Pedagang Pasar Klewer Solo bangkit dari musibah kebakaran

Arfi Ahmad
Kepala Dinas Pengelola Pasar Surakarta Subagyo menyatakan bahwa biaya untuk membangun Pasar Klewer mencapai Rp 170 miliar.

PASAR KLEWER. Seorang petugas pemadam kebakaran sedang memandu pekerja lainnya untuk membersihkan puing-puing kebakaran di Pasar Klewer Solo, Selasa, 30 Desember 2014/Rappler

SOLO, IndonesiaWajah-wajah para pedagang Pasar Klewer Solo masih menyisakan duka setelah pasarnya terbakar pada Sabtu akhir pekan kemarin. Di balik kesedihan tersebut, mereka masih memiliki optimisme bakal bangkit dari keterpurukan. Mereka tetap akan berjualan baju dan kain batik seperti semula.

 “Ini bisnis dari warisan orang tua kami,” kata Abdullah, salah seorang pedagang, Selasa (30/12). Semula, dia hanya mendapat warisan berupa satu kios. Di tangannya, bisnis itu berkembang sehingga mampu memiliki dua kios. Hanya saja dua kios beserta barang dagangannya hangus saat api membakar pasar tersebut.

 Bisnis turunan itu membuatnya merasa berkewajiban untuk mengembangkan lagi usaha tersebut. Dia akan kembali berjualan apabila pemerintah telah membuatkan pasar darurat serta merenovasi Pasar Klewer. Meski kerugiannya mencapai ratusan juta rupiah, Abdullah mengatakan bahwa dia masih memiliki tabungan untuk memulai usaha. “Harus merintis lagi dari nol,” katanya.

 Pedagang yang lain, Lia mengaku tidak semua barang dagangannya terbakar. Dari tiga kios yang dimiliki, satu diantaranya luput dari terjangan api. “Dagangannya bisa digunakan untuk modal memulai usaha lagi,” katanya.

 Sembari menunggu pembangunan pasar selesai, untuk sementara dia akan memindahkan barang dagangannya di rumah. Dia beruntung memiliki cukup banyak pelanggan loyal yang biasa memesan barang melalui telepon dan surat elektronik. “Masih bisa terus melayani pembeli meski hanya dari rumah,” katanya.

Sementara, Himpunan Pedagang Pasar klewer (HPPK) masih terus mendata ulang identitas para pedagang di pasar tersebut. Pendataan dilakukan di halaman Masjid Agung yang berada di sebelah utara pasar. Pendataan dilakukan sehubungan dengan rencana pemerintah untuk menyediakan pasar darurat agar pedagang tetap bisa berjualan.

 Renovasi Butuh Rp 170 Miliar

Kepala Dinas Pengelola Pasar Surakarta Subagyo menyatakan bahwa biaya untuk membangun Pasar Klewer mencapai Rp 170 miliar. Sedangkan pembangunan pasar darurat bisa mencapai Rp 28 miliar. Besarnya untuk pasar darurat cukup besar lantaran tetap harus memenuhi aspek keamanan dan kenyamanan mengingat besarnya transaksi yang ada di pasar tersebut.

 Rencananya, Pasar Klewer akan direnovasi sesuai dengan bentuk aslinya. “Bentuk dan jumlah lantainya sama, hanya akan ditambah dengan basement,” katanya. Penyediaan basement diperlukan untuk mengatasi keterbatasan tempat parkir. Selama ini, parkir di Pasar Klewer yang ruwet sering menjadi penyebab kemacetan lalu lintas.

 Sedangkan pasar darurat rencananya akan disediakan di dalam Benteng Vastenburg. Sekretaris Daerah Kota Surakarta Budi Suharto mengatakan pihaknya telah berkirim surat kepada pemilik lahan di tengah kota yang sudah lama tidak terpakai itu. “Surat sudah kami kirimkan Senin kemarin,” katanya.

 Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Surakarta Tegus Prakosa juga mendukung langkah pemerintah untuk membangun pasar darurat. “Jangan sampai usaha para pedagang terhenti akibat kebakaran ini,” katanya. Menurutnya, perdagangan di PAsar Klewer memberi kontribusi yang cukup besar bagi perekonomian di kota tersebuit.

Satu Tahun Pasar Harus Jadi

Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta agar renovasi Pasar Klewer bisa diselesaikan dalam waktu satu tahun. Hal itu dikatakan saat meninjau lokasi bekas kebakaran Pasar Klewer. “Nanti pemerintah pusat akan membantu,” katanya.

Peninjauan itu dilakukan setelah Kalla bertemu dengan keluarga penumpang Air Asia di Surabaya. Kalla bersama rombongannya langsung terbang ke Solo dan meninjau bekas kebakaran tersebut.

Dia mengatakan bahwa pembangunan kembali Pasar klewer harus dilakukan secara gotong royong. Anggaran untuk membangun pasar tidak hanya ditanggung oleh pemerintah daerah. “Pemerintah provinsi dan pusat juga ikut,” katanya. –Rappler.com