Korean shows

Panitia: Parade Bhinneka Tunggal Ika tak ada kaitannya dengan kasus Ahok

Santi Dewi
Mereka turut mengklaim anggaran untuk kegiatan itu berasal dari dana swadaya

JAKARTA, Indonesia – Aksi demonstrasi besar-besaran yang terjadi pada 4 November lalu rupanya memicu kekhawatiran akan adanya perpecahan di dalam Bangsa Indonesia. Terlebih ratusan ribu massa yang turun ke jalan menuntut agar gubernur non aktif, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama segera ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama.

Khawatir terjadi perpecahan yang lebih jauh, sekelompok orang kemudian menggagas aksi lainnya yang bertujuan untuk mengingatkan publik akan keberagaman yang dimiliki Indonesia. Mereka menginisiasi kegiatan yang diberi nama Parade Bhinneka Tunggal Ika dan digelar pada Sabtu, 19 November.

Salah satu penanggung jawab kegiatan, Nong Darol Mahmada mengatakan aksi di akhir pekan ini akan bertolak belakang dengan demonstrasi pada 4 November lalu.

“Acara akan dikemas dengan sangat rileks dan gembira. Sesuai dengan namanya, maka acara berupa parade yang menampilkan kesenian dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar Nong ketika memberikan keterangan pers di area Cikini, Jakarta Pusat pada Kamis, 17 November.

Nong menjelaskan akan ada sekitar 100 ribu orang yang bergabung dalam kegiatan tersebut. Massa akan mengenakan pakaian adat dari berbagai provinsi di Indonesia. Mereka akan berkumpul di Patung Kuda Arjuna di Jalan Medan Merdeka Barat pada pukul 08:00 WIB lalu mulai berjalan menuju ke Bunderan Hotel Indonesia.

Kendati aksi dilakukan pasca Ahok ditetapkan sebagai tersangka, namun panitia membantah parade itu dilakukan untuk merespons tindakan kepolisian. Bahkan, panitia tegas mengatakan tidak akan menonjolkan asal organisasi atau afiliasi. Mereka mengklaim akan melebur menjadi Bangsa Indonesia.

“Acara kami ini murni untuk mendukung kebhinnekaan dan mengingatkan kembali bahwa Indonesia adalah negara yang penuh dengan perbedaan. Bahwa Indonesia itu bangsa yang beragam,” katanya lagi sambil meminta agar publik tidak memprovokasi tersebut sehingga menciptakan ketakutan.

Pengisi acara tidak dibayar

Nong mengaku kegiatan itu diselenggarakan kurang dari seminggu. Namun, diprediksi akan berlangsung meriah. Kemudian muncul pertanyaan, dari mana mereka memperoleh dana untuk menggelar parade Bhinneka Tunggal Ika?

Nong menyebut tidak menyediakan anggaran khusus untuk kegiatan tersebut. Tetapi, mereka memperoleh donasi dari publik, masing-masing sekitar Rp 100 ribu. Dia mengaku demi transparansi penggunaan dana, panitia bersedia untuk diaudit.

“Kami itu dana mengandalkan swadaya masing-masing. Panitia hanya memfasilitasi orang-orang yang memiliki niat dan tujuan yang sama saja. Bahkan, pengisi cara apa pun juga tidak dibayar,” kata dia.

Perempuan yang diketahui bekerja sebagai Wakil Direktur di Freedom Institute juga menjelaskan soal rumor panitia yang sempat dikabarkan mencatut beberapa nama pesohor untuk kegiatan tersebut. Mereka memprotes panitia karena tidak pernah merasa diundang oleh panitia, tetapi namanya masuk sebagai pengisi acara.

Nong menegaskan pihak panitia tidak pernah berniat mencatut nama-nama pesohor dan tokoh publik seperti yang diberitakan. Nama-nama itu dicatat dalam ringkasan rapat yang rencananya baru akan dihubungi untuk diundang hadir.

