Ahok siap mundur dari Gerindra

Natashya Gutierrez
Ahok siap mundur dari Gerindra

AFP

Ahok menilai Partai Gerindra sudah tidak sejalan lagi dengan visinya untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia

JAKARTA, Indonesia [UPDATED] — Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama berniat serius mundur dari Partai Gerindra, Rabu (10/9), akibat pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemilihan Kepala Daerah (RUU Pilkada).

Ahok menilai Partai Gerindra yang mengantarkannya sebagai wakil gubernur DKI Jakarta dalam pemilihan kepala daerah 2012 lalu sudah tidak sejalan lagi dengan visinya untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia.

“Hari ini saya akan siapkan surat untuk menyatakan keluar dari Partai Gerindra. Karena bagi saya Partai Gerindra sudah tidak sesuai dengan perjuangan saya untuk memberikan rakyat sebuah pilihan yang terbaik,” kata Ahok di Balai Kota, Rabu pagi.

Partai Gerindra merupakan salah satu dari 6 fraksi partai di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang kukuh ingin mengesahkan RUU Pilkada. Jika diloloskan dalam rapat paripurna DPR pada 25 September mendatang, RUU Pilkada akan mengoper kewenangan pemilihan kepala daerah kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), bukan pemilihan langsung oleh rakyat seperti saat ini. 

Ahok, yang terkenal dengan gaya bicaranya yang meluap-luap, kerap terlibat masalah dengan DPRD Jakarta, salah satunya terkait relokasi pedagang kaki lima di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat.

‘Kutu loncat’

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengungkapkan kekecewaannya atas pernyataan Ahok. Ia menilai Ahok sebagai seorang politikus yang oportunis dan tidak mengerti etika, seperti yang dilaporkan Kompas.com.

“Ahok tidak beretika, tidak mengerti partai. Kontribusi dia di Gerindra kecil dan orang akan menilai track record dia. Ini bukti orang jadi kutu loncat,” ujar Fadli.

Fadli pun tidak menghalangi Ahok jika keputusan mundur sudah bulat.

“Kalau benar [Ahok mau mundur], ya itu kita terima. Itu pilihan dia,” katanya.

Ahok sendiri pernah dicap sebagai politisi kutu loncat, sebabnya ia sudah tiga kali berpindah partai politik. Ia terjun ke dunia politik dan bergabung dengan Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB) pada 2004. Ia lalu mencalonkan diri sebagai anggota legislatif DPR RI di bawah bendera Partai Golkar, sebelum pindah ke Partai Gerindra untuk maju sebagai calon wakil gubernur pada 2012.

PDI-P buka pintu

Namun setelah mengundurkan diri sebagai kader Partai Gerindra, Ahok menyatakan tidak akan bergabung dengan partai politik lain, termasuk Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), partai yang mengangkat Joko “Jokowi” Widodo sebagai Gubernur DKI Jakarta tahun 2012 bersama Ahok.

“Saya tidak akan masuk ke PDI-P atau partai politik manapun. Saya akan buktikan bahwa tanpa partai politik pun, sebagai kepala daerah, selama didukung oleh rakyat dan bukan bertanggung jawab kepada DPRD, saya tetap bisa menjalankan program untuk kesejahteraan rakyat,” jelasnya berapi-api.

Sekretaris Jenderal PDI-P Tjahjo Kumolo mengatakan partainya terbuka lebar jika Ahok ingin bergabung dengan partai berlogo moncong putih itu. 

“Partai kami terbuka seandainya Pak Ahok akan menyalurkan aspirasi politiknya ke PDI-P. 

Tjahjo menambahkan bahwa meski Ahok tidak berpartai sekalipun, jabatannya sebagai wakil gubernur tetap berlaku.

“Saya rasa selama menyelesaikan masa jabatannya ini sah-sah saja. Di undang-undang boleh maju sebagai kepala daerah baik dari usulan partai politik, gabungan partai politik maupun dari perseorangan. Itu sah-sah saja,” lanjut Tjahjo. — Zul Sikumbang turut berkontribusi dalam artikel ini/Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.