Hubungan cinta dan benci antara Indonesia-Australia

Anton Muhajir
Hubungan cinta dan benci antara Indonesia-Australia
Partai Seks Australia mengajak warga negeri Kanguru memboikot pariwisata di Bali, tapi tak semua anggotanya setuju. Lalu bagaimana love and hate relationship antara Indonesia-Australia selama ini?

DENPASAR, Indonesia- Sebuah ajakan untuk memboikot pariwisata Indonesia, termasuk Bali, menjadi diskusi seru di Facebook sejak beberapa hari lalu. Ajakan tersebut ditulis di halaman Facebook The Australian Sex Party pada 12 Februari 2015.

We are calling on all Australian citizens who might be planning a holiday or a visit to Bali or anywhere in Indonesia to choose another tropical destination,” begitu ajakan Fiona Patten, pemimpin Partai Seks Australia, di halaman tersebut.

Ajakan itu disertai ilustrasi lima orang menggunakan tutup mata. Ada tulisan besar di bagian depan ilustrasi, BOYCOTT BALI.

 
//

Setelah ditulis, hanya dalam 2 hari saja, ajakan tersebut menuai banyak reaksi dari pengguna Facebook. Hingga pukul 14.30 WITA Minggu, 15 Februari 2015, status tersebut disukai 1.944 pengguna, dibagi 612 kali, dan mendapat hampir 1.800 komentar.

Komentar masih terus bertambah. Begitu pula mereka yang menyukai dan membagi status tersebut.

Sekilas saya lihat beberapa kali, sebagian besar pengguna Facebook menolak ajakan tersebut. Pengguna bernama Michael Obrien, misalnya, menyatakan tidak akan membatalkan rencana perjalannya ke Bali. 

Steve Glasson, warga Australia lainnya, malah mempertanyakan motif ajakan Partai Seks Australia tersebut. “Kalian serius atau hanya mencari suara? Mereka memang pelaku kriminal. Mereka telah diadili oleh sistem peradilan Indonesia,” tulis Glasson di bagian komentar status tersebut. 

Mengacu ke websitenya, Partai Seks Australia mengeluarkan ajakan tersebut terkait rencana eksekusi mati 2 warga Australia Andrew Chan dan Myuran Sukumaran.

Kedua warga Australia tersebut divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Denpasar pada 2006. Mereka terbukti membawa 8,3 kg heroin dari Bali hendak menuju Australia pada 2005. 

Hari-hari ini, mereka akan segera dieksekusi. Kabar yang beredar, Andrew dan Myuran segera dipindahkan ke Nusa Kambangan, pulau tempat untuk mengeksekusi keduanya.

Foto dua warga Australia Andrew Chan (kiri) dan Myuran Sukumaran (kanan) saat mendekam di penjara. Mereka akan segera dieksekusi. Foto oleh Jewel Samad/AFP

Sudah semingguan ini pula wartawan-wartawan di Bali, terutama yang bekerja untuk media Australia, terus berjaga di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kerobokan tempat keduanya saat ini dipenjara.

Karena itulah Partai Seks Australia mengajak agar warganya tidak berwisata ke Indonesia dan Bali sebagai bentuk protes.

Sikap warga Australia terbelah

Ajakan boikot terhadap Indonesia, termasuk Bali, tak cuma datang dari Partai Seks Australia. Ancaman serupa datang dari pemerintah Australia.

Kemarin, media menulis peringatan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop tentang kemungkinan boikot tersebut. (BACA: Will Australians boycott Indonesia over Bali Nine executions?)

Dia mengatakan situasi saat ini telah menciptakan ketegangan antara Australia dan Indonesia sebagai tetangga.

Bishop memperingatkan bahwa warga Australia mungkin akan memboikot pariwisata ke Indonesia jika eksekusi tetap dilaksanakan.

Kemarin, Perdana Menteri Australia Tony Abbot juga mengatakan hal sama dengan Menlunya. Dia meminta agar hukuman mati terhadap Andrew dan Myuran dibatalkan. (BACA: Abbot warns Indonesia of tough response to execution)

“Apa yang kami minta serupa dengan apa yang diminta Indonesia jika warganya mau dihukum mati,” kata Abbot. 

Perdana Menteri Australia Tony Abbot. Foto oleh Tom Compagnoni Australia and New Zealand Out/EPA

Di luar urusan para elite politik, warga Australia juga menggalang petisi agar pemerintah Indonesia membatalkan eksekusi tersebut. Petisi yang digalang Mercy Campaign tersebut telah ditandatangani lebih dari 76.000 orang. 

Jelaslah sudah. Rencana eksekusi dua warga negara Kanguru itu memang telah memicu penolakan dari warga Australia. Termasuk di dalamnya adalah boikot terhadap pariwisata ke Indonesia, termasuk Bali.