“Pesan berisi nama-nama itu cepat sekali beredarnya. Kami tidak tahu siapa penyebarnya dan bagaimana cara menahannya, kecuali dengan cara mengklarifikasi itu,” katanya.

Panitia sudah meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa dirugikan akibat pemberitaan tersebut. Namun, jika para pesohor tersebut masih ingin ikut dalam parade Bhinneka Tunggal Ika, panitia tidak menutup pintu. Kata Nong, acara itu terbuka bagi siapa pun yang peduli dengan kondisi bangsa saat ini.

Berbeda pendapat

DEMONSTRASI. Pendemo Aksi Bela Islam jilid 2 bersiap demonstrasi di depan Istana Negara pada Jumat, 4 November. Foto oleh Sakinah Ummu Haniy/Rappler

Persepsi lain kerap sudah terpatri di benak publik yakni aksi 19 November terkait demonstrasi besar Aksi Bela Islam jilid 2 yang dilakukan pada 4 November. Nong mewakili panitia mencoba menepis pendapat itu.

“Seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, aksi ini tidak ada kaitannya dengan Ahok, Jokowi atau aksi 4 November. Walaupun jarak dari waktu penyelenggaraan dekat, tapi tidak ada kaitannya sama sekali,” tutur dia.

Sementara, di tempat yang sama, Nuril Arifin Husein yang turut serta dalam kegiatan parade justru berpendapat sebaliknya. Pria yang akrab disapa Gus Nuril itu tegas mengatakan parade Bhinneka Tunggal Ika memang untuk merespons aksi tanggal 4 November.

“Saya merasa ada (kaitannya dengan aksi 4 November). Karena kalau tidak ada (kaitan) untuk apa saya datang kemari. Tetapi, aksi ini menjadi pintu gerbang momentum penyadaran atas bangsa dan negara,” kata Gus Nuril.

Dia mengaku geram melihat kondisi Bangsa Indonesia yang sudah melupakan jati dirinya sebagai negara yang menjunjung tinggi keberagaman. Pendidikan mengenai Pancasila sudah tidak lagi ditanamkan kepada anak-anak muda, sehingga mereka hanya mengandalkan kecerdasan otak semata dan lupa pelajaran berharga terkait humaniora.

“Maka yang terekam di dalam benak anak dan cucu kita, karena Kristen dari Eropa, maka penampilan kita kayak orang Eropa, karena Hindu dari China atau India seolah-olah kita kayak orang India, karena Buddha dari China, seolah-olah kita semuanya seperti orang China, karena Islam dari Arab, maka kita semua kearab-araban. Loh, kita harus jujur kita ini sebenarnya bangsa apa?” tanya Gus Nuril.

Oleh sebab itu, dia berharap kegiatan parade Bhinneka Tunggal Ika bisa menyadarkan publik bahwa Indonesia yang beragam masih ada.

Turunkan eskalasi politik

Parade Bhinneka Tunggal Ika digelar di tengah-tengah rumor akan ada aksi lanjutan dari Bela Islam yang digelar pada tanggal 25 November. Muncul kekhawatiran justru acara yang digelar akhir pekan mendatang, memicu provokasi kepada kubu lainnya untuk benar-benar kembali turun ke jalan.

Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito menilai agar semua pihak menahan diri dan tidak terjebak pada ketegangan yang berlarut-larut.

“Seharusnya tensi-tensi politik dikurangi. Jadi, mau aksi 4, 19 atau 25 November punya mobilisasi (massa), oleh karena itu cooling down saja dulu,” ujar Arie yang dihubungi Rappler pada Kamis malam, 17 November.

Alih-alih turun ke jalan, menurut Arie, seharusnya berbagai pihak lebih mengedepankan dialog dan edukasi ke masyarakat. Penetapan Ahok sebagai tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama, dinilai pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Sosiologi itu dianggap sejauh ini cukup meredam ketegangan publik. Sehingga, kalau masih ada demonstrasi besar di tanggal 25 November, maka patut dipertanyakan apa motivasinya. – Rappler.com