Kue keranjang khas Imlek bertahan lintas generasi

Novida Airinda
Kue keranjang khas Imlek bertahan lintas generasi
Orang Tionghoa tidak hanya menggunakan kue keranjang yang disusun bertumpuk untuk sembahyang, tetapi untuk dimakan bersama anggota keluarga.

Kue keranjang atau dodol keranjang tidak pernah absen dari perayaan hari raya Imlek. Orang Tionghoa tidak hanya menggunakan kue keranjang yang disusun bertumpuk untuk sembahyang, tetapi juga untuk dimakan bersama anggota keluarga. Di Bandung, ada pabrik kue keranjang rumahan yang telah berdiri lebih dari 80 tahun. Perusahaan keluarga yang didirikan sejak 1930-an ini kini tengah menyiapkan generasi keempatnya. 

Memasuki generasi keempat 

Kue keranjang legendaris ini bernama Tek Kie, yang tidak lain adalah nama pendiri sekaligus pemilik pertamanya. Saat ini Tek Kie dipimpin oleh Benny Ruslianto, generasi ketiga dari pewaris industri rumahaan kue keranjang yang beralamat di Jalan Pejagalan, Bandung, Jawa Barat. Usaha penganan khas Imlek yang telah dirintis sejak masa penjajahan ini mengandalkan resep aslinya dari Cina, itulah rahasia mengapa Tek Kie dapat bertahan lebih dari 80 tahun.

Untuk melestarikan dan mengembangkan usaha yang telah didirikan oleh kakeknya, Benny kini mempersiapkan generasi keempat Tek Kie sebagai pemimpin perusahaan keluarga ini. Usaha kue keranjang yang sudah beroprasi sejak 1930-an ini akan dilanjutkan oleh Vincent Ruslianto (24), anak Benny. Ia baru saja menyelesaikan kuliahnya di jurusan Teknik Industri Universitas Parahyangan, Bandung. Vincent diandalkan keluarga sebagai keturunan Tek Kie yang diharapkan dapat menggenapkan usia produksi hingga ke-100 tahun.

“Saya sudah bantu-bantu sejak kecil, sekarang kuliah sudah selesai dan mulai mempraktikkan ilmu,” tutur Vincent kepada Rappler Indonesia saat ditemui di kediamannya. Berbekal keilmuan di bidang Teknik Industri, Vincent berharap usaha yang dirintis kakek buyutnya ini dapat lebih maju lagi.

Penjaja kue keranjang Tek Kie di Bandung kini sedang mempersiapkan generasi keempatnya. Foto oleh Novida Airinda/Rappler

Habiskan 1 ton beras ketan per hari

Tahun ini Tek Kie memulai produksinya pada akhir Desember lalu, meskipun Imlek 1566 jatuh pada 19 Februari 2015. Menumpuknya pesanan membuat pengusaha kue keranjang rumahan ini dapat mengolah beras ketan hingga 1 ton per hari.

Demi menjaga kualitas bahan, Tek Kie sengaja membuat tepung beras ketan sendiri. Proses produksi kue keranjang saja memakan kurang lebih 20 jam, jika ditambah dengan proses menggiling tepung beras ketan maka lebih dari sehari. Karyawan yang bekerja untuk memenuhi pesanan tersebut hanya 25 orang, sehingga butuh manajemen waktu dan stamina yang cukup untuk memenuhi semua pesanan.

“Keterbatasan kita yang mengharuskan untuk mulai produksi sejak jauh-jauh hari. Nah, untuk tekstur dodolnya akan dioleh sesuai kebutuhan kapan akan dimakan. Mereka yang membantu mengerjakan ini juga butuh istirahat,” ungkap Jessica Lorraine (55), yang tengah sibuk di meja kasir sembari meladeni telepon dari pelanggan yang tidak berhenti berdering.

Tek Kie menjual kue keranjang mulai harga Rp 33.000 sampai Rp 38.000, harga tersebut menyesuaikan ukuran dan varian rasa. Ukuran paling kecil 10 cm, medium 12 cm, sedangkan yang paling besar 16 cm. Sedangkan rasa ada dua pilihan, yaitu orisinil beraroma vanili dan aroma kulit jeruk yang disebut cintong.

Mempertahankan kualitas

Komposisi bahan boleh sama, tapi kualitas bahan dan teknik pembuatan yang berbeda akan menghasilkan rasa yang berbeda pula. Demikian pula dengan Tek Kie. Untuk mempertahankan resep asli dari dari negara asalnya, maka Tek Kie pun tidak ingin berkompromi demi bersaing harga murah dengan kompetitornya.

Mulai dari kualitas dan tekstur tepung, industri rumahan kue keranjang ini menggilingnya sendiri demi hasil yang sesuai dengan keinginan. Alat untuk memasakpun masih menggunakan mesin warisan keluarga yang turun temurun. Resep dasar dan cara pengolahan tersebut tidak pernah diubah-ubah, sehingga rasanya terjamin sama seperti kali pertama kue Tek Kie diproduksi.

Demi menjaga kualitasnya, Tek Kie sadar bahwa harga yang mereka tetapkan sedikit lebih mahal. Namun, itulah harga yang harus dibayar untuk murninya resep tradisional. Prinsip tersebut yang membuat pelanggannya kian bertambah, bahkan produksi kue keranjangnya selalu meningkat tiap tahunnya.

“Kami ingin melestarikan resep warisan leluhur. Lebih baik mahal, asal rasa aslinya yang telah turun temurun ini tetap bertahan dan bisa dinikmati generasi sekarang. Bagi kami, keaslian rasa itu lebih berharga,” tutur Jessica.

Tek Kie sampai ke mancanegara

Harga murah memang lebih disukai, namun kualitas yang mewah akan tetap dicari. Terbukti, meskipun Tek Kie hanya memasarkan kue keranjang pada reseller di Bandung dan sekitarnya, namun manisnya bisa terbawa sampai ke manca negara. 

Rappler sempat bertanya pada salah satu reseller Tek Kie yang tengah mengambil pesanannya. “Saya sudah sejak lama jadi reseller. Rasanya enak aja, beda dengan lainnya. Kue keranjang yang ini juga lebih cepat laku,” tutur Eva. Jarak rumah yang terbilang jauh dan harus menembus macet di pagi hari rasanya sepadan dengan usaha mendapatkan stok kue keranjang Tek Kie.

Baik melalui pemesanan langsung atau melalui reseller, perjalanan kue Tek Kie sampai ke beberapa kota di seluruh Indonesia. Bahkan, tidak jarang para penikmat setia kue khas Imlek buatan Bandung ini dibawa sampai ke Singapura, Malaysia, dan beberapa negara lain. Sesuai dengan maknanya, kue keranjang adalah simbol berkumpulnya seluruh anggota keluarga, baik yang tinggal di kota yang sama atau di negara yang berbeda. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.