4 hal penting dari debat kedua kandidat Presiden AS

Rappler.com
4 hal penting dari debat kedua kandidat Presiden AS
Kendati kedua kandidat saling serang di debat publik, tetapi baik Clinton dan Trump mengaku tetap menghormati satu sama lain

JAKARTA, Indonesia – Dua kandidat Presiden Amerika Serikat kembali bertemu dalam debat terbuka pada Minggu, 9 Oktober waktu setempat (Senin, 10 Oktober waktu Indonesia). Hillary Clinton dari Partai Demokrat dan Donald Trump dari Partai Republik bertemu di Universitas Washington, St. Louis.

Debat kedua ini menggunakan format yang berbeda yakni “town hall”, di mana penonton dapat mengajukan pertanyaan kepada kedua kandidat. Presenter stasiun CNN, Anderson Cooper dan ABC, Martha Raddatz memandu debut yang berlangsung selama 90 menit tersebut. Sama seperti debat sebelumnya, Clinton dan Trump kembali terlibat dalam adu argumen dan saling membongkar kelemahan masing-masing.

Baik Cooper dan Raddatz berulang kali harus memotong omongan kedua kandidat karena mereka berbicara melebihi waktu yang ditentukan yakni 2 menit untuk menyampaikan program dan tanggapan. Bahkan, Trump terlihat dua kali mengkritik moderator karena dianggap tidak memberikan kesempatan yang sama baginya untuk berbicara.

Apalagi isu yang dibahas selama perdebatan? Berikut empat hal penting dari debat kedua kandidat yang digelar pagi tadi.

1. Trump dan Clinton minta maaf atas skandal masing-masing

Dalam debat kali ini skandal kedua kandidat kembali diungkit. Skandal pertama yang dibahas yakni mengenai pernyataan Trump yang dianggap telah melecehkan kaum perempuan. Dalam video yang direkam tahun 2005 lalu, Trump diketahui tengah berbicara dengan Billy Bush di acara televisi “Access Hollywood”.

Mogul real estate itu mengatakan dapat mencium dan memegang kemaluan seorang perempuan dengan mudah karena dia publik figur dan kaya raya. Hal lain yang disampaikan adalah cara untuk merayu perempuan yang telah menikah.

Trump mengaku dia tidak bangga atas perilakunya tersebut. Pria berusia 71 tahun itu juga mengatakan telah meminta maaf kepada keluarganya dan warga Amerika Serikat. Tetapi, dia membantah isi rekaman itu berupa bualan soal pelecehan secara seksual. Dia berdalih itu pembicaraan laki-laki yang bersifat pribadi.

“Saya memiliki rasa hormat terhadap kaum perempuan. Tidak ada satu pun orang yang memiliki rasa hormat terhadap perempuan seperti saya,” ujar Trump sambil menyebut dia merasa malu.

Alih-alih menunjukkan permohonan maaf yang tulus, Trump justru menyerang suami Clinton, Bill. Menurut Trump, kata-katanya tidak sebanding dengan sejarah Bill dengan kaum perempuan.

“Jika Anda melihat Bill Clinton, justru jauh lebih buruk. Dia telah melakukan tindak kekerasan terhadap kaum perempuan, salah satunya berusia 12 tahun,” kata Trump.

Suami Melania itu bahkan ikut mengajak 4 perempuan yang diklaimnya pernah menjadi korban pelecehan seksual Bill. Akibat peristiwa itu, Bill pernah hampir dimakzulkan, kehilangan izinnya sebagai pengacara dan membayar denda sebesar US$850 ribu atau setara Rp 11 miliar.

Sementara, di mata Clinton, kendati rekaman yang yang terjadi 11 tahun lalu itu tidak mencerminkan karakter Trump, tetapi isi pembicaraannya jelas menggambarkan siapa diri dia yang sesungguhnya.

“Sejak bulan Juni lalu, saya sudah mengatakan Trump tidak cocok untuk menjadi Presiden dan panglima tertinggi AS,” kata perempuan yang pernah menjabat sebagai mantan Menteri Luar Negeri itu.

Sementara, Trump membongkar skandal 33 ribu surat elektronik Clinton yang sempat dihapus agar tidak bisa diperiksa oleh Biro Federal Investigasi (FBI). Ini merupakan kelanjutan dari puluhan ribu surat elektronik Clinton yang diketahui menggunakan jaringan pribadi ketimbang server pemerintah.

