Aceh anugerahkan gelar ‘Sri Paduka Tuan Seberang’ pada 35 negara

Nurdin Hasan
Aceh anugerahkan gelar ‘Sri Paduka Tuan Seberang’ pada 35 negara
Tiga puluh lima negara dianugerahi gelar Sri Paduka Tuan Seberang karena telah membantu Aceh membangun kembali daerahnya. Namun penganugerahan itu tak bisa disaksikan semua masyarakat Aceh.

BANDA ACEH, Indonesia – Pemerintah Aceh menganugerakan penghargaan tertinggi dalam bidang kemanusiaan dan kepedulian terhadap lingkungan kepada masyarakat dunia sebagai wujud terima kasih atas partisipasi mereka memulihkan provinsi ujung barat Indonesia yang porak-poranda dihumbalang tsunami, 10 tahun silam.

Penyerahan penghargaan “Meukuta Alam” dilakukan Gubernur Aceh Zaini Abdullah kepada 35 perwakilan negara sahabat pada peringatan puncak satu dekade bencana gempa dan tsunami yang dipusatkan di Lapangan Blang Padang, ibukota Banda Aceh, Jumat (26/12).

Perwakilan negara sahabat yang menerima anugerah dengan gelar “Sri Paduka Tuan Seberang” adalah Amerika Serikat (AS), Malaysia, Singapura, Jepang, Jerman, Belanda, Perancis, Portugal, Oman, Slovakia, Swedia, Irlandia, Denmark, Inggris, Norwegia, Skotlandia, Finlandia, Italia, Turki, Swiss, Australia, Selandia Baru, Republik Ceko, Uni Eropa, India, Belgia, Spanyol, Sudan, Armenia, Bangladesh, Korea Selatan, Kanada, China, Polandia dan Azerbaijan. Total jumlahnya 35 negara.

Ketika tsunami menerjang Aceh pada Minggu pagi, 26 Desember 2004 lampau, di lapangan itu sedang berkumpul ratusan orang untuk mengikuti lomba lari 10 kilometer. Akibat tsunami, di tempat itu bergelimpangan mayat-mayat korban dan tumpukan sampah. Sebagai bagian dari peringatan 20 tahun tsunami, Minggu (28/12), akan digelar lomba lari 10 kilometer dengan rute kawasan yang pernah terkena tsunami.

Pasca-rekonstruksi Aceh, lapangan itu juga disebut  ‘Thanks to The World Park’, yang telah dibangun memorial berbentuk gelombang serta kepala boat dengan bendera negara-negara yang terlibat dalam proses pemulihan kembali Aceh di sepanjang jalur track lari.

Selain ribuan warga Aceh, peringatan 10 tahun tsunami juga dihadiri Wakil Presiden, M. Jusuf Kalla, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said, yang juga pernah terlibat langsung dalam pemulihan Aceh sebagai seorang deputi Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias, Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan, serta perwakilan lembaga PBB, donor dan NGO internasiola yang membantu Aceh pasca-tsunami.

Untuk mengenang 10 tahun tsunami juga diputar film dokumenter saat detik-detik gelombang laut berwarna hitam menghantam kota Banda Aceh, diiringi lantunan lagu Aneuk Yatim (Anak Yatim) oleh penyanyi ternama Aceh, Rafly. Saat menyaksikan kembali tsunami menerjang Aceh, puluhan orang — terutama perempuan —  tak mampu membendung air mata.

Sebagai bentuk terima kasih kepada dunia, anak-anak belia Aceh menggelar tarian ‘Thanks to the World’. Mereka membawakan semua bendera negara yang pernah membantu Aceh saat proses rehabilitasi dan rekonstruksi. “Terima kasih kepada dunia yang telah membantu kami,” ujar seorang bocah dalam bahasa Inggris yang fasih.

Percepat penyelesaian konflik

BANTUAN. Usai tsunami menerjang Aceh, bantuan berdatangan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Total 35 negara yang aktif membantu Aceh untuk bangkit/Rappler

Gubernur Zaini dalam sambutannya mengucapkan terima kasih pada semua negara, lembaga donor dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), NGO lokal, nasional, dan internasional yang melaksanakan misi kemanusiaan sejak tahap tanggap darurat hingga masa rekonstruksi selesai.

“Kita patuh memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah membantu Aceh. Bencana ini tidak hanya menimbulkan korban ratusan ribu jiwa, tapi juga memporak-porandakan Aceh. Respon yang cepat dari berbagai belahan dunia sangat luar biasa untuk membantu Aceh,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan tsunami telah mempercepat penyelesaian konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Pemerintah Indonesia. Zaini sendiri adalah bekas Menteri Luar Negeri Pemerintahan GAMdi pengasingan, Swedia. Akibat konflik yang terjadi di Aceh selama hampir 30 tahun telah menewaskan lebih dari 25.000 orang, sebagian besar warga sipil. GAM dan Indonesia menandatangani perjanjian damai di Helsinki pada 15 Agustus 2005.

“Hikmah terbesar dari musibah tsunami adalah mempercepat proses penyelesaian konflik. Hikmah tsunami adalah adanya perhatian masyarakat global terhadap Aceh,” katanya. “Kami mengimbau seluruh dunia untuk bisa memperkuat solidaritas dalam menghadapi bencana yang terjadi di berbagai belahan dunia lain.”  