Agung Wardana, warga Bali yang sedang kuliah di Australia menyatakan penolakan itu memang kuat di Australia. Kandidat doktor hukum salah satu kampus di Perth ini mengatakan bahwa sebagian besar warga yang dia temui menolak rencana eksekusi tersebut. Australia sudah menghapus hukuman mati sejak lahirnya UU Penghapusan Hukuman Mati 1973. 

“Sebagai negara yang sudah menghapus hukuman mati, pemerintah Australia hanya menjalan tugasnya untuk menentang hukuman mati,” kata Agung saat dihubungi lewat Twitter.

Meskipun demikian, menurut Agung, ajakan boikot terhadap Bali memang tak akan efektif di Australia. Dia mengatakan sikap warga Aussie terhadap boikot itu terbelah, tergantung latar belakang sosial mereka.

Bagi mereka yang punya duit banyak, bisa saja mendukung boikot karena mereka punya pilihan lain.

“Tapi bagi yang tidak punya pilihan lain tentu akan menolak. Bali masih jadi tujuan wisata paling murah dan dekat,” ujar Agung. 

Mesra

Pernyataan Agung bisa jadi benar. Beberapa data memang menunjukkan Bali dan Australia ini punya hubungan mesra terutama di banyak bidang. Salah satunya tentu saja pariwisata yang menjadi alasan utama bagi warga Australia untuk berkunjung ke Bali.

Mari lihat data dari pihak Australia dulu. Menurut data lembaga Tourism Research Australian, Indonesia masih jadi tujuan paling favorit bagi warga negara Australia.

Upacara di Bali banyak menggunakan bahan dari lahan pertanian. Namun tanah pertanian di Bali makin sempit, karena beralih fungsi menjadi Hotel dan Kafe. Foto oleh Anton Muhajir/Rappler

Data per September 2013 lalu menunjukkan sebanyak 801 warga Australia datang ke Indonesia untuk berwisata (669 orang) serta untuk bisnis atau bertemu teman dan keluarga (132). 

Dari total jumlah 801 orang, angka tersebut memang masih kalah dibanding Selandia Baru, tetangga dekat mereka, sebanyak 1.022 orang pada masa yang sama. Namun, hanya 479 orang yang benar-benar berwisata dan 523 untuk keperluan keluarga.

Persis di atas Indonesia adalah Amerika Serikat, termasuk Hawai, dengan 847 orang. Namun yang untuk berwisata hanya 556 orang sedangkan untuk urusan keluarga atau teman 291 orang. 

Artinya, Indonesia memang masih jadi tujuan wisata paling besar bagi warga negara Australia.

Data dari Lembaga Riset Pariwisata Australia sejalan dengan data dari Dinas Pariwisata Pemerintah Provinsi Bali. Hingga Desember 2014 lalu, turis dari Australia masih yang terbanyak dengan 991.923 turis dari total 3,7 juta turis asing di Bali. 

Dengan jumlah sekitar 26 persen, turis Australia adalah yang tertinggi di Bali. Di bawahnya baru ada China dengan 586.300 turis atau 15 persen dan dari Jepang dengan 217.402 turis atau 5,8 persen.

Berulah

PARIWISATA. Maraknya pariwisata di bali turut membuat warga bali individualis. Pariwisata di Bali yang dianggap menjadi faktor penekan maraknya bunuh diri di Bali.

Sebagai turis dengan jumlah paling banyak, pelancong dari Australia juga terkenal paling suka berulah. Ada stereotip terhadap turis-turis dari Australia di Bali.

Musim paling terkenal adalah pada musim liburan sekolah Australia, sekitar November. Pada bulan ini, abege-abege yang dikenal dengan nama Schoolies akan menyerbu Kuta, Bali untuk pesta perpisahan ala siswa Indonesia.

Bedanya, selama di Bali mereka seolah bebas melanggar hukum. Misalnya berkeliaran di jalan tanpa baju, membawa bir sepanjang jalan meskipun masih di bawah 21 tahun, atau bahkan menggunakan narkoba. 

Bagi pelaku pariwisata di Kuta, turis-turis dari Australia terkenal dengan ulah bengalnya. Kejadian terakhir pada Desember 2014 lalu. Dua turis Australia, Timothy O’Hehir dan Scott O’Hehir, dihajar warga Kuta karena mengencingi Pura dengan sengaja. Kasus tersebut berakhir damai setelah sempat dibawa ke polisi.

Didi Suprapta, pengusaha travel di Bali, mengaku pernah sampai berantem dengan turis dari Australia. “Kami papasan di tikungan. Dia ambil haluan hampir keserempet mobilku. Dia ngacung jari tengah lalu maki-maki. Aku berhenti turun dari mobil. Debat. Aku mau foto dia malah kabur,” Didi bercerita.

Menurut Didi, turis Australia di Bali memang terkenal arogan. “Mereka tuh yang biasa berkendara sambil mabuk,” ujarnya.“I want to kick them out from Bali before they boycott their people to go to Bali,” Didi menambahkan.

Tapi, jika itu terjadi, Bali jelas rugi. Satu juta turis dari Australia tiap tahun jelas sangat besar pengaruhnya bagi Bali. –Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.