Tak berada di Aceh, nasib dosen yang ajak mahasiswa ke gereja belum diputuskan

Nurdin Hasan
Tak berada di Aceh, nasib dosen yang ajak mahasiswa ke gereja belum diputuskan
Informasi yang beredar, Rosnida tidak lagi berada di Aceh karena merasa jiwanya terancam menyusul ancaman pembunuhan melalui media sosial.

BANDA ACEH, Indonesia – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Farid Wadji Ibrahim, menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memutuskan nasib Rosnida Sari, dosen yang mengajak mahasiswa belajar di gereja, karena harus mendengarkan keterangan dari yang bersangkutan.

“Saya harus ngomong dulu dengan dia baik secara pribadi maupun selaku rektor. Sebelum mendengar keterangan dari dia, kami belum bisa mengambil keputusan karena tidak benar kalau [keputusan] sepihak,” kata Farid di Banda Aceh, Selasa (13/1).

Rosnida adalah seorang dosen di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry sejak 2006 yang semester ini mengajarkan mata kuliah Studi Gender dalam Islam. Pada November lalu, dia mengajak sejumlah mahasiswanya ke sebuah gereja di Banda Aceh untuk belajar tentang “bagaimana agama lain melihat relasi  antara laki-laki dan perempuan.” 

Kamis lalu (8/1), Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry, Abdul Rani Usman, merekomendasikan kepada rektor untuk menonaktifkan sementara Rosnida dari kegiatan akademis. Rekomendasi itu diambil setelah pihaknya melakukan rapat senat dan dengar pendapat dengan dosen senior di lingkungan fakultas tersebut. (BACA: Dosen Aceh yang ajak mahasiswa ke gereja terancam dinonaktifkan)

Selain itu juga direkomendasikan agar Rosnida meminta maaf kepada pimpinan dan civitas akademika Fakultas Dakwah dan Komunikasi, rektor UIN Ar-Raniry, para orangtua mahasiswa, tokoh-tokoh masyarakat, dan seluruh masyarakat Aceh lainnya secara terbuka melalui media massa.

Farid mengaku dia telah menerima rekomendasi dari Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada Jumat (9/1) petang. Dia juga telah mempelajari rekomendasi itu, tetapi tetap belum bisa mengambil keputusan sebelum bertemu dan berbicara dengan Rosnida.

Screen shot dari laman Australia Plus, tulisan asli Rosnida Sari yang mengajak murid-muridnya ke gereja.

Informasi dari kalangan aktivis perempuan, Rosnida sejak beberapa hari telah tidak lagi berada di Aceh karena merasa jiwanya terancam menyusul adanya kecaman dan ancaman bunuh yang ditebarkan melalui media sosial. Telepon selulernya juga sudah tidak aktif lagi.

“Saya ditelepon Pak Kapolda [Aceh] yang menanyakan keberadaan Rosnida untuk diberikan pengamanan kepadanya. Tapi, sampai sekarang dia tidak diketahui,” kata Farid, seraya berharap supaya Rosnida segera menghubunginya.

Rektor UIN Ar-Raniry itu mengakui, kasus itu tidak bakal heboh kalau Rosnida saja tak menulis kegiatannya mengajak mahasiswa ke gereja di laman situs Australia Plus. Setelah tulisannya dikutip sejumlah media siber di Aceh dan disebar di Facebook, kasus itu ditanggapi beragam. Sejumlah komentar di Facebook malah mengancam Rosnida karena dianggap “telah melakukan pendangkalan aqidah terhadap mahasiswa.”

“Mungkin kalau dia tidak menulis, kasus ini tidak terjadi. Menurut Dekan [Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry], kesalahan dia karena tidak minta izin pada dekan karena biasanya kalau ada kegiatan belajar di luar kampus harus ada izin,” jelas Farid.

“Secara sosial dan budaya Aceh, hal-hal seperti itu masih peka. Memang masih tabu di Aceh hal-hal yang begitu. Sebagai orang Aceh, saya paham betul dalam masalah ini,” katanya, seraya menambahkan selama ini ada mahasiswa UIN Ar-Raniry dari Jurusan Perbandingan Agama yang juga belajar tentang agama selain Islam.

Ditanya sampai kapan pihak rektorat akan menunggu, Farid menegaskan bahwa dia akan tetap menantikan keterangan resmi dari Rosnida. Farid juga telah meminta kepada Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi untuk mencari dan membawa dosen itu bertemu dengannya.

Mengenai keputusan yang akan diambil, Farid menyatakan, dia tak ada memutuskan melebihi rekomendasi dari dekan. “Kalau non-aktif, saya pikir itu menguntungkan dia karena gajinya tetap dia terima,” katanya. “Saya juga juga berharap dia berjiwa besar untuk meminta maaf agar persoalan ini cepat selesai.”

Terkait desakan sejumlah kalangan supaya UIN Ar-Raniry mengkaji ulang pengiriman dosen belajar ke negara-negara Barat, Farid menyatakan bahwa pihaknya tidak akan melakukannya karena banyak lulusan dari universitas Barat yang lebih taat dalam menjalankan ibadah sesuai ajaran Islam. –Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.