Kisah aktivis muda Muhammad Ahsin: Membentengi pesisir, melawan korupsi

Didik Fitrianto
Dengan mangrove, Muhammad Ahsin menghidupkan lagi denyut tambak di Desa Purworejo.

Muhammad Ahsin bersama mangrove yang dipeliharanya. Foto oleh Didik Fitrianto.

Muhammad Ahsin atau biasa disapa Ahsin bukanlah tipe anak muda kekinian. Ia tidak bermain game online, tidak nongkrong di warung kopi, dan tidak punya klub motor. 

Hobinya tidak ‘anak muda’ banget, yakni bergelut dengan lumpur tambak, berjibaku melawan abrasi dengan mangrove, dan tanpa lelah mengajak warga menyelamatkan lingkungan dari rumah ke rumah. 

Ia kerap dipandang sebelah mata, sering mendapat cibiran, bahkan terkadang dihina. Banyak yang menganggap usahanya memperbaiki lingkungan hanya pekerjaan sia-sia. 

Menyusuri Desa Purworejo di pesisir utara Kabupaten Demak, tempat Ahsin saat ini berkhidmat, kita akan disuguhi pemandangan ratusan kapal besar berjejer, megahnya tempat pelelangan ikan, serta aneka usaha pengelolaan ikan laut. 

Namun di sisi lain ada pemandangan yang mengiris pilu: sampah menumpuk sepanjang aliran sungai, abrasi semakin mengikis daratan, dan air rob yang setiap saat merendam sebagian desa. 

Siang itu di pondoknya yang sederhana diantara pematang tambak yang rimbun oleh pohon mangrove, saya berkesempatan berdiskusi dengan Ahsin. Ia bercerita  tentang pergulatannya dalam memperbaiki lingkungan yang penuh tantangan. 

Ada semangat dan harapan memancar saat ia bercerita tentang keberhasilannya menananam mangrove. Pada saat yang sama saya juga merasakan kekawatirannya saat ia bercerita tentang air rob yang kian tinggi.  

Ia membayangkan, sepuluh tahun ke depan desanya akan benar-benar ditelan  air rob. Alam sudah memberikan tanda-tanda itu.

Berawal dari Kehancuran Usaha Tambak

Tahun 1997 adalah masa keemasan Desa Purworejo. Saat itu udang windu menjadi menjadi komoditi andalan tambak. Udang windu adalah raja. Apa pun akan dilakukan para petani tambak demi sang raja, termasuk membabat tanaman mangrove, mengubah sawah menjadi tambak, hingga menggunakan bahan kimia secara membabi buta. Semua demi hasil yang instan, demi uang ratusan juta, demi berlomba naik haji. 

Ashin mengenang masa-masa itu, di mana usaha tambak orang tuanya juga menghasilkan berton-ton udang windu dan bandeng, uang pun didapat dengan sangat mudah. Masyarakat Purworejo menyebutnya gemah ripa loh jinawi. Saat itu Desa Purworejo menjadi salah satu desa dengan tingkat pendapatan ekonomi tertinggi di Demak.

Namun penggunaan pakan dan bahan-bahan kimia telah mengubah pola budidaya para petani, dari alami ke intensif. Mereka meyakini semakin banyak diberi makananan dan bahan-bahan kimia, hasilnya semakin melimpah.

Mereka tidak menyadari bahwa di balik kemasan pakan ikan dan bahan-bahan kimia ada misi tersembunyi dari para pelaku industri, yakni menciptakan ketergantungan. Misi itu berhasil. Tingkat ketergantungan petani tambak semakin tinggi. 

Tidak cukup 3 – 5 karung, melainkan puluhan ton pakan pabrik dan bahan-bahan kimia lainnya masuk ke dalam tambak. Akibatnya alam mulai menunjukkan penolakannya: tambak mulai bermasalah, air mulai keruh, tanah tak lagi subur, dan plangton mulai menghilang.  

Ahsin juga masih mengingat dengan baik ketika petaka itu mulai datang. Usaha pertambakan gulung tikar, para petani tambak jatuh miskin, hutang menumpuk, dan pengangguran meningkat. Yang lebih mengerikan adalah dampak kebangkrutan usaha tambak. 

Para petani mulai meninggalkan lahan-lahan mereka tanpa memperdulikan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan. Tambak yang dulu dianggap menjadi raja dan mesin penghasil uang kini menjadi momok menakutkan, mereka mengalami trauma yang tidak berkesudahan.