“Kalau saya terpilih menjadi Presiden, maka saya akan memerintahkan Jaksa Agung untuk memeriksa e-mail (yang telah dihapus) itu,” kata Trump dalam debat.

Sama seperti Trump, Clinton meminta maaf atas kejadian penggunaan server pribadi untuk korespondensi resmi. Bahkan, 113 e-mail yang dikirim Clinton termasuk dalam kategori “rahasia”, termasuk 65 e-mail di antaranya “dianggap rahasia dan 22 e-mail digolongkan “sangat rahasia”.

“Saya mengakui menggunakan server e-mail pribadi adalah sebuah kesalahan. Tidak ada alasan untuk itu. Tetapi, saya selalu menjaga dokumen rahasia dengan sangat baik dan belum ada bukti dokumen tersebut jatuh ke pihak yang salah,” kata mantan Ibu Negara itu membela diri.

2. Meningkatnya Islamofobia di AS

Isu islamofobia termasuk salah satu isu yang sempat ditanyakan oleh penonton. Pasalnya, 3,3 juta warga AS saat ini tercatat memeluk agama Islam.

“Bagaimana cara mengatasi Islamofobia usai pemilu berakhir?” tanya seorang penonton.

Trump membantah pernah mengeluarkan seruan untuk melarang umat Muslim menjejakkan kaki di AS. Dia menawarkan solusi untuk dilakukan pemeriksaan yang ketat terhadap kaum pendatang, khususnya terhadap umat Muslim.

“Tetapi, untuk bisa mengatasi permasalahan itu, kita semua termasuk Clinton untuk menyebut bahwa sebagian pelaku teror adalah teroris radikal Islam,” kata Trump.

Sementara, kebijakan Clinton sama seperti yang pernah diucapkan Presiden Barack Obama yakni AS tidak memerangi Islam dalam mengatasi tindak terorisme.

“Penting bagi kami, sebagai pengambil kebijakan untuk tidak melarang warga ke AS hanya berdasarkan agama. Bagaimana mungkin Anda melakukan itu? Karena AS adalah sebuah negara yang dibangun atas dasar kebebasan beragama dan kemerdekaan,” tutur Clinton.

3. Kemanusiaan di Suriah

Isu kemanusiaan di Suriah turut mengemuka di panggung debat, lantaran gambar bocah berusia 5 tahun, Omran Daqneesh yang terluka dan duduk di mobil ambulans viral di berbagai media. Amerika Serikat termasuk salah satu negara asing yang ikut dalam pertempuran di Suriah dan sudah menjadi rahasia umum jika Negeri Paman Sam ingin melengserkan Presiden berkuasa, Bashar al-Assad.

Lalu, apa strategi kedua kandidat Presiden untuk mengakhiri perang di Suriah? Clinton memilih untuk tidak akan menurunkan pasukan ke Suriah. Baginya itu bukan strategi yang cerdas.

“Yang akan saya lakukan secara berbeda dibanding dengan era Presiden Obama yaitu dengan mengejar ISIS, memberikan senjata kepada kaum Kurdi dan langsung menyasar pemimpin ISIS, Al Baghdadi,” kata Clinton.

Sementara, Trump justru mengejek kebijakan luar negeri yang pernah diambil Clinton selama menjabat sebagai Menlu. Kebijakan Clinton disebut membawa bencana, khususnya dengan sikap AS yang justru berpihak kepada pemberontak untuk menggantikan Al-Assad.

4. Hormati satu sama lain

Kendati kedua kandidat saling melempar argumen, namun mereka mengaku tetap menghormati satu sama lain. Clinton mengaku dia mengagumi anak-anak Trump.

“Mereka adalah pencitraan dari Donald. Pemilu ini menjadi rumit, karena Pilpres AS menentukan dan mempertaruhkan banyak hal,” kata Clinton.

Pujian juga dilontarkan Trump terhadap perempuan berusia 68 tahun itu. Dia menyebut Clinton seorang pejuang dan tidak mudah menyerah.

“Walaupun ada banyak hal dari Clinton yang tidak saya setujui, tetapi dia tidak mudah menyerah dan saya menghormati itu,” ujar Trump. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.