Philippine basketball

Luis Milla ingin Indonesia memainkan sepak bolanya sendiri

Mahmud Alexander
Luis Milla ingin Indonesia memainkan sepak bolanya sendiri
Tak ada tiki-taka.

 

JAKARTA, Indonesia — Pelatih timnas Luis Milla akhirnya menunjukkan polesannya di atas lapangan. Selama sebulan terakhir, dia lebih banyak diwawancara, menjelaskan harapan, keinginan dan targetnya dari atas meja via jumpa pers dengan awak media.

Janjinya mengubah gaya permainan dan memaksimalkan potensi pemain Garuda Muda dengan style permainan ala Indonesia. Dengan begitu, gaya Indonesia dalam  sepak bola bisa dimunculkan.

Ibarat Spanyol yang memiliki gaya sendiri, Luis Milla  mencoba melahirkan gaya tersebut. Tapi, dalam sesi latihan, menu yang diberikan memang lebih banyak ke ball posession. Kemudian dibarengi pressing, cara tepat menutup pergerakan lawan yang membawa bola. 

Sentuhan bola pendek cepat, diperagakan dalam tiga sesi latihan para pemain. Mulai dari simulasi seperempat lapangan, sampai satu lapangan penuh permainan dilakukan. 

Saat disinggung bahwa gaya latihan dan sentuhan bola pendek cepat pemain tersebut seperti gaya tiki-taka Barcelona, Milla menolaknya. Baginya, terminologi tersebut tak perlu dibawa-bawa ke Indonesia.

“Terlalu capat bilang pakai tiki-taka apa tidak. Saya tidak suka term itu. Sepak bola lebih dari itu,” kata pria yang juga eks pelatih Timnas U-21 Spanyol tersebut.

Bagi mantan pemain Barcelona tersebut, sepak bola dan timnya nanti akan memakai banyak strategi dan gaya permainan. “Sepak bola itu banyak form-nya, bisa main nyerang, bisa main bertahan,” dia menegaskan.

Mengukur intelejensi dan kecepatan berpikir pemain

Milla memiliki cara tersendiri untuk mengukur kemampuan berpikir pemain-pemain yang akan diseleksinya. Sejauh mana pemain tersebut bisa mengambil tindakan, saat dalam posisi terjepit. 

Latihan tersebut dibuatnya dalam kondisi bertahap dengan membuat kotak-kotak kecil khusus saat latihan. Fokusnya, hanya pada passing dan sentuhan bola antar pemain.

Sesi pertama, dia membagi tim dalam dua kelompok. Mereka diminta melakukan passing dan pressing, dalam ruang sempit. 13 pemain dibagi dalam dua kelompok, kemudian memainkan passing cepat di seperempat lapangan bola yang sudah dibagi dua dengan tali putih.

Hasilnya, pemain-pemain dipaksa bergerak, menutup ruang untuk lawan, dan membuka ruang untuk yang memegang bola.

“Saya sengaja melakukan itu. Untuk melihat bagaimana pemain dalam berpikir, apa yang mereka lakukan saat posisi tertekan dan bagaimana mereka menghadapi situasi tersebut, apakah diumpan, di-dribling, atau yang lain,” papar dia.

Febri Hariyadi, winger yang biasanya memiliki eksplorasi kecepatan, juga merasakan hal yang berbeda. Kalau awalnya dia bisa memanfaatkan kecepatannya, dalam latihan dia harus berpikir keras mengamankan bola, sembari melihat ruang atau celah untuk dimaksimalkan agar tak dihalau oleh lawan.

“Tadi banyak ball posession dan pressing. Itu yang ditekankan. Memang bilang main menyerang, menyerang bukan hanya saat bawa bola, tapi bagaimana pergerakan pemain lain saat rekannya membawa bola,” ungkapnya.

Sejauh ini, latihan yang diberikan masih sebatas perkenalan. Belum memasuki sesi taktik-strategi yang serius. Karena itu, pemain belum bisa lebih jauh menilai sosok Milla.

Hanya, dia merasakan, selama dua jam latihan, keseriusan, pergerakan, dan sentuhan pemain, benar-benar dimaksimalkan.—Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.