Negosiasi turunkan emisi di taman Pentagonito

Uni Lubis
Negosiasi turunkan emisi di taman Pentagonito
KTT Perubahan Iklim yang digelar di Lima, Peru, pekan ini diharapkan menghasilkan draf untuk disepakati di COP 21 tahun depan di Paris. Tahun ini panas bumi dan permukaan laut mencatat rekor tertinggi.
            

Tiga hari ini saya mengikuti pertemuan puncak konferensi perubahan iklim (UNFCCC) dan konferensi para pihak (COP 20) di Lima, Peru. Acara dilakukan di kawasan Pentagonito, yakni markas Kementerian Pertahanan Peru. Letaknya di San Borja, sekitar 45 menit naik mobil dari tempat saya menginap di kawasan wisata Pantai Miraflores.   

Di Pentagonito ini pula, tahun 2008 berlangsung pertemuan puncak pemimpin ekonomi negara anggota organisasi kerjasama Asia Pasifik, APEC. Saat itu saya meliput kegiatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di APEC.            

Pentagonito dipilih sebagai lokasi pertemuan global karena dianggap mudah pengamanannya. COP 20 adalah pertemuan terbesar dari jumlah peserta yang pernah digelar di Lima, ibukota Peru. Jika KTT APEC diadakan di kantor pusat Kementerian Pertahanan, sebuah gedung bertingkat di tengah Pentagonito, COP 20 diadakan di puluhan tenda yang didirikan di halaman. Sangat luas. Berjalan dari satu zona ke zona lain lumayan keringatan. Apalagi udara di Lima meskipun di siang hari lembab dan cukup panas. Tidak sepanas Jakarta, sih.             

Begitupun, COP 20 dilaksanakan tak lama setelah Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) mengumumkan bahwa tahun 2014 adalah tahun terpanas dalam setengah abad terakhir. “Dua puluh tahun negosiasi harusnya cukup. Pemanasan global makin nyata kita rasakan. Saya ingin KTT Peru hasilkan draf kesepakatan untuk disetujui di Paris tahun depan,” kata Presiden Peru, Ollanta Humala.  

Momentumnya ada, karena dua negara penghasil emisi gas rumah kaca terbesar, Tiongkok dan AS, sudah mengumumkan komitmen menurunkan emisi GRK dengan signifikan pada 2020 dan 2030. Pengumuman dilakukan di sela-sela pertemuan APEC di Beijing bulan lalu.            

Tak kurang dari 9.000 peserta, termasuk pengamat, memenuhi arena COP 20. Direktur pengelola Dana Moneter Internasional Christine Lagarde dan Pemenang Nobel Perdamaian 2007, Rajendra Kumar Pachari, yang juga ketua panel sains Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) hadir di sini.   

Bianca Jagger, mantan istri rocker gaek Mick Jagger, vokalis kelompok band Rolling Stones, juga ikut berbicara dalam sesi soal pelibatan masyarakat adat, masyarakat asli. Bianca yang masih menggunakan nama Jagger di tanda pengenalnya, sejak lama dikenal sebagai aktifis lingkungan hidup. Dia banyak bersentuhan dengan masyarakat asli, termasuk di hutan Amazon.            

Nama-nama kondang itu berbaur dengan pejabat dari 200 negara yang menjadi peserta COP 20. Tujuan bersama adalah membatasi pemanasan atau emisi gas rumah kaca maksimal 2 derajat Celsius di atas angka masa sebelum era industri, sebagaimana semangat penyelenggaraan KTT Perubahan Iklim ini.  

“Kita tidak bisa menunggu tahun depan untuk merasakan bumi yang kian panas, “ kata Christiana Figueres, ketua komisi perubahan iklim PBB.            

WMO melaporkan bahwa rata-rata temperatur bumi dan permukaan laut periode Januari-Oktober, sekitar 0,57 derajat Celsius di atas rata-rata 14 derajat Celcius pada 1961-1990. Angka saat ini juga 0,09 derajat Celcius di atas rata-rata suhu bumi dan permukaan laut dalam 10 tahun terakhir.             

Selama hampir dua pekan, ratusan diskusi, dialog, negosiasi sampai forum pleno digelar di COP 20. Menurut saya, yang pernah mengikuti COP sebelumnya, termasuk di Bali dan Kopenhagen, asumsi, argumentasi, dan rekomendasi solusi yang muncul masih sama. Yang menonjol dibanding tahun sebelumnya kali ini adalah pembicaraan terkait dengan Climate Finance dan Green Investment. Soal energi terbarukan untuk secara signifikan menggantikan bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan batubara juga banyak dibahas. Kelompok negara Teluk membuka pavilion cukup besar dan menyajikan inovasi energi terbarukan yang mereka jalankan. Negara Teluk selama ini dikenal sebagai negara penghasil dan pengekspor minyak. Tapi, mereka menyadari, pengembangan energi terbarukan tidak bisa menunggu.            

Pentagonito, lokasi COP  20, menyimpan cerita horor yang mungkin tidak banyak disadari peserta. Di lokasi ini, disebutkan bahwa rezim Presiden Peru, Alberto Fujimori, melakukan serangkaian tindakan pelanggaran hak asasi manusia, termasuk pembunuhan. Jurnalis Ricardo Uceda dalam bukunya, Kematian di Pentagonito, mengutip pengakuan Jesus Sosa, mantan perwira intelijen Peru yang mengaku terlibat eksekusi di markas itu. Presiden Fujimori saat berkuasa disebutkan memiliki kamar pribadi di sana.             

Nuansa horor di balik Pentagonito sudah hilang. Yang ada adalah taman-taman yang terawat rapi dan nampak baru ditanami bebungaan. San Borja, nama kawasan di mana Pentagonito berdiri, kini berkembang menjadi daerah pemukiman kelas menengah Peru. Di lokasi acara, ada taman di mana panitia meletakkan sejumlah kursi untuk tempat istirahat peserta yang penat mengikuti rangkaian acara.  

“Kuncinya adalah negosiasi,” kata Rachmat Witoelar, ketua Dewan Perubahan Iklim, yang memimpin delegasi Indonesia. Negosiasi bisa mengambil tempat di mana saja, termasuk di taman-taman di Pentagonito. —Rappler.com

Uni Lubis, mantan pemimpin redaksi ANTV, nge-blog tentang 100 Hari Pemerintahan Jokowi. Follow Twitter-nya @unilubis dan baca blog pribadinya di unilubis.com.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.