Di Indonesia, mendapatkan ganja sintetis semudah mengirim pesan singkat

Uni Lubis
Di Indonesia, mendapatkan ganja sintetis semudah mengirim pesan singkat
Kalau transaksi narkoba online lainnya memerlukan pengetahuan teknologi tersembunyi, membeli super tembakau di Indonesia hanya membutuhkan smartphone, akun Instagram, dan rekening bank.

JAKARTA, Indonesia —Paket berwarna emas yang dipegang oleh Jay*, 24 tahun, seorang karyawan di industri digital, berukuran kecil –sekitar 10 x 10 cm, dan kelihatan tidak istimewa. Bisa dengan mudah disimpan dalam saku, atau dalam dompet.

Ketika dibuka, isinya juga terlihat biasa saja. Dilihat dengan mata telanjang,  kelihatannya seperti tembakau biasa, sesuatu yang tidak asing di negara dengan 61 juta perokok.  

 Jay*, 24, melinting sebuah rokok 'tembakau super' di dalam sebuah rumah di Jakarta Selatan. Foto oleh Diego Batara/Rappler

Dia hanya mengambil satu atau dua jumput dari paket itu dan meletakkannya di atas kertas kemudian melintingnya. Hasilnya kelihatan seperti rokok ganja. Duduk bersila di lantai sebuah apartemen di Jakarta Selatan, Jay menyalakan rokoknya dan menghisapnya sekali, kemudian sekali lagi. Efeknya hampir instan – dalam kurang dari satu menit, tangannya mulai gemetar, matanya memerah, tubuhnya melemas.

“Dua sut aja, kita udah bisa merasakan ketinggiannya,” katanya dengan suara rendah dan mata yang setengah tertutup. “Kepala kayak berat, badan lemes.”

Menurut Jay, rasa tingginya tidak akan bertahan lama, mungkin 20 atau 30 menit. Dia tidak mau menghisap lagi, karena dia tahu akibatnya kalau memakai terlalu banyak. “Teman-teman gue, yang lebih parahnya, ada yang kayak kesurupan.” Kejang-kejang, teriak-teriak, bahkan berhalusinasi.

Dwi*, teman Jay, mengaku pernah mengalami hal serupa saat dia menghisap terlalu banyak – 7 hisapan, tepatnya. “Saya merasa seperti kerasukan,” katanya. “Saya berubah menjadi sangat agresif, seperti ingin menghajar semua orang.”

Beberapa video di Youtube menunjukkan gejala-gejala yang mirip. Salah satunya menunjukkan seorang satpam yang meronta-ronta di tempat tidur, meracau, dan terkadang berteriak-teriak, ditertawakan oleh teman-temannya yang sepertinya juga high.

Inilah efek “tembakau super,” istilah yang digunakan untuk sejenis narkoba yang akhir-akhir ini jadi bahan perbincangan. “Tembakau super” terbuat dari daun tembakau biasa yang dicampur dengan bentuk bubuk dari bahan kimia AB-CHMINACA, sebuah synthetic cannabinoid – sejenis zat yang, meskipun berbeda komposisi kimia dengan marijuana, bertujuan untuk meniru efek ganja.

Dokter menganggap AB-CHMINACA sebagai salah satu synthetic cannabinoid yang paling berbahaya karena, tidak seperti ganja, AB-CHMINACA sepenuhnya mengikat kepada neural receptors dalam otak, yang membuat efek zat ini sangat kuat.

Jadi tidak mengagetkan ketika Jay mengatakan bahwa ganja dan tembakau super rasanya sangat berbeda. 

“Kalau ganja, dia itu terjaga, stabil,” dia menjelaskan. “Bedanya sama sintetis ini, namanya juga sintetis, itu enggak stabil. Aneh rasanya.” 

