Semifinal AFF 2016: Saatnya Alfred Riedl beri kepercayaan pemain lain

Mahmud Alexander
Lolos ke babak semi final bagi Indonesia terasa sebagai keajaiban.

Timnas Garuda saat berlatih di Indonesia. Foto: Mahmud Alexander/Rappelr.com

JAKARTA, Indonesia — Laga perdana Indonesia di grup A melawan Thailand pada Sabtu, 19 November, lalu memang berakhir 2-4. Namun, optimisme masih ada dalam benak para pemain. Sebab, kekalahan tersebut masih bisa diterima karena Negeri Gajah Putih tersebut adalah Raja Asia Tenggara, selain juga mereka memang juara bertahan Piala AFF. 

Optimisme itu masih tinggi karena masih ada 2 laga tersisa, melawan Filipina dan Singapura. Dengan harapan menyapu bersih 2 laga tersisa, Boaz Solossa dan kawan-kawan masih yakin bisa lolos ke babak empat besar Piala AFF 2016.

Namun, pelan-pelan sikap tersebut tergerus. Indonesia ditahan seri 2-2 dari tuan rumah Filipina. Optimisme pun pupus berganti dengan pesimisme yang tinggi. Trauma masa lalu pun datang. Mulai muncul kekhawatiran bahwa Indonesia akan mengulang hasil 2014, gagal lolos dari fase grup. 

Namun, kejaiban akhirnya datang juga untuk Indonesia. Dan keajaiban itu datang saat para pendukung timnas barangkali sudah meninggalkan layar kaca. Saat 5 menit laga melawan Singapura tersisa 5 menit lagi. Stefano Lilipaly menjadi pahlawan dengan gol penentu kemenangan di menit ke-85.

Satu gol dari pemain naturalisasi dari Belanda tersebut membuat situasi 1-1 menjadi 2-1. Sebelumnya, Indonesia ketinggalan via gol Khairul Huda di menit ke-27. Gol tersebut membuat permainan timnas kocar-kacir. Meski menguasai pertandingan, barisan pertahanan selalu longgar dan kecolongan.

Harapan Indonesia untuk lolos ke babak selanjutnya muncul kembali ketika Andik Vermansah menyamakan kedudukan di menit ke-62. Lilipaly menyempurnakan harapan itu sekitar 20 menit kemudian memanfaatkan umpan tarik dari Boaz Solossa. Merah Putih pun memperpanjang napasnya di turnamen 2 tahunan ini. Mereka lolos ke babak semi final.

Sebagai pemain yang mengembalikan semangat juang tim, Andik Vermansah tak mau tinggi hati. Dia justru menganggap golnya berbau keberuntungan. Saat itu, Andik merasa dalam posisi yang tepat ketika Rizky Pora mengirim crossing tepat ke arahnya. Andik pun melepas tendangan voli yang tak bisa diantisipasi kiper Hassan Sunny. “Saya hanya beruntung,” katanya merendah.

Andik justru memuji Thailand yang tetap tampil kompetitif. Meski memasang pemain cadangan, mereka mampu mengalahkan Filipina 1-0. Padahal, bisa saja Thailand mengalah karena apapun yang terjadi poin mereka tak mungkin terkejar. “Thailand main bagus,” katanya.

Dua bek tak bisa bermain di semi final

Meski lolos ke babak selanjutnya, performa Timnas sejatinya belum terlalu meyakinkan. Pelatih Alfred Riedl tak memiliki banyak variasi, baik dalam skema permainan maupun komposisi pemain.

Riedl seharusnya belajar banyak dari tim-tim lain. Mereka berani melakukan rotasi starting line up untuk mengerek performa tim. Thailand, Filipina, dan Singapura, misalnya. Mereka kerap mengubah komposisi dua, tiga bahkan, sampai empat pemain starter untuk mengembangkan permainan.

Nyatanya, itu tak dilakukan Riedl. Hanya satu pemain saja yang dirotasi untuk mengubah gaya permainan. Tentu saja, perubahan tak mungkin terjadi. Indonesia terus mengandalkan sistem 4-4-2 dan mengandalkan serangan dari sayap.

Lini tengah seperti buntu, dan takut melakukan kombinasi umpan tajam yang membuat pemain belakang lawan harus adu kecepatan. Padahal, Indonesia memiliki cukup keunggulan dalam hal adu lari. Karena itu, serangan Indonesia mudah ditebak dan diantisipasi.

Serangan yang monoton itu bisa dilihat dari proses terjadinya gol. Dari enam gol yang telah dibukukan Timnas, tiga diantaranya melalui sundulan dan diawali dari crossing.

Gol tersebut merupakan buah dari formasi 4-4-2 yang mengandalkan kekuatan sayap. Padahal, dalam sesi latihan, Riedl juga sempat mencoba 4-2-3-1 ataupun 4-3-3. Tapi tak banyak digunakan dalam pertandingan.

Demikian juga dalam pilihan komposisi pemain. Hanya itu-itu saja. Akhirnya, saat ini skuat Garuda kena batunya. Dua duet di jantung pertahanan Timnas, Fachrudin Aryanto dan Yanto Basna, terkena akumulasi kartu kuning dan tak bisa dimainkan di babak semi final. Duet baru jelas membutuhkan waktu yang lebih lama untuk beradaptasi karena tak pernah sekalipun dijajal di fase grup.

Menghadapi Vietnam di semi final, mau tidak mau Riedl harus membuat perubahan tersebut. Meski sudah sangat terlambat 

Salah satu kendala Timnas, adalah transisi. Saat bermain menyerang, dua bek sayap Abduh Lestaluhu dan Benny Wahyudi kerap naik. Sayang, saat lawan menyerang balik, terdapat ruang kosong yang mereka tinggalkan. Lawan pun bisa leluasa menerobos sektor sayap. 

Tak hanya itu, di bagian tengah pertahanan juga kerap melompong. Para pemain leluasa bergerak di area akhir. Sama sekali tak mendapat tekanan dan kawalan ketat.

Celah antarlini juga menjadi pekerjaan rumah bagi  Riedl untuk dibenahi. Terutama di sektor tengah. Duet Stefano Lilipaly-Evan Dimas sudah padu namun mereka perlu tambahan tenaga. Terutama saat bertahan. —Rappler.com

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.