
Apa yang dilakukan oleh Front Pembela Islam (FPI) dengan membentuk gubernur tandingan di Jakarta sebenarnya bukan hal baru. Pembangkangan publik semacam ini sudah berkali-kali terjadi di Jakarta, setidaknya saat itu Jakarta masih bernama Batavia dan FPI belum terbentuk.
Dalam buku Pemberontak Tak (selalu) Salah: 100 pembangkangan di Nusantara, Petrik Matanasi mencatat ada empat pemberontakan di sekitar Jakarta. Pemberontakan Entong Endut (1916), Pemberontakan di Pangeran Alibasah (1869), Pemberontakan Slipi, Tanah Abang, dan Cakung (1913), dan Pemberontakan Kaiin Bapak Kayah (1924).
Sejarawan Betawi, Alwi Shahab, dalam blognya juga menuliskan banyak pemberontakan dan pembangkangan sipil yang terjadi di sekitar Jakarta. Konflik di Jakarta dan sekitarnya kebanyakan berlatar perebutan lahan atau konflik agraria. Juga pembangkangan atas dasar menolak penindasan yang dilakukan penguasa.
Maka ketika Fahrurrozi Ishaq dipilih FPI untuk jadi gubenur tandingan dengan alasan agar Jakarta tak diselewengkan oleh Gubernur yang sebenarnya, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama, sebenarnya memiliki landasan historis yang panjang.
Bukankah pada 1945-1947 Jakarta juga bukannya gubernur tandingan? Yang satu pro Sri Ratu, Walikota Drs. A.Th. Boogaard sementara yang satu lagi pro Republik, Gubenur Suwiryo.
Tapi menarik bagaimana Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi berkata pada Rappler Indonesia bahwa prioritasnya sebagai Gubenur tandingan adalah menjadikan Jakarta sebagai Ibukota yang agamis dan religius, serta aman dan nyaman. (BACA: Jakarta, sambut ‘gubernur’ baru Anda!)
Maka sebagai salah satu warga yang ingin percaya pada beliau, saya ingin merekomendasikan beberapa tempat untuk melakukan perbaikan mental, akhlak sekaligus ajang dakwah. Tempat-tempat seperti Alexis Hotel, Malioboro Hotel, Orchards, Illigals Hotels and Clubs, dan Magnolia misalnya.
Bukankah kata Ketua FPI DKI Jakarta Salim Alatas, atau yang lebih akrab disapa Habib Selon, Alexis itu hotel tempat keluarga yang menginap bersama anak anak? Karena tempat itu adalah lokasi hiburan keluarga, maka ini adalah tempat yang tepat untuk memulai kampanye dakwah.

Bukankah Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi sendiri yang berkata akan blusukan gaya ustadz, mengajar, memberikan masukan akan iman, sehingga mereka menerima apa yang ditakdirkan Allah? Hotel seperti Alexis adalah tempat yang paling tepat, Pak.
Tentu ini adalah pekerjaan mudah bagi Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi. Toh selama ini bukankah beliau telah terbukti memiliki rekam jejak yang mumpuni sebagai guru mengaji di sebuah yayasan di Rawa Bunga?
Sebagai seorang ulama, beliau tak silau jabatan. Konon untuk duduk sebagai Gubenur Tandingan, Ustadz Fahrurrozi menolak tiga kali ajakan untuk menjadi gubenur. Sebuah sifat dan mental yang jarang ditemui di tengah zaman yang silau dengan jabatan.
Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi boleh jadi revolusioner dan unik. Ia mampu membaca keinginan masyarakat kota Jakarta yang haus akan iman dan dakwah agama.
Bukan saja beliau menjanjikan blusukan gaya ustadz, Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi menjanjikan beberapa cara penanganan masalah kemacetan di Jakarta. Menurutnya kendaraan tidak boleh ditambah terus, ia ingin membuat regulasi supaya kendaraan teratur.
Di sisi lain saya kira Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi perlu membuat regulasi tentang penggunaan helm atau kopiah saat konvoi. Ini penting pak, karena dominasi helm SNI yang notabene produk asing kafir sungguh mengkhawatirkan, bisa jadi jalanan kita dipenuhi produk asing mulai dari motor hingga helm.