Sebagai seorang pengguna narkoba rutin, Jay mengaku lebih menyukai ganja, yang menurutnya lebih murah dan lebih “menyehatkan”, tapi dia memakai tembakau super karena kemudahannya (“Mudah didapat barangnya”) dan efisiensinya (“Ganja kalah tingginya”)

Pilot ‘mabuk’ 

CITILINK. Pilot maskapai Citilink, Tekad Purna dipecat karena dianggap merusak citra perusahaan akibat diduga mabuk sebelum terbang. Foto oleh Yusran Uccang/ANTARA

Tembakau super, terutama jenis yang disebut ‘tembakau gorilla’, mulai ramai diperbincangkan pada akhir 2016, ketika seorang pilot Citilink, Tekad Purna, menjadi bahan berita setelah memasuki kokpit pesawat dengan gelagat yang terlihat seperti orang mabuk.

Rekaman CCTV memperlihatkan saat Tekad Purna berjalan tergopoh-gopoh melewati checkpoint sekuriti, menjatuhkan semua barang-barangnya dan menaiki pesawat hanya 15 menit sebelum dijadwalkan terbang.

Meski dia melanggar berbagai peraturan – datang terlambat, tidak mengikuti cek medis atau briefing pra-penerbangan –  dia bisa sampai ke dalam kokpit tanpa halangan berarti. 

Pengumuman kokpit-lah yang akhirnya menghentikan Tekad. Penumpang mengatakan bahwa dia terdengar “mabuk” dan terus mengulangi kata-kata tertentu. Saking khawatirnya, beberapa penumpang mendatangi kokpit dan menuntut penjelasan. Penumpang lainnya ingin turun dari pesawat. Pada akhirnya, Citilink menggantikan Tekad dengan pilot lain.

Tidak lama setelah insiden tersebut, pesan mulai beredar di grup WhatsApp yang mengatakan bahwa Tekad memakai tembakau gorilla, salah satu jenis tembakau super. Netizen yang mengenal efeknya terlihat yakin bahwa Tekad memang memakainya. Mantan rekan Tekad juga mengaku bahwa Tekad pernah menggunakan zat psikoaktif sebelumnya.

Badan Nasional Narkotika (BNN) mengatakan klaim-klaim ini tidak terbukti, karena tes darah Tekad hasilnya negatif. 

Slamet Pribadi, Kabid Humas BNN, mengatakan jika Tekad memang memakai tembakau super, pasti akan terlihat di hasil tesnya. “Pasti terdeteksi, karena yang menemukan AB-CHMINACA itu yang menemukan adalah lab BNN.”

Tapi riset dari Amerika Serikat mengatakan bahwa zat itu sulit terdeteksi dalam tes narkoba standar karena begitu cepatnya perkembangan synthetic cannabinoid baru, dan memerlukan proses yang rumit dan mesin terbaru yang hanya tersedia di beberapa laboratorium.

“Seperti memesan fast food’ 

Screenshot dari Instagram  Tembakau super datang dalam paket berwarna emas yang dibungkus celana batik untuk menghindari deteksi. Foto oleh Diego Batara/Rappler

Dwi, seorang pekerja di bidang marketing, mengangkat rokok Jay yang belum habis. “Bolehkah saya menyalakan ini dulu?” tanyanya. “Supaya suasananya lebih soulful.”

Dia mengambil satu hisapan sebelum berbicara dengan Rappler. Dwi, yang seperti Jay adalah seorang pengguna narkoba rutin, memuji-muji ganja dengan kata-kata puitis, menyebutnya sebagai “ciptaan Tuhan” dan menjelekkan versi sintetisnya. 

“Kalau pakai ganja, bisa kreatif, bisa produktif,” katanya. “Kalau pakai barang ini,” dia menunjukkan rokoknya. “Kita hanya jadi konsumen.”

Dia menambahkan bahwa teman-temannya yang tergolong pemakai narkoba berat tidak mau memakai tembakau super karena “rasa tingginya selalu berakhir buruk.” 

Seperti Jay, Dwi mengaku akan lebih memilih ganja daripada tembakau super. Tapi karena berkurangnya suplai ganja di pasaran, dia jadi lebih sering memakai tembakau super, karena begitu mudah didapatkan. “Persis seperti memesan fast food.” 

