Mengulik kerja tim DVI AirAsia

Diah Rizki
Salah satu metode primer yang sangat membantu identifikasi, selain DNA, adalah rekam gigi. Bagaimana prosesnya?
Gerombolan wartawan mencoba mengambil gambar keluarga korban AirAsia QZ8501 di Crisis Center Bandara Juanda, Surabaya, pada 29 Desember 2014. Foto oleh Manan Vatsyayana/AFP

SURABAYA, Indonesia — Sudah hampir dua pekan sejak pesawat AirAsia QZ8501 jurusan Surabaya-Singapura terjatuh di perairan, Minggu, 28 Desember silam. Tim search and rescue (SAR) gabungan bekerja keras mengevakuasi 155 penumpang dan 7 awak pesawat. Hingga hari ini, Jumat (9/1), sudah ditemukan 48 jenazah, kebanyakan dari mereka mengambang di perairan, sedangkan sebagian ditemukan masih mengenakan sabuk pengaman di kursi pesawat.

Setelah dievakuasi, para korban dibawa ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, sebelum diberangkatkan ke Surabaya, Jawa Timur, untuk proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI). Sampai Kamis (8/1) tim DVI telah berhasil mengidentifikasi 25 jenazah dan akan terus bertambah setiap harinya.

Beragam cara dikerahkan oleh tim DVI untuk mengenali identitas korban. Beberapa kali tim DVI kesulitan mengenali korban karena mereka sudah terlalu lama berada di dalam air. Teknik yang digunakan DVI mengikuti standar baku pihak Interpol.

Dalam konferensi pers yang digelar setiap harinya setelah pesawat AirAsia QZ8501 jatuh, tim DVI mengungkapkan metode identifikasi yang digunakan. Pertama, menggunakan metode primer yang meliputi sidik jari, catatan kesehatan gigi, dan DNA. Ditambah dengan dengan metode identifikasi sekunder, atau pendukung, yang meliputi catatan medis, properti, dan fotografi.

DVI bekerja dengan membandingkan data ante mortem dan post mortem korban, untuk menemukan kecocokan di antara keduanya. Ante mortem adalah ciri-ciri khas yang dimiliki korban pada tubuhnya, seperti bentuk gigi, sidik jari, tanda lahir, atau pakaian yang dikenakan sebelum meninggal dunia. Data ante mortem biasanya didapat dari keterangan pihak keluarga atau kerabat korban.

Sedangkan post mortem adalah ciri-ciri fisik korban setelah meninggal dunia.

Walikota Surabaya Tri Rismaharini mendata diri korban AirAsia QZ8501 di Crisis Center Bandara Juanda, pada 29 Desember 2014. Foto oleh Kartika Ikawati/Rappler

Rappler Indonesia berkesempatan mengintip proses kerja tim DVI di posko ante mortem di Surabaya, di mana setiap harinya mereka berkutat dengan data-data korban, tanpa kenal lelah. Di posko ante mortem inilah seluruh keterangan tentang korban didapatkan.

Terdapat beberapa pos di dalam posko ante mortem, Crisis Center, Polda Jawa Timur. Berikut rinciannya:

Pertama adalah pos pengumpulan foto. Di pos ini, foto-foto penumpang sebelum kecelakaan dikumpulkan untuk berkas identifikasi.

Kedua, pos penyerahan data ante mortem. 

Pos ini bertugas untuk mengumpulkan data-data medis. Data medis yang bersangkutan berupa jenis kelamin, usia, tinggi badan, berat badan, dan semacamnya. Data-data tentang tanda khusus korban juga dikumpulkan, seperti bekas operasi, bekas luka sayat, tindik, tato, tanda lahir, dan sebagainya.

Ketiga, pos rekam gigi. Di pos ini, ada sekitar 6-7 dokter gigi dari instansi maupun akademisi yang bertugas. Data yang diambil berupa data riwayat perawatan gigi, foto x-ray gigi, dan foto klinis gigi. Misal, saat korban sedang tersenyum dengan menunjukkan giginya.

Keempat, pos DNA. Pos DNA ini mengumpulkan data dari tes DNA. Sampel pembanding yang diambil adalah dari garis vertikal. “Bisa dari orang tua, atau anak. Bisa juga dari barang-barang pribadi milik korban yang memang hanya dipakai oleh dirinya sendiri,” ungkap dr. Sri Handayani, quality control officer di posko ante mortem. 