Tidak ada lagi geliat para petani di tambak, tidak ada lagi pemandangan panen berton-ton ikan dan udang, tidak ada lagi motor atau mobil baru berseliweran dari hasil panen, dan tidak ada lagi kabar para petani akan naik haji beramai-ramai. 

Kini, mereka menjadi buruh pabrik, kerja serabutan di kapal-kapal ikan dan menjadi nelayan kecil tanpa akses modal.

‘Orang Gila’ Yang Mencintai Lingkungan

Tambak terbengkalai, kemiskinan, dan ketidakpedulian masyarakat terhadap lingkungan adalah pemandangan pasca runtuhnya usaha tambak di Desa Purworejo. Abrasi yang kian menggerus pesisir desa dan menenggelamkan sebagian tambak belum mampu membangunkan mereka dari tidur panjang masa lalu.

Ahsin tergerak untuk membangunkan tidur panjang para petani, bermodal nekad dan keyakinan bahwa lingkungan harus segera diperbaiki. Dari rumah ke rumah, dari warung ke warung, ia mulai mengajak orang-orang bergerak menyelamatkan lingkungan. Ia menawarkan bahwa menanam mangrove adalah salah satu solusinya.

Hasilnya? Ahsin hanya dianggap anak kemarin sore oleh petani tambak yang didominasi kalangan tua. Tidak sedikit yang menyebutnya sebagai orang gila. Mereka mencemooh dan menganggap menanam mangrove adalah pekerjaan pengangguran yang tidak ada gunanya.

Namun Ahsin muda tidak putus asa. Saat ajakannya bertepuk sebelah tangan, alih-alih menyurutkan langkah, Ahsin justru semakin mantab. Ia mulai menanam mangrove sendiri. “Kalau bukan saya yang memulai siapa lagi?” katanya.

Apa yang dilakukan Ahsin waktu itu sederhana. Menurutnya, salah satu penyebab usaha pertambakan bangkrut adalah karena ketiadaan tanaman mangrove. Puluhan hektar mangrove dibabat tanpa ampun hanya untuk perluasan tambak. Padahal tanaman mangrove waktu itu justru berfungsi sebagai filter air yang masuk ke tambak. Mangrove adalah benteng alami tambak dari abrasi.

Ia mulai menanami pesisir dan bekas tambak yang hancur oleh abrasi. Tentu saja, tidak semudah yang ia bayangkan. Beberapa kali usahanya menenam mangrove gagal total. Ribuan bibit mangrove mati dan tidak sedikit uang yang sudah dikeluarkan dari kantong pribadinya.

Namun Ahsin tak putus asa. Ia justru belajar dari kegagalan-kegagalan tersebut. Semangatnya semakin menggelora ketika pemerintah daerah dan beberapa orang di Desa Purworejo mulai bersimpati dan membantu  kegiatan penanaman yang dilakukannya. 

Masih Ada Harapan di Purworejo

Tambak ramah lingkungan yg dikelola Ahsin sering dikunjungi para peneliti. Foto oleh Muhammad Ahsin.

Setelah lima belas tahun berlalu, perjuangan Ahsin mulai menunjukkan hasilnya. Pesisir Desa dan tambak-tambak yang dulu hancur mulai ditumbuhi pohon-pohon mangrove yang kokoh. Mangrove menjadi sabuk pengaman yang melindungi sebagian pesisir Desa Purworejo.

Ahsin tidak berhenti sampai di situ. Ia mulai menggalang nelayan, petani tambak, dan tokoh masyarakat yang mempunyai kepedulian dengan lingkungan membentuk kelompok pelestari lingkungan di tingkat Desa. Ahsin sadar betul untuk melakukan perubahan ia tidak bisa berjalan sendiri, ia harus berserikat.

Pilihannya tepat, kelompok yang dibentuknya mulai berpengaruh tidak hanya di ranah sosial masyarakat tetapi juga ditingkat kebijakan pemerintah desa. 

Pengetahuan sebagai pintu perubahan juga ia buka. Ahsin membuat rumah belajar mangrove di tambaknya. Ahsin berharap rumah belajar mangrove yang ia buat menjadi tempat bertanya dan diskusi tentang berbagai hal terkait lingkungan. 

Ia juga membangun persemaian mangrove, hasil pembibitannya ia dermakan untuk kegiatan penghijauan secara gratis. Kegiatan penelitian dan study banding dari berbagai perguruan tinggi juga sering dilakukan di tempat ini.

