasil “proses” Dimas Kanjeng ini.

“Saat saya datang membawa teman untuk ikut padepokan, Beliau menunjukkan kepada kami kemampuannya mendatangkan uang. Uang tersebut bahkan diberikan kepada kami. Saya mendapatkan sekitar Rp 17 juta dari ‘proses’ Beliau,” kata Dian.

Uang yang diklaim Dian asli itu langsung dibawa ke Bank Mandiri untuk ditabung.

“(Uang) ini semuanya asli,” ujar Dian.

PENGIKUT. Dian, salah satu pengikut Dimas Kanjeng yang ikut mendirikan tenda di dekat Padepokan Dimas Kanjeng. Foto oleh Amir Tedjo/Rappler

Oleh sebab itu, Dian yakin Dimas Kanjeng memang diberikan kelebihan oleh Allah. Dimas Kanjeng pun selalu mengatakan kelebihannya adalah ilmu dari Allah yang diturunkan kepada walinya.

“Beliau tidak pernah mengatakan kalau dirinya adalah Allah. Kalau sekali saja Beliau mengatakan ‘saya adalah Allah’, maka saya adalah orang pertama yang akan kabur duluan,” tutur dia.

Meminta dipanggil Yang Mulia

Kisah lainnya dialami oleh Ustadz Imam Muslih. Pria yang selalu menggunakan baju gamis dan celana gombrong di atas mata kaki ini, mengaku sebagai jemaah tabligh.

Sama seperti Dian, Muslih mengetahui Dimas Kanjeng dari video penggandaan uang. Saat itu, Muslih mengaku geram ketika melihat video tersebut.

“Saya ini anggota jemaah tabligh. Saya paling benci dengan orang yang menyimpang. Tugas saya untuk memperingatkan mereka,” ujar Muslih yang mengaku fasih berbahasa Inggris dan Arab itu.

Walau geram saat melihat video, tetapi Muslih tak langsung menolak ketika ditawari menjadi pengikut Dimas Kanjeng. Dia meminta kepada teman yang mengajaknya itu, untuk menunggu jawaban yang diberikan pada pukul 02:00 dini hari.

“Malam harinya saya kemudian salat istikharah dan meminta petunjuk. Setelah salat, sambil mata dalam keadaan setengah mengantuk, tiba-tiba di depan saya sudah muncul sosok Dimas Kanjeng,” ujarnya.

Maka keesokan hari, Muslih langsung membeli formulir pendaftaran seharga Rp 1.250.000,00 untuk menjadi anggota Padepokan Dimas Kanjeng. Dia bergabung dengan Padepokan Dimas Kanjeng sejak awal 2013 lalu hingga saat ini.

Muslih mengatakan selama menjadi pengikut Dimas Kanjeng, dia tidak pernah mengaku sebagai kyai, habib atau ustadz. Saat salat Jumat, Dimas Kanjeng tidak pernah menjadi imam, apalagi memimpin istighosah pengajian atau kegiataan keagamaan lainnya.

Para pengikutnya yang justru memimpin pengajian dan istighosah setiap hari.

KEDIAMAN. Tampak depan kediaman pribadi Dimas Kanjeng di Probolinggo, Jawa Timur. Foto oleh Amir Tedjo/Rappler

“Jangan panggil saya kyai, habib atau ustadz. Nanti yang kyai, habib atau ustadz asli yang ada di padepokan akan marah. Cukup panggil saya ‘Yang Mulia Dimas Kanjeng’. Saya memang spesialis pengadaan,” kata Muslih menirukan ucapan Dimas Kanjeng.

Terkait dengan biaya pendaftaran yang kerap disebut orang dengan istilah ‘mahar’ itu, menurut Muslih tidak ada yang salah. Mahar tersebut menurutnya sama seperti sumbangan yang sifatnya sukarela. Dari sumbangan yang disetor kepada Dimas Kanjeng, kemudian akan dilipatkan gandakan.

Selain dipakai untuk kepentingan pribadi para pengikut, uang hasil ‘proses’ Dimas Kanjeng ini juga digunakan untuk pengembangan masyarakat seperti membangun seribu pondok pesantren, seribu rumah sakit dan seribu perguruan tinggi.

Kini setelah Dimas Kanjeng ditangkap polisi, para pengikutnya, termasuk Dian dan Muslih menolak untuk pulang dari padepokan. Mereka bertekad untuk menunggu proses hukum Dimas Kanjeng.

Bahkan, mereka percaya jika yang ditahan oleh Polda Jawa Timur bukan Dimas Kanjeng. Sebab, beberapa pengikut padepokan mengaku melihat Dimas Kanjeng tengah berkeliling di padepokan pasca ditangkap oleh Polda Jatim. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.