Jokowi dan Jinping bersaing pikat investor di APEC

Uni Lubis
Jokowi dan Jinping bersaing pikat investor di APEC
Tak ada yang baru dalam pidato Jokowi di forum APEC CEO Summit, tapi ia menegaskan keinginan Indonesia untuk berkembang dan menarik investor asing.

                

Dua hari ini, pemberitaan media di Indonesia dipenuhi dengan pidato Presiden Joko “Jokowi” Widodo di depan 1,500 kepala eksekutif perusahaan dari negara anggota APEC. Mereka berkumpul di Beijing, Tiongkok, dalam acara APEC CEO Summit yang digelar sebagai acara jelang Pertemuan Pemimpin Ekonomi negara anggota APEC, organisasi kerjasama ekonomi di kawasan Asia Pasifik.             

Presiden Jokowi menyampaikan pidato tanpa telempropter, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam forum seperti ini. Mantan Walikota Solo itu menggunakan power point slides untuk melengkapi presentasi yang disampaikan secara lisan dalam Bahasa Inggris. Logat Jawanya medok, bahasa Inggrisnya mudah dipahami.  

Jokowi menjelaskan satu per satu slide presentasi yang terpampang di layar. Beberapa kali dia mengatakan, “This is your opportunity” saat memaparkan rencana membangunan tol laut, pelabuhan, sampai pembangkit listrik. (BACA: Pidato lengkap Jokowi di forum APEC CEO Summit)

Bagi publik Indonesia yang rajin mengikuti pidato Jokowi akhir-akhir ini, tidak ada yang baru dari presentasi sang presiden.  Sebagian yang hadir di APEC CEO Summit juga cukup mengenal Indonesia, baik dari sisi jumlah pulau, luas daratan dan laut, panjang dari ujung barat ke timur, serta paham betul permasalahan yang dihadapi Indonesia: beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang membebani Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN), keinginan mengalihkan subsidi ke pembangunan infrastruktur, ke sektor pertanian, dan mengangkat harkat rakyat miskin. Ini informasi yang sudah diketahui luas. Apalagi baru tahun lalu Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan APEC di Bali.

Beberapa kali meliput acara APEC, termasuk APEC CEO Summit, membuat saya tahu bahwa mayoritas yang hadir di sana adalah mereka yang mengenal kondisi negara anggota APEC. Helatan tahunan ini menjadi ajang reuni, kongkow-kongkow, mengetahui perkembangan terbaru dari iklim investasi yang ditawarkan negara, menjajaki pengembangan bisnis, dan mendengarkan pidato dari sejumlah pembicara bintang, seperti Presiden AS, Presiden Rusia, Presiden Tiongkok dan Perdana Menteri Jepang.   

Saya membayangkan pada malam hari restoran dan bar kelas atas di Beijing dipenuhi para CEO yang datang dari 21 negara. Biasanya mereka datang ditemani staf. Untuk hadir di APEC CEO Summit perlu merogoh kocek ribuan dolar.

Kembali ke pidato Presiden Jokowi. Apa yang disampaikan di APEC CEO Summit mirip dengan isi pidato Jokowi di rakornas dengan gubernur dan pertemuan alumni Keluarga Alumni Gadjah Mada. Intinya sama: subsidi BBM dan pembangunan infrastruktur. Yang membedakan adalah celetukan Presiden sebagai bunga-bunga pidato. Ada konsistensi dalam cara Jokowi “menjual” fokus pemerintahannya, baik di dalam negeri maupun di forum internasional. 

Di APEC CEO Summit, Jokowi juga bicara soal kendala pembebasan tanah dalam pembangunan infrastruktur. Dia mencontohkan kasus pembangunan jalan lingkar luar Jakarta yang sempat mandek delapan tahun karena ada 1,5 kilometer tidak bisa diselesaikan. Ada 143 warga yang menolak nilai kompensasi atas pembebasan lahan. Jokowi menunjukkan slide yang memasang foto dia saat mengundang makan siang para warga.   