Untuk itu perlu ada penyeimbang kopiah yang asli buatan dalam negeri. Bukankah kopiah lebih aman daripada helm? Coba saja lempar helm dan kopiah dari jalan layang pancoran, mana yang pecah dan mana yang tetap utuh.
Selain itu, saya kira Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi perlu memikirkan juga ucapan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda KH Zaini Naim. Menurut beliau polisi tidur bisa jadi haram apabila mencelakakan umat. Bayangkan, Pak, apabila pendukung Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi yang kebanyakan naik motor itu jatuh dan syahid di jalan karena polisi tidur. Bukankah kita berlaku zalim kepadanya? Perjuangan masih panjang, kok syahid duluan, alasannya bukan jihad melawan kafir tapi karena polisi tidur.
Untuk itu Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi, sebagai pendukung, saya ingin merekomendasikan pelarangan polisi tidur di Jakarta.
Saya kira kita perlu memberikan kesempatan kepada Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi bekerja. Dengan memberi kesempatan, maksud saya kita perlu memberikan ia bantuan dana.
– Arman Dhani
Saya sendiri percaya jika Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi memiliki kualitas kepemimpinan yang zuhud. Bukan saja tidak pernah memiliki suudzon (pandangan buruk) pada orang lain, tapi selalu huznudzon. Lihat betapa beliau dengan rendah hati mengatakan bahwa pada zaman Pak Fauzi Bowo tidak pernah ada banjir hebat. Bukankah Pak Foke sendiri yang bilang kalau di Jakarta itu hanya ada genangan air. Harus dibedakan antara banjir dan genangan.
Meski harus memiliki sikap huznudzon, tapi kita jangan sampai larut pada rasa nyaman dan tidak waspada. Bisa jadi memang banjir di Jakarta ini dibuat oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Meski mantan wartawan Tempo Nurlis Effendi, dalam salah satu artikelnya, pernah berkata bahwa Jakarta memiliki masalah banjir yang akut. Riwayat banjir ini pun kalau dilacak sanadnya bisa sampai zaman Jan Pieterszoon Coen berkuasa 1619.
Jakarta pun telah dilanda banjir besar pada 1621, 1654, dan 1918. Rupanya kegagalan ini berlanjut terus hingga Indonesia merdeka. Banjir besar terjadi lagi pada 1976, 1996, 1997, dan 2007 ketika Sutiyoso masih berkuasa. Saat itu 10 orang tewas diterjang arus banjir. Kerugian material akibat matinya perputaran bisnis diperkirakan mencapai 4,3 triliun rupiah. Warga yang mengungsi mencapai 320.000 orang hingga 7 Februari 2007.
Tapi sekali lagi tolong dibedakan antara genangan dan banjir. Barangkali Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi bersepakat bahwa banjir tahun 2007 bukanlah bencana besar, tapi genangan hebat, itupun terjadi saat Sutiyoso menjabat, bukan saat Pak Foke. Secara teknis Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi tidak salah dong. Maka penting untuk mempercayakan masalah banjir kepada ahlinya, siapa lagi kalau bukan ustadz Fahrurrozi.
Sebagai penutup saya kira kita perlu memberikan kesempatan kepada Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi bekerja. Dengan memberi kesempatan, maksud saya kita perlu memberikan ia bantuan dana. Jika pada zaman Pitung, Rais dan Ji’I para pemimpin yang memberikan bantuan kepada rakyat miskin, maka di zaman modern ini saya kira hal itu harus diubah.
Kini saatnya pemimpin yang diberikan bantuan agar bisa bekerja. Bukankah hal serupa pernah dicontohkan oleh pemimpin besar Islam macam Marwan bin Hakam atau Yazid bin Muawiyah pada zamannya? Maka saya kira Bapak Gubenur Tandingan Fahrurrozi perlu kita beri dukungan serupa. —Rappler.com
Arman Dhani adalah seorang penulis lepas. Follow Twitternya @Arman_Dhani.
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.