Warga Aceh ingin adopsi anak imigran Rohingya

Nurdin Hasan
Warga Aceh ingin adopsi anak imigran Rohingya
'Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Dulu saat konflik Aceh, kita pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang'

LHOKSUKON, Indonesia – Lelaki berbadan tegap dengan kumis tebal itu memilih duduk di sepeda motor yang diparkir di sebelah utara Gedung Olahraga (GOR) Lhoksukon, ibukota Kabupaten Aceh Utara.

Ilyas, 58 tahun, mengaku tak tega melihat ke dalam gedung, tempat ditampungnya ratusan imigran etnis Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh. Selain kondisi mereka yang cukup memprihatinkan, bau menyengat dari dua toilet seolah menyurutkan langkahnya ke ruangan.

Awal pekan ini ribuan pencari suaka etnis Rohingya terdampar di pantai Seuneudon, Aceh Utara, Minggu, 10 Mei 2015. Mereka terusir dari negaranya akibat kekerasan pasukan pemerintah Myanmar dan tak diakui kewarganegaraan.

“Saya tahu ada manusia perahu yang terdampar ke Aceh Utara, kemarin sore. Segera saya datang ke sini setelah berbelanja berbagai jenis makanan Rp 1 juta untuk bantu mereka semampu saya,” kata Ilyas kepada Rappler, Selasa malam, 12 Mei.

Dia datang untuk kedua kalinya dengan sebuah harapan, ingin mengadopsi seorang anak Muslim Rohingya. 

Ilyas sendiri sudah memiliki tiga orang anak. Yang bungsu tahun ini bakal tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dua lainnya sudah menikah.

“Saya sangat ingin sekali kalau diberikan kesempatan merawat dan menyekolahkan anak Muslim etnis Rohingya. Tapi bagaimana caranya? Apalagi anak-anak saya sudah besar,” ujar pria yang berprofesi sebagai sopir truk ini.

Dia telah berbicara tentang keinginannya dengan petugas Tagana Dinas Sosial Aceh Utara. Tetapi, jawaban yang didapat jauh dari harapan. Petugas Tagana mengaku tak punya kewenangan terhadap nasib para pengungsi yang hendak mengadu nasib ke Malaysia.

Relawan Tanaga hanya bertugas menyiapkan makanan dan keperluan lagi bagi para pencari suaka. Sebuah dapur umum telah didirikan di samping gedung sejak 582 imigran ditampung di GOR Lhoksukon yang berukuran 20 x 40 meter, yang biasa digunakan untuk bermain bulu tangkis.

Meski sulit untuk dapat mengadopsi seorang anak Rohingya, Ilyas tetap bertahan di luar gedung hingga menjelang tengah malam. Warga dari Kecamatan Matang Kuli itu mengaku sayang karena penderitaan berat yang dialami etnis minoritas Rohingya di negara asal mereka.

“Saya benar-benar tulus ingin merawat anak Rohingya. Apalagi mereka adalah warga Muslim. Sesama Muslim, kita harus saling membantu. Apalagi dulu saat konflik Aceh, kita juga pernah merasakan bagaimana penderitaan akibat perang,” katanya.

Dari 582 warga Rohingya yang terdampar, terdapat 81 perempuan dan 51 anak-anak. Di antara anak-anak berusia di bawah 12 tahun, terdapat sejumlah balita.

‘Belum dikaruniai anak’

  Dua gadis Aceh melakukan foto bersama dua dengan sejumlah warga etnis Rohingya yang ditampung di (GOR) Lhoksukon, Aceh Utara, 12 Mei 2015. Sejumlah warga Aceh ingin mengadopsi anak etnis Muslim Rohingya. Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

Keinginan untuk mengadopsi anak Rohingya juga diungkapkan pasangan Ahmad, 43, dan Fatimah, 35. Mereka sengaja datang ke GOR Lhoksukon dari desanya di pelosok Aceh Utara, Selasa sore. Pasangan itu mengaku tak punya anak.

“Kami sudah menikah tujuh tahun, tapi belum dikarunai anak. Kalau diizinkan kami bersedia mengambil seorang anak mereka untuk kami rawat dan kami sekolahkan,” kata Ahmad yang diiyakan istrinya.

Saat pasangan itu berada di luar GOR, sejumlah perempuan Rohingya dan sepuluh anak keluar dari GOR, hendak mandi di rumah warga. Fatimah segera merogoh dompetnya. Setiap anak dikasih uang Rp 2.000. Sedangkan, untuk perempuan Rohingya diberikan uang Rp 20.000. Terlihat senyum bahagia dari anak-anak dan perempuan Rohingya.

Cut Nilawati, 30, mengaku datang ke GOR juga untuk melihat pengungsi. Dia ingin memastikan kemungkinan mengadopi seorang anak Rohingya. “Kakak saya di Kota Lhokseumawe telepon. Dia tanya apakah mungkin kalau mengadopsi seorang anak pengungsi ini,” katanya.

‘Kondisi GOR tak layak lagi’

Para imigran asal Rohingya Myanmar dan Bangladesh sedang tertidur pulas di tempat penampungan sementara di Gedung Olahraga (GOR) Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, Selasa, 12 Mei 2015. Foto Nurdin Hasan/Rappler

Menjelang malam, seribuan warga Aceh Utara mendatangi GOR. Mereka membawa berbagai macam bantuan mulai dari pakaian bekas, beras, air mineral, telur ayam, ikan, dan kue-kue segala jenis. Ramainya warga yang datang membuat tim Tagana dan polisi kewalahan karena warga dan pengungsi berbaur.

Bantuan juga disalurkan para mahasiswa dan siswa SMU Unggul Lhoksukon. Di jalan dekat GOR, terlihat sejumlah mahasiwa menggalang bantuan dana bagi imigran itu. Setiap warga yang melintas memasukkan uang ke dalam kardus yang dibawa aktivis mahasiswa.

Meski ada seruan dari pengeras suara agar warga tidak masuk ke dalam gedung, tapi masyarakat tetap memasuki dan berbaur dengan manusia perahu, yang pada tangan mereka telah dipasang pita kuning. Banyak dari warga Aceh yang berbaur mengajak foto bersama dengan imigran. Hingga tengah malam, ratusan warga tetap bertahan di seputaran GOR.

Menurut rencana, pada Rabu sore ini, 13 Mei, para imigran Myanmar dan Bangladesh dipindah ke Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Cangkoi di Keamatan Lapang.  Tim dari International Organization for Migration (IOM) dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNCHR) telah menginspeksi lokasi ini pada Selasa kemarin.

Menurut seorang petugas UNCHR, lokasi yang dekat laut itu sekitar 16 kilometer dari Lhoksukon. “Kondisi sanitasi di GOR sudah tak layak lagi. Apalagi banyak warga yang datang dan berbaur dengan imigran. Takutnya ada yang sakit,” kata petugas yang tak mau disebutkan namanya.

Tetapi Ilyas, pasangan Ahmad dan Fatimah, dan Cut Nilawati tetap menggantung satu harapan besar untuk dapat mengadopsi anak Rohingya. Mereka terus berusaha bisa mendapatkan cara merawat anak-anak itu.

“Saya tetap berharap kalau bisa mereka semua dibiarkan tinggal di Aceh. Apalagi kita sesama Muslim harus saling membantu,” ujar Ilyas. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.