Klaimnya terbukti. Kalau mengetik tagar ‘#tembakausuper’ di Instagram, akan terlihat lebih dari 70,000 posting, banyak di antaranya dari penjual yang menjajakan tembakau tersebut. Para penjual menaruh nomor kontak dalam profil mereka, membuatnya sangat mudah untuk memesan. Seorang penjual kecil-kecilan yang tidak ingin disebut namanya, mengaku dapat menghasilan Rp. 60 juta per bulan hanya dari pesanan online dan teman se-kampusnya. 

Salah satu penjual di Instagram bernama supertobacco. Seorang teman kami mencoba untuk memesan darinya. Kalau kamu mengontak nomor yang dipasangnya, akan langsung menerima pesan yang berisi ajakan untuk memesan. Ketika memesan, dia akan meminta nomor kontak dan alamat pengiriman. Dia kemudian mengirim nomor rekening banknya dan meminta bayaran Rp 300,000 untuk paket berisi 2,5 gram.

Sebelum 15 menit berlalu, tembakau supernya sudah terbungkus dan siap untuk diantar.  Tidak lama kemudian dia mengatakan paketnya sedang diantar oleh aplikasi motor online.

“Konfirmasi sama deliverynya bilangnya baju bola ya,” katanya. Selain itu, tidak ada tindakan pencegahan lainnya.

The super tobacco comes inside a gold-foiled package that is wrapped in batik shorts to avoid detection. Photo by Diego Batara/Rappler

Ketika sampai, paket itu terbungkus dua kali dalam kertas coklat. Setelah membuka lapisan kedua, terlihat sebuah celana batik bekas. Dalam celana tersebut terbungkus sebuah paket berwarna emas.

Kalau transaksi narkoba online lainnya memerlukan pengetahuan tentang dark web atau bitcoin atau teknologi tersembunyi lainnya, membeli super tembakau di Indonesia hanya membutuhkan smartphone, akun Instagram, dan rekening bank.

Proses regulasi yang panjang

Kepala BNN Budi Waseso menunjukkan barang bukti narkoba yang akan dimusnahkan kepada Presiden Jokowi, di lapangan Silang Monas, Jakarta, pada 6 Desember 2016. Foto dari Setkab.go.id

Kemudahan mengakses super tembakau ini ironis, mengingat Indonesia memiliki hukum narkoba yang tergolong di antara yang terberat di dunia. Seringkali, Indonesia menjadi berita karena menghukum mati narapidana narkoba, di antaranya warga negara asing. Di bawah kepemimpinan Presiden Joko “Jokowi” Widodo, 18 orang telah menghadapi regu tembak karena kejahatan narkoba.

Pada Februari 2015 yang lalu, Jokowi mengatakan bahwa negara berada dalam “darurat narkoba.” “Bayangkan, setiap hari, 50 (orang) generasi kita meninggal karena narkoba,” katanya. “(Kalau) Kalikan kalau satu tahun, 18 ribu orang meninggal karena narkoba.” Walau aktivis HAM mempertanyakan statistik tersebut dan menuntut penghapusan hukuman mati, Jokowi meneruskan perangnya melawan narkoba, mengatakan “tidak ada pengampunan untuk urusan narkoba.”

Tapi masalah synthetic cannabinoid tidak terbatas pada Indonesia saja. Pada September 2015, harian the New York Times memuat artikel tentang sebuah “ganja sintetis” yang disebut K2 yang mulai marak di daerah Harlem Timur di New York, mengubah 125th street menjadi “jalan penuh zombie.” Seperti tembakau super, K2 sangat mudah diakses, dengan banyak bodega atau warung kecil menjualnya dengan harga murah.

Kabid Humas BNN, Slamet Pribadi, menunjukkan stiker bertuliskan "STOP DRUGS" di kantornya di Jakarta Timur. Foto oleh Diego Batara/Rappler

Jurubicara BNN Slamet Pribadi mengatakan bahwa BNN telah mendeteksi tembakau super sejak Mei tahun lalu. Dia mengatakan bahwa AB-CHMINACA, zat aktif dalam tembakau super tidak diproduksi dalam negeri, melainkan diimpor.  