Di pos DNA ini juga diambil data sidik jari korban yang diambil dari Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Ijazah yang bersangkutan. Dalam hal ini, tim Inafis yang bertanggung jawab untuk identifikasi sidik jari korban.

Kelima, pos rekaman CCTV. Pos CCTV ini digunakan untuk mengetahui properti apa yang dipakai korban sebelum terbang. Rekaman yang diambil saat sebelum boarding nantinya akan dicocokkan dengan properti yang ditemukan di posko post mortem.

Keluarga pun diminta menyerahkan data tentang properti korban. Misal, perhiasan apa yang korban pakai, di bagian tubuh mana perhiasan tersebut dikenakan, dan ciri-ciri dari properti itu sendiri. Foto-foto saat korban menggunakan properti tersebut juga dapat menjadi data tambahan.

Semua data-data yang diperoleh oleh tim DVI di posko ante mortem nantinya akan dicocokkan saat rapat pra-rekonsiliasi dan rekonsiliasi. Sejauh ini tim DVI mengusahakan untuk mengidentifikasi dari dua data primer, antara sidik jari, rekam gigi, atau DNA.

Rekam gigi, salah satu metode utama identifikasi

Tim dokter gigi forensik dari Kementerian Perhubungan sedang bertugas di posko ante mortem, Crisis Center, Polda Jatim. Foto oleh Diah Rizki/Rappler

Salah satu metode primer yang sangat membantu identifikasi, selain DNA, adalah rekam gigi. 

Bagaimana prosesnya? Berikut petikan laporan Rappler Indonesia dengan drg. Monika Shinta, salah seorang dokter gigi forensik dari Kementerian Perhubungan yang bertugas di posko ante mortem.

Untuk pemeriksaan gigi, data yang diminta adalah berupa data riwayat perawatan gigi, foto x-ray gigi, dan foto klinis. “Misal, saat korban sedang tersenyum apakah ada gigi yang tidak rapi,” ungkap Monika.

Menurut paparan Monika, saat terjadinya kecelakaan, walaupun tubuh hancur, gigi akan tetap bertahan. “Jadi gigi itu tetap akan utuh karena tahan suhu tinggi. Misal korban tenggelam, tubuh juga hancur, tapi gigi tetap tahan. Itulah kenapa gigi jadi identifikasi primer.”

Saat ditemui, Monika sedang melakukan rekap data rekam gigi. Semua gigi dicatat kondisinya. Mana yang hilang, tambalan gigi jenis apa, perawatan akar, mahkota, dan jaket, perawatan behel, juga penggunaan gigi palsu.

“Karena pasti semua orang itu beda. Pasti ada ciri khususnya. Nggak ada yang seratus persen sama,” terangnya.

”Gigi akan tetap utuh karena tahan suhu tinggi. Misal korban tenggelam, tubuh hancur, tapi gigi tetap tahan. Itulah kenapa gigi jadi identifikasi primer”

Lebih lanjut, Monika menjelaskan beberapa isi dari data ante mortem tim DVI. 

“Seluruh gigi kita catat. Ada gigi atas dan gigi bawah, kan ada 32. Misalnya si korban A, gigi paling atas kanan normal, lalu ada gigi yang ada tambalannya di permukaan kunyah. Itu kita kasih warna, tergantung tambalannya jenis apa, sewarna gigi atau hitam atau yang lain. Kita catat, ‘Gigi geraham atas kanan ada tambalan’. Posisinya juga, ternyata posisinya lebih maju dari yang normal. Lalu gigi yang hilang dicoret. Dan ternyata, yang bersangkutan setelah hilang [giginya] memakai gigi palsu,” jelasnya panjang lebar.

Semua data didapat lengkap dari pembacaan foto rontgen atau dokter gigi yang bersangkutan menyerahkan data rekam gigi yang bersangkutan.

Dari data tersebut, semua data akan dipindahkan ke data rekap besar keseluruhan, dan akan digunakan untuk pencocokan dengan data post mortem saat proses rekonsiliasi.

“Sekarang sudah lengkap data 155 penumpang dan 7 kru. Kita sedang merekam lagi untuk nanti rekonsiliasi,” pungkas Monika. —Rappler.com