Korban 1965: Bergerak dalam senyap untuk memecah kesenyapan

Karolyn Sohaga
Korban 1965: Bergerak dalam senyap untuk memecah kesenyapan
Film 'Senyap' mengetuk pintu hati anak bangsa dalam untuk menyingkap tabir gelap masa lalu Indonesia

Menteri propaganda Nazi Joseph Goebbels pernah berkata bahwa kebohongan, bila diteruskan secara konstan dengan frekuensi yang repetitif, akan berubah menjadi sebuah kebenaran.

Tampaknya kutipan itu sangat tepat untuk mengungkapkan apa yang dilakukan pemerintah militer di bawah Presiden kedua Indonesia, Jenderal Soeharto. Selama hampir 32 tahun, propaganda mengaliri setiap sel ingatan manusia Indonesia dengan kebencian terhadap komunisme dan simpatisannya. 

Film seperti “Pengkhianatan G30S/PKI” bukanlah hal yang asing di zaman Orde Baru. Saya bahkan masih ingat potongan-potongan adegan film itu. Film ini menceritakan Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai musuh negara, karena itu mereka pantas diberantas. Tidak peduli bila mereka adalah bagian dari negara ini, tidak peduli bila mereka adalah orang-orang yang memiliki suami, istri, adik, kakak, anak, dan cucu. Tak peduli bila mereka adalah manusia. Manusia yang memiliki hak untuk hidup, manusia yang berhak memiliki ideologi, meskipun itu berlawanan dengan pemerintah yang berkuasa. 

Film itu telah sekian lama menjadi ‘kebenaran’ yang meninabobokan kita selama puluhan tahun. Rupa-rupanya negara ini lebih memilih hidup nyaman dengan menjadi amnesia. Ironisnya, bukan cuma pemerintah dan pelaku saja yang hilang ingatan, namun tak jarang keluarga korban ataupun para penyintas tragedi itu sendiri yang menolak membicarakannya.

Tapi tidak dengan Adi Rukun.

Dalam “Senyap”, film dokumenter oleh sutradara asal Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer, yang diputar secara publik untuk pertama kalinya di kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Senin (10/11), protagonis Adi diceritakan berusaha untuk menyingkap kembali peristiwa pembantaian tahun 1965 dengan menemui beberapa pembunuh kakaknya Ramli di kampung halamannya di Deli Serdang, Sumatera Utara. Ketika kakaknya dijagal, Adi belum lahir. Ia mengetahui dari ibunya yang masih mengenang anak sulungnya dengan sedih.

“Senyap” adalah film kedua Oppenheimer tentang peristiwa berdarah tahun 1965-1966 setelah sebelumnya sukses meraih berbagai penghargaan untuk dokumenter pertamanya, “Jagal”. Jika “Jagal” mengambil sudut pandang dari sisi pelaku, lain dengan “Senyap” yang bernarasi melalui tokoh sebagai korban. (BACA: Docu on Indonesia mass killings wins in Busan Film Festival)

Sutradara Joshua Oppenheimer (kiri) dan Adi Rukun (kanan) saat menghadiri Venice Film Festival, Agustus 2014. Foto oleh AFP

Adi bertekad meretas kepompong kesenyapan yang menyelimuti masa lalu bangsa ini — kalau bukan di Deli Serdang. Adi menemui para jagal dan bahkan keluarga para jagal yang sudah meninggal untuk menggali ingatan mereka tentang peristiwa 1965 di desa tersebut. 

Dan alangkah berat hati saya — hampir-hampir bercampur benci — melihat jagal di dalam “Senyap” yang begitu bangga mempraktikkan pembunuhan kejam yang mereka lakukan di depan kamera. Seakan-akan mereka adalah pahlawan yang pantas diberikan tanda jasa. Dan seperti Anwar Congo di film “Jagal”, para jagal di “Senyap” memang merasa diri mereka pahlawan. 

Namun sebelum membiarkan diri saya dilanda kebencian, saya kemudian berpikir bahwa jangan-jangan para jagal ini pun adalah korban. Seperti korban yang meninggal, penyintas, dan keluarga korban, mereka digunakan pemerintah kala itu sebagai alat untuk mencapai kepentingan tertentu. Mereka bukan pahlawan, namun korban yang tidak tahu apa-apa, selain salah kaprah mengenai paham komunisme.

Adi menegaskan hal tersebut dalam film itu. Dia bertutur pada salah satu pembunuhnya yang sudah tua dan pikun serta memiliki anak perempuan, bahwa ia bertanggungjawab atas kematian Ramli. Bahkan anak perempuan sang jagal pun tidak mengetahui bahwa ayahnya sang jagal telah melakukan hal-hal kejam yang tidak dibayangkan semasa mudanya.