Tambak sebagai sumber ekonomi yang sudah mati suri ia bangkitkan kembali. Kebangkrutan yang pernah dialami beberapa tahun yang lalu tidak membuatnya putus asa. Ia berguru ke berbagai tempat untuk belajar pengelolaan tambak. 

Beruntung ia bertemu dengan orang–orang dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) di Jepara yang memang kompeten dalam budidaya dan pengelolaan tambak. 

Pilihannya untuk mengelola tambak ramah lingkungan bukan tanpa alasan. Trauma penggunaan bahan-bahan kimia yang menyebabkan kehancuran usaha tambak masih membekas. Menurut Ahsin, orientasinya dalam mengelolah tambak bukan pada hasil yang berton-ton tetapi lebih ke pengelolaan tambak ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Menurut Ahsin sudah saatnya para petani tambak memutus mata rantai ketergantungan kepada bahan-bahan kimia, petani harus berdaulat dan mampu memproduksi sendiri kebutuhannya dalam mengelolah tambak.

Ucapannya bukan omong kosong. Sudah hampir lima tahun terakhir Ahsin dan kelompoknya mampu membuat sendiri kompos dan prebiotik untuk budidaya ikan dan udang. Selain itu, bersama kelompoknya mereka memperbaiki sistem saluran air dalam tambak dan memanfaatkan tanaman mangrove sebagai filter air dalam satu kawasan. 

Hasilnya cukup menggembirakan, sudah tiga tahun terakhir panen ikan bandeng melimpah dan udang tidak terkena stress.

Korupsi dan Keikhlasan 

Saat ini Muhammad Ahsin mulai menikmati hasil perjuangannya: puluhan hektar tanaman mangrove tumbuh lebat di pesisir desa dan tambak ramah lingkungan. Tapi ia tidak berpuas diri, menurut Ahsin ada masalah lain yang harus diselesaikan, yakni kenaikan air rob yang terus meningkat, sampah di sepanjang aliran sungai dan kapal-kapal ikan yang tidak ramah lingkungan.

Tidak bisa dipungkiri keberhasilan Ahsin saat ini adalah berkat dukungan berbagai pihak, termasuk dari pemerintah. Sayangnya dukungan dari pemerintah seringkali tidak berkelanjutan dan hanya berorientasi pada proyek semata. 

Proyek rehabilitasi mangrove contohnya, kelompoknya hanya dijadikan tenaga kerja untuk penanaman saja tanpa ada pemberdayaan. Bibit mangrove untuk kegiatan rehabilitasi pun didatangkan dari luar desa oleh kontraktor, padahal kelompok sudah mempunyai kemampuan untuk membuat pembibitan.

Kasus lain adalah saat ia dijadikan pengawas kegiatan rehabilitasi mangrove oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Demak, selama delapan bulan bekerja ia hanya dimanfaatkan tenaganya saja tidak ada kompensasi apapun. 

Padahal untuk pekerjaan tersebut ia harus berkeliling dari desa ke desa  menggunakan sepeda motor, uang pribadi harus ia keluarkan. Anehnya setiap tiga bulan sekali ia harus membuat laporan dan dokumentasi kegiatan.

Menurut Ahsin kegagalan kegiatan pelestarian lingkungan salah satu penyebabnya adalah masih adanya perilaku korup dan ketidakjujuran ditengah masyarakat dan pemerintah. Tidak hanya uang yang dikorupsi tetapi alam yang bukan haknya pun seringkali diambil tanpa ampun. 

Penggunaan kapal yang menggunakan alat tangkap tidak ramah lingkungan seperti garuk, purse seine, dan cantrang adalah contoh nyata bagaimana praktek illegal masih berlangsung saat ini. 

Para pemilik kapal mengambil isi laut dengan serakahnya, akibatnya ekosistem kawasan pesisir  rusak parah. Seakan mengiyakan praktek culas tersebut pemerintah melakukan pembiaran, tidak ada aturan yang ditegakkan!

Muhammad Ahsin adalah sosok anak muda yang tidak biasa. Ia berani ambil bagian untuk melakukan perubahan. Bukan lewat partai politik atau menjadi pendakwah, tapi jalan sunyi bersama alam yang ia pilih. 

Walaupun  banyak tantangan dan pengorbanan, dengan keikhlasan dan kerja keras ia meyakini alam semesta akan mendukungnya untuk terus bekerja menyelamatkan lingkungan. –Rappler.com 

 

Didik Fitrianto bekerja di Wetlands International Indonesia. Ia bisa disapa di @didik_ftr