Dua jempol untuk Mas Budi Gunawan

Arman Dhani
Dua jempol untuk Mas Budi Gunawan
Setelah mendukung Gubernur DKI Jakarta versi Front Pembela Islam Fahrurozi ishaq, hari ini Arman Dhani menyatakan dukungannya pada Kapolri terpilih Komisaris Jenderal Budi Gunawan. Apa alasannya?

Polemik tentang terpilihnya Budi Gunawan sebagai Kapolri, saya kira, adalah bentuk betapa tidak dewasanya bangsa ini. Lha piye? Wong Kapolri itu kan jabatan yang mentereng dan strategis, tentu orang yang mengisi jabatan ini adalah orang yang kredibilitasnya terjamin.

Ndak main-main, menjadi Kapolri artinya harus menjadi teladan, menjadi Kapolri artinya harus jadi rewang, pembantu, dan hamba masyarakat. Tentu orang yang menjabat Kapolri saya kira pada satu titik tidak lebih beda daripada batur, hamba yang melayani kepentingan publik.

Nah sebagai pendukung Mas Joko (Joko Widodo) paling kaffah, ogut merasa perlu melakukan pembelaan terhadap Mas Bud. Lho, ya jelas, di negara ini semua pendukung mas Joko kan harus membela dia mati-matian.

Pejah Gesang Nderek Jokowi (hidup mati ikut Jokowi). Semua pendukung Mas Joko nggak ada yang kritis dan adil, yang ada cuma pendukung yang buta-butaan. Untuk itu ogut menyusun empat alasan mengapa kita perlu mendukung Mas Bud.

Bapak yang baik

Sebagai seorang ayah, Pak Bud terbukti dapat mendidik anak dengan baik. Lha piye? Pada 2005 anak Pak Bud yang saat itu berusia 19 tahun bisa dapat pinjaman sebesar Rp 57 miliar, angka yang sangat luar biasa.

Orang biasa jelas tak mungkin dapat pinjaman sebesar itu. Di antara 28 juta orang miskin di Indonesia yang butuh pinjaman untuk bisa makmur, yang dipilih adalah anak Pak Bud. Kalau orang itu tidak kaya-kaya banget, ya jujur sekali.

Saya menduga yang kedua, sungguh merupakan hal yang haibat. Pak Bud punya anak yang kejujurannya bisa mendapatkan pinjaman dari orang asing dengan nilai USD 5.900.000, pada usia 19 tahun pula.

Saya aja pas masih 19 tahun masih galau-galaunya kuliah, ini anak pak Bud sudah visioner berniat bisnis di bidang pertambangan dan perhotelan.

Tentulah anak Pak Bud ini dapat pinjaman bukan karena bapaknya polisi, namun karena memang memiliki perencanaan bisnis yang bagus, kejujuran yang dijamin dan pengalaman kerja yang luar biasa.

Ya coba pikir saja, mana mungkin ada perusahaan yang mau ngasih duit miliaran kalau bukan karena terjamin duitnya akan balik modal. Hil yang mustahal, kan?

Oleh karena itu, mendidik anak hingga menjadi pebisnis yang sukses saja Pak Bud bisa, apalagi cuma memimpin institusi Polri. Gampang itu mah.

Rekeningnya gendut

Salah satu masalah besar yang konon banyak dicurigai pada Polisi adalah masalah korupsi. Polisi korup mungkin karena korup. Nah, rekening Pak Bud kan sudah gemuk, sudah banyak, terakhir dikatakan 21,5 miliar pada 2013, padahal pada 2008 hartanya cuma Rp 4,6 miliar.

Wah, dengan kekayaan itu Pak Bud nggak ada apa-apanya dibanding Aiptu Labora yang hartanya Rp 1,5 triliun. Wah, ini absurd, mosok jenderal hartanya kalah sama Aiptu?

Oleh karena itu pemilihan Pak Bud adalah sebuah langkah repolusioner. Dengan memilih jenderal yang rekeningnya cukupan, gemuk tapi nggak gemuk-gemuk banget, Mas Joko telah menerapkan prinsip mensana in corpore sano.

Dalam rekening yang sehat terdapat polisi yang sehat. Wong udah kaya kok, masa mau korupsi? Apalagi Kapolri pilihan Mas Jok ini sudah berjanji berkomitmen memberantas korupsi di tubuh Polri.

Nah, kan siapa tahu, ini siapa tahu, Pak Bud akan mulai komitmen ini dari dirinya sendiri.

Pemberani

Dalam banyak hal, kita tahu bahwa presiden adalah pemimpin tertinggi negara ini. Comander-in-chief, pemegang kekuasaan yang bisa melalukan apa saja yang dianggap penting untuk menjaga jalannya negara.

Maka pantas banyak orang di negeri ini agak gentar dan takut dengan sosok Jokowi. Lha gimana? Wong dia itu presiden kok, kalau mau, ia bisa saja mengumumkan perang atau bahkan keadaan darurat.

Maka dengan kekuasaan yang demikian besar kita wajib patuh kepadanya pada batas-batas yang ditetapkan konstitusi.

Nah, Pak Bud ini adalah sosok yang tegas dan pemberani. Menurut Tempo yang dikutip dari sumber yang tidak bisa disebutkan (walah kenapa ya?), konon katanya Mas Jok udah minta Pak Budi Gunawan untuk mundur dari pencalonan Kapolri.

Tapi ternyata, demi menegakan konstitusi, memberantas korupsi dan mencegah kejahatan di negeri ini, Pak Budi Gunawan menolak.

Bayangkan, ada orang yang berani menolak permintaan presiden kita! Demi memberantas korupsi yang sudah mendarah daging dalam negara kita, Pak Bud rela menolak permintaan presiden!

Juru damai yang baik

Seperti juga Prabowo, Pak Budi Gunawan dapat menyatukan kelompok kanan dan kiri. Liberal dan konservatif. Lebih daripada itu, Pak Bud bisa menyatukan Koalisi Merah Putih, yang menjadi oposisi, masuk dalam barisan pendukung pemerintah.

Pak Bud bisa membuat TV biru dan TV merah bersatu memberitakan hal yang sama tanpa harus kelahi. Bayangkan, belum jadi Kapolri saja saat itu dua kelompok berseteru tadi bisa langsung damai dan guyub, apalagi beliau sudah menjabat jadi Kapolri agak lama.

Setelah sekian lama berkelahi antara KMP (Koalisi Merah Putih) dan Koalisi Indonesia Hebat, Pak Bud dapat menyatukan semua kubu. Bahkan sempat melakukan foto bersama dengan senyum yang sangat lebar.

Calon Kapolri, Komisaris Jenderal Polisi Budi Gunawan (tengah), berfoto bersama anggota Komisi III DPR seusai mengikuti Uji Kepatutan dan Kelayakan di DPR (14/1). Foto oleh Dhemas Reviyanto Atmodjo/Tempo

Tentulah keluhuran budi, kejujuran, dan pesona Pak Bud mampu melunturkan permusuhan dua kubu tersebut. Tentunya kita berharap dengan Pak Bud maju terus menjadi Kapolri, beliau dapat mempersatukan nusantara di bawah Majapahit satu kesatuan yang utuh, tanpa adanya permusuhan. Dua jempol saya untuk Mas Bud. -Rappler.com

Arman Dhani adalah seorang penulis lepas. Tulisannya bergaya satire penuh sindiran. Ia saat ini aktif menulis di blognya www.kandhani.net. Follow Twitternya, @Arman_Dhani.

Add a comment

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.