“Saya mengundang mereka makan sampai empat kali. Beres,” kata Jokowi. Disambut tepuk tangan hadirin. Jokowi mengatakan akan memastikan gubernur, bupati, dan walikota untuk melakukan hal yang sama. Ia juga berjanji memudahkan aspek perizinan, meskipun rinci. 

Saya berharap keinginan Presiden Jokowi agar para kepala daerah meniru langkahnya, melakukan “diplomasi” makan siang atau makan malam untuk mengatasi problem akut pembebasan lahan untuk pembangunan infrastruktur, terlaksana.   

Masalahnya, jumlah kepala daerah yang berasal dari Koalisi Indonesia Hebat yang mengusung Jokowi kalah dibanding jumlah kepala daerah yang berada di koalisi mendukung mantan calon presiden Prabowo Subianto. Ini bisa menghambat ambisi Jokowi. Tapi, politik adalah seni peluang dan kemungkinan. Tidak ada musuh abadi, juga teman abadi. Dalam politik, yang abadi adalah kepentingan pribadi dan/atau kelompok.             

Beberapa pengusaha yang hadir dalam presentasi Presiden Jokowi di APEC CEO Summit menilai pidato presentasi Jokowi langsung masuk ke apa yang akan dilakukan Indonesia. Tidak ada yang baru, kecuali penjelasan soal tol laut. Juga tidak menyodorkan visi Presiden yang belum sebulan memimpin Indonesia — ekonomi terbesar di ASEAN — mengenai bagaimana membangun iklim bisnis dan ekonomi di kawasan ini.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok 

Presiden Tiongkok Xi Jinping dalam pidatonya di acara yang sama menyampaikan analisa soal melesunya ekonomi dunia, yang berpengaruh pula atas pertumbuhan ekonomi Tiongkok. Negeri dengan ekonomi terbesar kedua di dunia itu bakal mencatat pertumbuhan 7 persen tahun depan, masih menjadi salah satu yang tertinggi, namun turun dibanding kuartal sebelumnya tahun ini. Antisipasi dilakukan melonggarkan kebijakan fiskal dan moneter. 

Dalam sisi fiskal, misalnya, Tiongkok melonggarkan batasan jumlah pembelian rumah oleh warganya, juga percepatan pencairan dana untuk membangun infrastruktur. Di sisi moneter, Bank Rakyat China menurunkan suku bunga pinjaman rumah dan menyuntikkan kredit jangka pendek ke bank untuk meningkatkan pasokan pinjaman.

Pemerintah Tiongkok juga meluncurkan Silk Road Fund senilai US$40 miliar untuk membangun infrastruktur jalan, pelabuhan, rel kereta api, dan fasilitas lain yang meningkatkan konektivitas. Upaya ini dimaksudkan mendukung inisiatif sabuk ekonomi jalan sutra (China’s Silk Road Economic Belt) dan 21st Century Maritime Silk Road untuk meningkatkan pembangunan ekonomi di kawasan Asia Pasifik.  

Ada sejumlah inisiatif dan insentif lainnya yang diumumkan Presiden Xi Jinping di depan para pengambil keputusan investasi ekonomi itu. Jelas, Tiongkok kian menancapkan kuku untuk menjadi pemimpin ekonomi di kawasan, bahkan global.

Di Beijing, Presiden Jokowi juga mengumumkan keputusan Indonesia ikut menjadi pendiri Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB), dan akan menyetor modal senilai Rp 5 triliun, dicicil selama lima tahun. AIIB adalah inisiatif Pemerintah Tiongkok, yang akan menguasai 50 persen dari modal disetor senilai total US$ 100 Milyar. (BACA: Kunjungan luar negeri pertama Jokowi minus dansa-dansi)

Kita menunggu jualan siapa yang lebih laku, gaya Presiden Jokowi atau Presiden Xie Jinping. —Rappler.com

Uni Lubis, mantan pemimpin redaksi ANTV, nge-blog tentang 100 Hari Pemerintahan Jokowi. Follow Twitter-nya @unilubis dan baca blog pribadinya di unilubis.com.

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.