Begitu pula dengan satu keluarga lainnya yang ditemui Adi. Meskipun dua anak lelakinya mengambil sikap defensif, istri sang jagal — yang telah meninggal tiga tahun lalu — meminta maaf kepada Adi sambil menangis, dan berkata, “Biarkanlah [suami saya] tenang di bawah sana”.Perempuan itu cuma tahu bahwa ayahnya pahlawan — yang ditakuti — karena melakukan tugas dari negara. Dan ia pun tampak terpukul dengan pengakuan ayahnya. Di akhir pertemuan, perempuan tersebut berangkulan dengan Adi sambil meminta maaf atas segala perbuatan yang telah dilakukan ayahnya kepada Ramli, dan mungkin korban lainnya.

Film “Senyap” menunjukkan bahwa rekonsiliasi yang terus menerus digaungkan oleh aktivis kemanusiaan seperti Komnas HAM adalah sebuah proses yang sangat panjang dan berat. Mungkin membutuhkan satu generasi berikut untuk berani mendorong hal itu terjadi. Namun bukan berarti hal itu tidak mungkin di waktu kini. Adi telah menunjukkannya kepada saya, kepada penonton yang memadati Graha Bhakti Budaya TIM, Senin sore itu, yang bertepatan dengan Hari Pahlawan, bahwa pelan-pelan hal itu telah dimulai. 

Lewat pekerjaannya sebagai penjual kacamata, Adi bergerak dalam kesenyapan untuk memecah kesenyapan itu sendiri. Ia sendiri menyampaikan tidak ingin terus terjebak dalam stigma yang menegasikan para korban 1965. Ia ingin kebenaran itu terungkap, meskipun harus dilalui dengan pahit dan susah payah. 

Namun sebelum membiarkan diri dilanda kebencian, saya kemudian berpikir bahwa jangan-jangan para jagal ini pun adalah korban. Seperti korban yang meninggal, mereka digunakan pemerintah kala itu sebagai alat untuk mencapai kepentingan tertentu.

Dan untuk kita yang belum tahu, langkah Adi pun telah diambil oleh Walikota Palu Rusdi Mastura. Tahun 2012, Rusdi secara resmi dan terbuka meminta maaf kepada bekas anggota PKI. Kepada keluarga korban, ia menjanjikan kesehatan gratis dan beasiswa. 

Setitik terang kini menyembul di kegelapan.

Negara ini harus berterima kasih kepada Joshua Oppenheimer dan co-sutradara serta kru anonim lainnya di Indonesia. Demi rekonstruksi sejarah, mereka rela tidak disebut meskipun film ini dan “Jagal” telah menerima banyak pujian internasional.  

Merekalah pahlawan yang sesungguhnya. Adi adalah pahlawan yang sesungguhnya, yang bekerja dalam senyap untuk mengirimkan pesan kepada anak-anak bangsa, ada sesuatu yang tertinggal di belakang dan harus kita jemput: Hendaknya kita tidak lupa sejarah.

Barangkali untuk mengungkap sejarah kelam harus dimulai dengan diam-diam. Seperti revolusi. Kekuatan rakyat dihimpun secara bertahap hingga rakyat cukup kuat untuk menuntut pemerintah? Entahlah. 

Tapi yang pasti, seperti Adi, saya berharap hari itu akan tiba. Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan hari esok, mungkin bukan pula lusa. Tapi di tiap hari akan terus tumbuh harapan, kita hanya cukup untuk tidak lupa. 

Lagipula, manakah yang lebih pantas mendapat tempat? Kebohongan yang dipoles dengan indah bagaikan kaca, ataukah kebenaran yang terlebih dahulu harus digosok dengan tekun sebelum menjadi berlian 24 karat? 

Hingga hari itu tiba, saya harap film garapan seperti ini akan terus bergulir. Untuk mengetuk tiap-tiap hati dan kesadaran anak bangsa, termasuk pemerintah, dalam menyingkap tabir gelap tersebut. 

Hingga hari tersebut, saya berharap akan ada Adi dan Adi lainnya yang memberitakan kepada dunia, amnesia kolektif kita telah sembuh. Saya berharap kebenaran dari Adi akan jadi awal untuk kebenaran-kebenaran lainnya.

Dan seluruh korban, apakah ia penyintas maupun jagal, dapat berangkulan dan saling memaafkan. —Rappler.com

Karolyn Sohaga adalah seorang aktivis sosial yang memiliki minat pada sastra, isu perempuan, dan hak asasi manusia.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.