Korean shows

Inilah alasan mengapa Mary Jane perlu diselamatkan

Inilah alasan mengapa Mary Jane perlu diselamatkan

EPA

Menurut Kontras dan Komnas Perempuan, ada beberapa alasan untuk menyelamatkan Mary Jane, di antaranya adalah dugaan bahwa dia korban perdagangan manusia dan dia tidak bisa membela dirinya di pengadilan karena masalah bahasa

 

JAKARTA, Indonesia — Jelang waktu eksekusi yang mendekat, dua organisasi penggerak hak asasi manusia — Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) dan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), sepakat bahwa terpidana mati asal Filipina Mary Jane Veloso harus diselamatkan dari hukuman mati. 

Komnas Perempuan meminta Presiden Joko “Jokowi” Widodo membatalkan hukuman mati atas Mary Jane dan memberinya kesempatan untuk mengajukan peninjauan (PK) yang kedua. 

(BACA: Indonesian, too, appeal for #MaryJane)

Ketua Komnas Perempuan Azriana mengatakan bahwa alasan utamanya adalah karena sedang ada proses hukum yang berjalan di Filipina bagi Maria Kristina Sergio, terduga pelaku perdagangan manusia yang diduga merekrut Mary Jane.

“Jangan sampai Indonesia terlanjur mengeksekusi mati seseorang yang nantinya terbukti sebagai (korban) perdagangan orang,” kata Azriana, Jumat, 24 April 2015. 

(BACA: Perekrut Mary Jane akan hadapi proses hukum)

Haris Azhar, koordinator Kontras, juga menekankan bukan hanya proses hukum yang belum selesai, tapi juga ada unfair trial pada Mary Jane. Mary Jane tidak diberikannya penerjemah yang kompeten pada saat persidangan tingkat pertama di Pengadilan Negeri Sleman, serta ada keterlambatan pemberitahuan kepada kedutaan besar negara yang bersangkutan.

Haris menambahkan bahwa proses hukum hanya hanya mempertimbangkan bukti-bukti dari pihak penyidik dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) saja. 

“Salah satu terpidana asal Brazil, Rodrigo Gularte tetap divonis mati oleh pengadilan meski diketahui menderita skizophrenia disorder dan bipolar psychotic yang karenanya menjadi tidak cakap hukum,” kata Haris pada Rappler, Sabtu pagi, 25 April. 

Argumen yang sama bisa digunakan untuk Mary Jane. Dia tidak menguasai Bahasa Inggris dan Indonesia. Pada persidangan awal dia hanya bisa berbahasa Tagalog. Penerjemah yang disediakan pun hanya seorang mahasiswa. 

Mary Jane korban perdagangan manusia 

Mary Jane berasal dari keluarga miskin di Filipina, oleh karena itu ketika Kristina — saudara serani Mary Jane — menawarinya untuk bekerja di Malaysia, dia langsung berminat. Mary Jane yang tidak menamatkan sekolahnya dengan mudah terbujuk untuk bekerja tanpa dokumen resmi. 

Dia membayar biaya keberangkatan ke Malaysia dengan menyerahkan motor dan telepon genggamnya senilai 7.000 peso kepada Kristina. Kekurangan biaya rencananya akan dibayar dari gaji di 3 bulan pertama.

 (BACA: The Story of Mary Jane Veloso, in her own words

Menurut Mary Jane, setibanya di Malaysia, Kristina malah meminta Mary Jane pergi ke Indonesia. Kristina menjanjikan, sepulang dari Indonesia, Mary Jane akan langsung dipekerjakan. 

Kristina kemudian membelikan tas baru untuk Mary Jane. Menurutnya, dia tidak tahu bahwa di dalam tas yang diberikan padanya ada heroin seberat 2,6 kilogram. Sampai di bandara di tanah air, petugas pun mendapati heroin itu dan langsung menahannya. 

(BACA: Pengacara ajukan PK kedua: Mary Jane bukan perantara narkoba)

Menurut Komnas, situasi Mary Jane telah saat itu menyebabkan ibu dua anak itu rentan terjebak dalam mafia perdagangan orang dan mafia narkotika internasional. Apalagi perekrutan dilakukan secara ilegal oleh Kristina. 

Dari temuan ini Komnas yakin Mary Jane bukan gembong narkoba tapi korban perdagangan manusia. 

“Mary Jane ditipu, dijadikan kurir narkoba,” kata Yuniyanti, Wakil Ketua Komnas Perempuan. —Rappler.com

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.