Menteri Anies: Mengembalikan peran orang tua dalam pendidikan

Menteri Anies: Mengembalikan peran orang tua dalam pendidikan
Kementerian Pendidikan akan dirikan Direktorat Pendidikan untuk Keluarga dan Orang Tua agar peran orang tua lebih teroptimalisasi.

JAKARTA, Indonesia— Enam bulan berlalu sejak Anies Baswedan ditugaskan menjadi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dan Kebudayaan. Ia mengaku telah menyiapkan berbagai program unggulan untuk mengubah wajah pendidikan Indonesia, salah satunya dengan mengoptimalkan peran orang tua.

Bila berbicara pendidikan, topik yang terlontar biasanya terpaku ke kualitas guru, fasilitas sekolah yang kurang memadai, kurikulum yang membebani anak-anak, hingga biaya sekolah yang semakin mahal. Sadarkah bahwa ada satu elemen penting yang sering terlupakan?

Orang tua — pendidik pertama dan terdekat seorang anak yang sayangnya malah sering diposisikan jauh dari proses edukasi seorang anak. Keluarga sering melepaskan urusan ini kepada sekolah, di mana seorang anak menghabiskan hampir seluruh waktunya setiap hari. Padahal pendidikan bukan hanya urusan institusi, tapi juga tanggung jawab keluarga, khususnya orang tua.

Hal ini menjadi perhatian tersendiri bagi Kementerian Pendidikan. Orang tua, menurut Anies, harusnya punya porsi lebih besar dalam pendidikan anak, dengan konsekuensi bahwa orang tua harus dipersiapkan untuk peran tersebut.

“Pendidik terpenting adalah orang tua, tapi orang tua juga (merupakan) pendidik yang paling tak tersiapkan. Kenapa? Ya, karena mereka harus belajar sendiri,” kata Anies pada Rappler di kantornya, Sabtu, 2 Mei, yang kebetulan bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional.

Kementerian Pendidikan sudah mencanangkan pembentukan sebuah direktorat baru untuk memfasilitasi pembelajaran bagi orang tua.

“Orang tua sekarang kalau mau mencari bahan, misalnya bagaimana kondisi fisik, mental, sosial, kemana harus mencari? Kita memberikan fungsi pendidikan. Kita bukan kementerian persekolahan ya, ini kementerian pendidikan. Dan siapa pendidik itu? Pendidik itu adalah guru dan orang tua,” ujar Anies.

“Nah, orang tua kita tidak pikirkan selama ini.”

Direktorat ini akan diberi nama Direktorat Pendidikan untuk Keluarga dan Orang Tua. Namanya sudah diubah dari wacana awal, Direktorat Keayahbundaan, untuk menjangkau semua jenis orang tua, termasuk orang tua tunggal.

“Kemarin Keayahbundaan. Tang ayah saja nggak punya bunda protes, yang bunda saja nggak punya ayah protes, karena kami single parents katanya… jadi kita buat namanya lebih netral,” imbuh Anies.

Berbagi informasi sesama orang tua

Pendidikan orang tua ini, kata Anies, bukan dalam bentuk kursus, melainkan memberikan fasilitas berbagi sesama orang tua melalui situs khusus.

“Jangan dibayangkan kursus, lalu orang tua wajib belajar. Tidak sama sekali. Justru kita ingin menjadi tempat bagi berbagai pihak yang selama ini sudah memiliki program bagi orang tua, kita akan menjadi semacam hub yang menampung semua itu, dan kita salurkan ke orang tua,” kata Anies.

“Pendidik terpenting adalah orang tua, tapi orang tua juga (merupakan) pendidik yang paling tak tersiapkan. Kenapa? Ya, karena mereka harus belajar sendiri.”

Fungsi direktorat ini nantinya akan mengatur tentang bagaimana anak bermain telepon genggam, mengatur waktu menonton TV, dan bermain komputer. Dulu, lanjut Anies, ketika orang tua tumbuh besar, belum ada kemajuan zaman seperti saat ini.

Jika orang tua datang ke direktorat ini, akan disediakan situs dan kumpulan video tentang orang tua yang berpengalaman menjalankan itu dengan baik. Misalnya, kisah sukses orang tua yang berhasil mendidik anak-anak mereka agar menjadi inspirasi bagi orang tua lainnya.

“Jadi, fungsinya direktorat ini menjadi fasilitator, pengalaman orang tua yang baik-baik, biasanya jadi pengalaman pribadi, kita jadikan pelajaran bagi orang tua yang lain. Jadi tujuannya seperti itu,” ujar Anies.

Mengoptimalkan peran wali kelas

Tak berhenti di penyediaan informasi, nantinya direktorat ini akan mengusahakan agar orang tua bisa lebih aktif dalam proses pendidikan anak melalui peran sekolah yang lebih aktif.

“Kita punya sekolah, dan sekolah ini ada orang tuanya. (Kami akan) menjangkau orang tua lewat sekolah. Wali kelas adalah ujung tombak kita,” kata Anies.

“Jadi kita ingin para wali kelas itu mengundang orang tua ke sekolah satu semester dua kali, bicarakan anaknya. Satu-satu, bukan ramai-ramai. Dikaji apa masalahnya, apa positifnya, apa yang perlu didorong.

“Jangan sampai pendidik terpenting justru didiamkan tak tersiapkan. Jadi kita bantu di situ,” pungkasnya. —Rappler.com 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.