Harga beras naik, salah siapa?

Harga beras naik dalam waktu singkat. Apakah ada mafia beras di balik ini? Atau produksi beras tahunan yang turun, serta lahan produksi yang makin sempit?
Seorang perempuan melintasi sawah di Bali. Tanah pertanian di Bali makin sempit, karena beralih fungsi menjadi hotel dan kafe. Foto oleh Anton Muhajir/Rappler

JAKARTA, Indonesia —Kenaikan harga beras di beberapa daerah memicu spekulasi. Ada yang mengatakan kenaikan hingga 30 persen di beberapa daerah adalah ulah para mafia beras. Tapi, siapakah mafia beras yang dimaksud? Tak pernah terungkap sebelumnya. 

Atas kenaikan harga beras ini, masyarakat mulai panik. Mereka melaporkan, misalnya di Jakarta Timur, harga beras naik hingga 25 persen. 

Di Pasar Gedebage Bandung Setra Ramos harga beras Pandanwangi per kilo Rp 12.000. “Padahal bulan lalu Pandanwangi seharga Rp 10.500,” kata Yuliah Qotimah, salah satu netizen pada Rappler, Rabu, 25 Februari 2015.

Perintah audit dan perburuan mafia beras

Menteri Perdagangan Rachmat Gobel pun ikut buka suara soal kenaikan harga beras ini. Ia mengaku sudah meminta Kepala Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk segera melakukan audit secara keseluruhan. 

“Dari proses pengambilan keputusan, delivery order (DO) sampai dikeluarkannya penunjukan pedagang, dan sampai ke mana beras itu disalurkan,” katanya saat melakukan kunjungan kerja bersama Presiden Joko “Jokowi” Widodo di gudang Bulog, Jakarta, hari ini. 

Bahkan ia menyebut akan menggandeng polisi dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk memberantas mafia beras. Menteri Gobel pun mengancam akan mengambil langkah tegas, yakni tuntutan pidana pada pihak mana pun yang terbukti melakukan penimbunan beras. 

Soal dugaan adanya penimbunan ini, Gobel mengaku telah menemukan indikasi adanya mafia beras. Gobel menyebut adanya temuan beras ilegal ke Pasar Induk Cipinang pada awal bulan. “Ada satu gudang menimbun dan masuk merek dagang mereka sendiri itu sudah menyalahi kepercayaan pemerintah, nah ini harus ditindak,” katanya. 

Harga beras tertinggi dalam 10 tahun terakhir?

Sementara itu, mantan Wakil Menteri Pertanian dan mantan Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurti mengatakan, setidaknya ada enam faktor yang memicu kenaikan harga beras. 

  1. Produksi padi memang turun. “Angka Badan Pusat Statistik terakhir (November 2014) menyebutkan produksi padi turun hingga 0,9 persen,” kata Bayu pada Rappler Indonesia siang ini. Berdasarkan penelusuran Rappler, produksi padi Indonesia atau panen pada tahun 2013 mencapai 71.279.709 ton dengan luas lahan 13.835.252 hektar. Sedangkan pada tahun 2014, produksi mencapai 70.607.231 dengan luas lahan yang sedikit menyempit atau berkurang 66.933 hektar, menjadi 13.768.319 hektar. 
  2. Pasokan ke Pasar Cipinang menurun, jauh di bawah normal, dan pedagang Cipinang kesulitan mendapatkan alternatif. Ini juga menjadi sinyal kuat penurunan produksi.
  3. Terjadi keterlambatan tanam, akibatnya keterlambatan panen juga. “Sehingga Januari-Februari ini praktis pasokan memang sedikit,” katanya.
  4. Hujan dan cuaca mengganggu distribusi, meski pengaruhnya tidak besar ke harga.
  5. Beras miskin pada November-Desember 2014 tidak disalurkan. Akibatnya terjadi tambahan permintaan ke pasar umum +/- 500 ribu ton, atau sekitar 10 persen dari pasar, terutama di Desember dan Januari.
  6. Pelaku usaha yang merasa dicurigai dan diawasi sebagian membatasi aktivitasnya, yang menyebabkan sebagian aktivitas pasar menurun.

Bayu kemudian menyimpulkan, “Seingat saya, kenaikan beras setinggi ini dalam waktu sesingkat ini, tidak pernah terjadi dalam 10 tahun terakhir,” katanya.  

Presiden minta raskin segera disalurkan 

Presiden Jokowi menawarkan solusi untuk mengatasi hiruk pikuk kenaikan beras ini. Hari ini, dalam kunjunganya ke gudang Bulog bersama Menteri Gobel, Presiden mengatakan bahwa stok beras nasional masih cukup hingga masa panen yang akan datang.

“Sekarang ada 1,4 juta ton dan akan kita salurkan raskinnya (beras untuk orang miskin) habis. Kita dorong 330 ribu ton,” katanya. 

Presiden juga mengatakan, akan ada operasi pasar beras di lumbung-lumbung distribusi, seperti Pasar Cipinang. “Kita supply ke sana, sehingga jangan ada lagi pikiran kekurangan stok atau tidak ada supply,” katanya. Pemerintah akan memastikan supply beras terus dilakukan, berapapun jumlah yang diminta. 

Jokowi juga meminta pada seluruh daerah untuk segera menyalurkan beras miskin. “Sehingga kebutuhan yang ada di masyarakat betul-betul ada. Supply dan demand bisa seimbang dan harga bisa kembali pada posisi norrmal,” katanya. 

Solusi: Raskin perlu digelontorkan 2 kali di bulan Maret 

Menghadapi harga beras yang naik-turun, Bayu mengusulkan agar pemerintah segera menggelontorkan tambahan pasokan, termasuk raskin. “Kalau perlu raskin ganda di bulan Maret,” katanya. 

Bayu, yang merupakan lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB), juga meminta pemerintah melakukan operasi pasar secara sistematis dan konsisten, terutama untuk target non-raskin. Pemerintah juga harus mengelola pedagang dengan baik. 

Ia juga percaya bahwa pemerintah bisa mengatasi kenaikan harga ini. “Pemerintah Indonesia sebenarnya sudah pengalaman 40 tahun mengelola pasar bebas. Jadi bukan hal baru,” katanya. —dengan laporan dari ATA/Rappler.com