All England: Dua gelar cukup bagi Indonesia

Agung Putu Iskandar
All England: Dua gelar cukup bagi Indonesia

AFP

Meski tak berharap banyak, Indonesia yakin ganda campuran dan ganda putra mampu peroleh medali.

Agenda turnamen bulu tangkis dunia tahun ini langsung seru di awal. Federasi bulu tangkis dunia (BWF) menempatkan ajang besar Superseries Premier All England di awal tahun mendahului turnamen internasional lainnya. Rasanya, dua gelar saja sudah cukup bagi Indonesia. Mengapa?

Kamis dini hari, 5 Maret, atau malam waktu Birmingham, Inggris, babak pertama ajang bulu tangkis tertua di dunia itu sudah digelar. Hasilnya, tersisa sembilan wakil Indonesia di sektor tunggal putra, ganda putra, ganda putri, dan ganda campuran. 

Salah satu sektor terlemah Indonesia, tunggal putri, harus keok setelah Linda Weni Faneteri takluk straight game atas pebulutangkis Thailand, Porntip Buranaprasertsuk dengan skor 16-21, 11-21. Sedangkan, Bellaetrix Manuputty harus keok di tangan pebulutangkis India, Saina Nehwal dengan skor 8-21, 12-21.

Di tunggal putra, yang tersisa tinggal Dyonisius Hayom Rumbaka setelah secara mengejutkan dia memenangi bentrok “perang saudara” melawan Tommy Sugiarto, 21-12, 21-12. Padahal, Hayom sempat diprediksi takluk. Tak tanggung-tanggung, kemenangan itu diperoleh melalui straight game

(BACA: Badminton lacks future ‘star’, says Indonesia’s Taufik Hidayat)

Lantas, siapa saja yang tersisa? Ini daftarnya: 

Tunggal Putra

Dionysius Hayom Rumbaka

Ganda Putra

Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan

Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi

Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo

Andrei Adistia/Hendra Aprida Gunawan 

Ganda Putri

Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari 

Ganda Campuran 

Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir

Praveen Jordan/Debby Susanto

Kevin Sanjaya Sukamuljo/Greysia Polii 

Dari wakil Merah Putih yang tersisa, patut ditunggu sejauh mana Hayom bisa melaju. Jangan muluk-muluk bicara gelar karena dia memang bukan unggulan utama. Sektor ganda putri lebih baik karena Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari masuk dalam unggulan ketujuh. 

Tapi, seperti nasihat orang bijak, lebih baik harapan jangan terlalu tinggi. Karena jika jatuh, sakitnya tuh di sini! Lebih baik kita berharap pada sektor yang memberi “jaminan” prestasi (baca: realistis) di dua sektor terbaik Indonesia saat ini: Ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan ganda putra Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. 

Duet Tontowi dan Liliyana bahkan memburu quart-trick alias gelar All England beruntun keempat! Mereka sudah tiga kali menguasainya sejak 2012, 2013, dan 2014. Sedangkan Ahsan/Hendra memburu dobel setelah tahun lalu menjuarainya. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Rexy Mainaky juga sudah memberi tanda harapan realistis itu. 

“Kami berharap bisa membawa pulang dua gelar lagi dari All England seperti tahun lalu, yaitu dari ganda putra dan ganda campuran,” kata rekan duet Ricky Subagdja saat meraih emas ganda putra di Olimpiade Atlanta 1996 itu.  

Apa yang baru dari All England kali ini? 

Tontowi Ahmad (kanan) dan Liliyana Natsir (kiri) saat bertanding melawan ganda campuran Tiongkok di ajang Asian Games 2014, di Incheon, Korea Selatan, pada 29 September 2014. Foto oleh AFP

BWF menempatkannya di awal tahun. Ini adalah major event internasional pertama yang digelar tahun ini. Situasi ini memang membuat segalanya menjadi sulit diprediksi. Sebab, tim-tim tak bisa saling stalking seperti jomblo mengejar gebetan. Mereka hanya bisa berharap pada persiapan latihannya sendiri. 

All England di awal tahun juga membuat “mesin-mesin” belum terlalu panas. Karena itu, yang bisa diharapkan memang hanya dua sektor terbaik itu tadi. 

Meskipun begitu, bukan berarti jalan mereka mulus. Di babak kedua, Hendra/Ahsan akan bertemu pasangan kelas berat Fu Haifeng/Zhang Nan (Tiongkok). 

Untuk sektor ganda campuran, paling tidak hati kita bisa sedikit lega hingga semifinal. Sebab, di babak tersebut lah kemungkinan Owi/Butet (panggilan Tontowi dan Liliyana) menemui lawan berat, yakni Joachim Fischer Ielsen/Christinna Pedersen (Denmark). 

“Ini All England. Jangan terlalu jauh mikir ke semifinal dulu lah. Kami harus fokus sejak awal,” kata Owi merendah. 

Lantas, bagaimana dengan para pemain yang sudah tersingkir? Itu tidak usah dipikirkan. Sektor tunggal putri kita memang titik terlemah Merah Putih. Linda Weni dan Bellatrix memang tak diharapkan untuk melaju lebih jauh. 

Linda yang piawai bermain rali-rali panjang tak kunjung memiliki pukulan mematikan. Sedangkan Bellatrix yang memiliki pukulan maut, kerap lemah dalam hal endurance

Susi Susanti, legenda hidup pebulutangkis putri Indonesia, tak terlalu muluk-muluk mengomentari lemahnya sektor itu. “Persoalan kita adalah fighting spirit!” serunya. Ouch! —Rappler.com

Agung Putu Iskandar, atau Aga Agung, adalah mantan wartawan Jawa Pos. Selain menulis soal olahraga, ia juga peduli pada isu sosial dan hukum. Follow Twitter-nya di @agaagung dan blog pribadinya agungputu.wordpress.com.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.