Sementara itu, Jusuf Kalla yang saat tsunami terjadi juga menjabat sebagai Wakil Presiden menjelaskan kilas balik keterlibatannya saat penanganan Aceh di awal-awal bencana. Dia juga membicarakan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk segera merintis perundingan dengan GAM karena tanpa perdamaian, akan sulit membangun kembali Aceh.

Menurut Jusuf Kalla, tsunami di Aceh telah menggalang solidaritas masyarakat dunia sangat luar biasa besarnya. Solidaritas yang ditunjukkan dunia, kata dia, harus menjadi pembelajaran bahwa sesuatu yang berat dapat diselesaikan dengan kebersamaan dan persatuan.

“Saya berterima kasih kepada masyarakat internasional yang segera datang ke Aceh padahal waktu itu Aceh tertutup (karena di Aceh sedang berlangsung operasi militer untuk memburu gerilyawan GAM). Tapi, (karena tsunami) kita segera membukanya,” ujarnya. “Persatuan lebih hebat saat kita sakit daripada ketika kita senang.”

Jusuf Kalla menambahkan bahwa Aceh hari ini sudah lebih baik dibanding 10 tahun berkat bantuan dan uluran tangan dari seluruh dunia. “Anak-anak TK, anak-anak SD, SMP di Kanada, di Jerman dan di seluruh dunia menyisihkan uang jajan mereka untuk dikirim ke Aceh,” ungkapnya.

Momentum peringatan 10 tahun tsunami, lanjut Jusuf Kalla, harus dapat digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan bangsa dan sekaligus melihat Aceh menjadi lebih baik lagi di masa mendatang.

“Jika kita lihat kerusakan akibat tsunami dulu, banyak orang tak percaya kalau Aceh dibangun seperti kita saksikan hari ini. Itu semua bisa terwujud berkat bantuan dari Anda. Tanpa bantuan internasional, tanpa bantuan relawan yang datang dari seluruh dunia, tentu Aceh tidak bisa jalan,” ujarnya.

Kecewa tak boleh masuk

MENANGIS. Rahimah, ibu rumah tangga berumur 65 tahun dari Kabupaten Bireuen menangis karena tak bisa masuk ke tenda peringatan 10 tahun tsunami di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh, Jumat (26/12). Pada peringatan satu dekade tsunami, Pemerintah Aceh menganugerahkan penghargaan tertinggi kepada 35 perwakilan negara sahabat. Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

Kendati peringatan 10 tahun berlangsung dalam suasana khidmat, ada ribuan warga dilarang masuk dalam tenda karena tak memiliki undangan. Akibatnya mereka hanya berdiri agak jauh di sekeliling tenda yang dibangun khusus untuk tamu undangan. Di sekitar tenda putih, tanahnya becek akibat hujan lebat mengguyur Banda Aceh sejak sepekan lalu.

Teungku Syamaun, seorang warga  berusia 66 tahun, yang khusus datang dari Meulaboh, ibukota Kabupaten Aceh Barat, harus kecewa karena tidak boleh masuk sebab ia tak punya undangan.

“Saya sangat sedih karena jauh-jauh datang untuk ikut peringatan 10 tahun tsunami di sini, tetapi dilarang masuk. Kalau tahu kejadian begini, lebih baik saya ikut acara di Meulaboh,” katanya seraya menyebutkan,  86 anggota keluarga besarnya jadi korban.

Rahimah, ibu rumah tangga  65 tahun yang khusus datang dari Kabupaten Bireuen – sekitar 210 timur Banda Aceh – menangis tersedu-sedu karena tidak bisa masuk ke tenda untuk ikut berdoa. Perempuan yang kehilangan anak, menantu dan dua cucunya sengaja datang ke peringatan 10 tahun tsunami, tapi harus kecewa.

‘Saya setiap tahun datang ke Banda Aceh untuk mendoakan keluarga anak saya yang waktu tsunami tinggal di Desa Punge. Mayat mereka tidak pernah ditemukan,” kata perempuan itu sambil menyeka air mata.

Kekecewaan juga dirasakan Ernifa,  ibu rumah tangga  59 tahun, yang datang ke Lapangan Blang Padang bersama lima rekannya dari sebuah desa di Banda Aceh. Sebelum datang ke Blang Padang, Ernifa yang mengaku kehilangan lima orang keluarganya, telah berziarah ke kuburan massal di Ulee Lheue – tempat dimakamkan lebih dari 14.260 korban tsunami.

“Saya setiap tahun datang ke acara peringatan tsunami, tapi baru kali ini dilarang masuk,” kata perempuan yang selamat dari  tsunami karena tersangkut di atap rumah setelah sempat digulung dalam pusaran gelombang.

Sambil menggerutu, Ernifa dan kawan-kawannya memutuskan untuk kembali lagi ke kuburan massal  dan berdoa bersama warga lain. Beberapa kuburan massal lain juga diziarahi keluarga korban selamat untuk mendoakan orang-orang tersayang. Desa-desa dan daerah-daerah lain yang terkena bencana memperingati 10 tahun tsunami dengan kenduri dan doa bersama.  –Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.