“AB-CHMINACA ini masih impor, berupa powder,” kata Slamet kepada Rappler di kantornya pada Rabu, 11 Januari. “Beberapa kali ditemukan oleh teman-teman dari bea cukai, baik bea cukai Bandara Halim maupun bea cukai Bandara Soetta, itu masih impor.” Dia menduga bahwa zat tersebut diimpor dari Amerika Serikat. 

“Ini kenapa mereka menggunakan synthetic cannabinoid, karena mencari ganja alami di Indonesia ini sulit,” dia menjelaskan. “Perjalanan dari Aceh sampai ke Jakarta, sampai ke Bali, itu sudah dipotong oleh penegak hukum.” 

“Menurut dokter, itu ada efek tremor, kemudian hilang kesadaran sejenak, mual, muntah,” katanya. “Hilang kesadaran sejak itulah yang menurut mereka itu seperti ditimpa gorila.”

Slamet meambahkan bahwa menurut dokter, dalam tingkat tertentu, tembakau super bisa menyebabkan kematian. Saat diwawancara, Slamet mengatakan bahwa zat tersebut masih belum masuk ke dalam UU Narkoba. 

“Beberapa cannabinoid sintetik, 18, itu sudah masuk dalam hukum positif Indonesia,” katanya. “Untuk AB-CHMINACA, itu belum. Sudah kita perjuangkan ke Kementerian Kesehatan sebagai regulator, dalam minggu-minggu ini akan terbit Peraturan Menteri Kesehatan yang baru yang menempatkan AB-CHMINACA dalam hukum positif Indonesia.”

Slamet menjelaskan bahwa meregulasi narkotika baru bisa memakan waktu yang lama, sampai 2 tahun. Kalau AB-CHMINACA masuk ke dalam UU Narkoba, ancaman hukumannya sama seperti obat-obatan rekreasional lainnya seperti heroin atau kokain – mulai dari 5 tahun penjara sampai hukuman mati.

Ketika ditanya mengenai mudahnya mengakses tembakau super online, Slamet mengatakan bahwa pemerintah berusaha memblokir situs-situs yang membahayakan, tapi dengan kemajuan teknologi, ini menjadi sebuah tantangan. “Mati satu, tumbuh seribu.” 

Dia mendesak masyarakat untuk melaporkan situs-situs yang menjual narkotika tersebut ke BNN tapi mengaku bahwa sebelum AB-CHMINACA dimasukkan ke dalam UU Narkoba, BNN tidak bisa melakukan apa-apa.

Ironisnya, ketika Rappler melakukan penelitian lebih lanjut, kami menemukan bahwa AB-CHMINACA telah ditambahkan ke daftar narkotika diatur dua hari sebelum wawancara kami dengan Slamet. Bahkan Slamet sendiri tidak tahu bahwa itu sudah dimasukkan.

Selain itu, penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa laporan media pertama tentang tembakau gorila di Indonesia dicetak pada Mei 2015. BNN membutuhkan satu tahun untuk mengidentifikasi AB-CHMINACA sebagai zat aktif tembakau super – sekitar 10 tahun setelah pertama kali muncul di pasaran dunia.

Apakah regulasi akan membantu? 

Pada Januari 9, 2017, Kementerian Kesehatan menambahkan AB-CHMINACA sebagai salah satu dari 27 zat baru yang diregulasi oleh UU No. 35 tahun 2009 Tentang Narkotika, membuatnya secara resmi ilegal.

Meski begitu, maraknya tembakau super mungkin tidak akan menurun sejauh yang diharapkan Slamet.

Jay mengatakan bahwa itu menjadi “dilema” baginya, tapi bahwa pasti akan tetap ada penjualnya. 

“Ganja saja yang ilegal masih ada yang jual,” katanya. “Ilegal pun pasti ada yang beli.”

Dwi lebih yakin lagi. “Mungkin pemakaiannya berkurang, volumenya lebih sedikit,” katanya sambil tertawa. “Tapi…”

Dia tidak akan berhenti sepenuhnya. —Rappler.com

*Nama telah diganti untuk melindungi identitas.

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.