Beri Susi kesempatan

Karolyn Sohaga
Beri Susi kesempatan
Menteri Susi Pudjiastuti berhasil buktikan bahwa wanita berhak mendapatkan posisi ternama dalam struktur pemerintahan di budaya patriarkal

 

Perempuan dan kekuasaan.

Gagasan di atas sudah hampir pasti tidak pernah terlintas setitikpun di benak Sigmund Freud, filsuf asal Perancis yang dalam banyak teori psikoanalisnya menyebut perempuan sebagai pihak inferior terhadap lelaki. Bahkan dalam mimpi buruk sekalipun, Freud mungkin tidak pernah membayangkan bahwa penelitian panjangnya terhadap perempuan akan berakhir di titik dimana perempuan dapat menduduki posisi yang sangat berpengaruh dalam sebuah tatanan kenegaraan.

Barangkali Freud mengalami kebakaran jenggot ketika Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengumumkan susunan kabinetnya di hari Minggu (26/10) lalu. Betapa tidak, dari total 34 nama, diantaranya terdapat delapan menteri perempuan yang ditempatkan di beberapa pos strategis. Dalam sejarah pemerintahan Indonesia, belum pernah ada presiden yang menempatkan lebih dari lima perempuan di pos kementerian. Bahkan di negara seliberal Amerika Serikat pun. Namun, seperti itulah sosok presiden Indonesia sekarang, ia berbeda dalam hal-ikhwal menjalankan kekuasaan yang diamanahkan kepadanya.

Sebenarnya sudah bukan sesuatu yang baru di hari ini mengenai sosok perempuan yang memiliki posisi di pemerintahan. Margaret Thatcher menunjukkannya kepada dunia ketika ia terpilih menjadi perdana menteri perempuan pertama di Inggris di tahun 1979. Thatcher menunjukkan betapa perempuan sanggup berdiri tegak di atas birokrasi yang demikian patriarkal dengan menjadi satu-satunya perempuan dengan posisi tersebut. Terlebih, ia bertahan selama sebelas tahun mengalahkan suara mayoritas yang belum sepenuhnya menerima perempuan di posisi tertinggi di Inggris kala itu.

Namun di tahun 2014? Mungkin akan sangat sedikit yang memprotes jika Thatcher kembali menjadi perdana menteri. Bahkan seorang misoginis sekalipun. Kenapa tidak? Thatcher seorang lulusan perguruan tinggi negeri ternama Inggris, ia cerdas dan memiliki keanggunan dan cara berpakaian yang berkelas. 

Namun, entah mengapa sebabnya, semua orang menolak Susi Pudjiastuti, salah satu menteri perempuan di Kabinet Kerja Jokowi yang ditunjuk sebagai Menteri Perikanan dan Kelautan. Segera setelah ia ditunjuk, segera pula dihujat dan dicela dengan berbagai komentar bernada miring, walau tak sedikit pula yang memuji keberhasilan beliau sebagai pengusaha sukses yang memulai bisnisnya dari nol.

Susi dapat menjadi tauladan, bukan karena ia perempuan, tetapi ia adalah satu figur yang menunjukkan bahwa kerikil tidak perlu membuatmu berhenti untuk mengejar kehidupan yang lebih baik.

Berbeda dengan Thatcher, Susi memiliki tato, seorang perokok, dan tidak memiliki ijazah dari sekolah menengah atas (SMA). Ia memulai bisnisnya dengan menjadi pengepul ikan di Pangandaran, Jawa Barat, ketika harus putus sekolah di bangku SMA hingga menjadi pengusaha sukses. Namun kisah hidupnya tak lantas diilhami oleh semua orang. Susi ramai di-bully di media sosial dengan kebencian yang tidak ditutup-tutupi karena menteri kita kali ini adalah bukan menteri ‘kebanyakan’, yang memiliki citra ‘baik-baik’. Citra ‘wajar’ yang diterima publik secara seragam.

Kenyataan ini kemudian justru menegaskan bahwa masih banyak sekali orang yang mementingkan citra birokrasi di negara ini. Tentu saya tidak mengatakan bahwa semua pejabat necis dan rapi itu penjahat uang negara. Namun dalam hal ini tentu ada hal yang lebih penting dari sekedar puntung rokok dan tato panjang di kaki kanan Susi Pudjiastuti.

Susi, buat saya, justru dapat menjadi tauladan untuk kita semua, bukan hanya karena ia perempuan, tetapi karena ia adalah satu dari sedikit figur yang menunjukkan bahwa kerikil-kerikil kecil tidak perlu membuatmu berhenti untuk mengejar kehidupan yang lebih baik.

Benar bahwa tato dan rokok adalah bagian dari dirinya, namun menurut saya lebih penting jika kita melihat apakah Susi bekerja sesuai dengan program dari Presiden. Susi layak diberi kesempatan. Di hari pertama ia telah tahu apa yang akan dia lakukan, program jangka pendek dan menengah ia paparkan untuk meningkatkan kesejahteraan nelayan Indonesia. Kenapa kita tidak duduk diam mengamati dan melihat hasil kerjanya nanti?

Saya tidak mengenal Susi, juga Jokowi yang menunjuknya sebagai menteri. Tapi Jokowi tentu memiliki alasan tertentu mengapa memilih Susi. Mungkin dia melihat Susi sebagai sosok pekerja keras, berorientasi target seperti yang terlihat pada sejarah bisnis lobsternya. Siapa yang tahu?

Mengapa pula seorang menteri harus berijazah tinggi, namun dilubangi oleh kejahatan korupsi yang tidak kita ketahui?

Jokowi memang kontroversial. Bisa-bisa ketika ia terpilih lima tahun setelah periode pertamanya, jika ia mencalonkan diri lagi dan menang, ia akan menunjuk lebih banyak perempuan menjadi menteri. Menteri yang tidak selesai sekolah, namun gigih seperti sosok Susi: pekerja keras dan berorientasi pada target.

Tapi ah, bisa-bisa Freud benar-benar bangkit dari kuburnya saat waktu itu tiba. —Rappler.com

Karolyn Sohaga adalah seorang aktivis sosial yang memiliki minat pada sastra, isu perempuan, dan hak asasi manusia. 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.