Pencari suaka yang terdampar di Aceh direlokasi ke pinggir laut

Nurdin Hasan
Pencari suaka yang terdampar di Aceh direlokasi ke pinggir laut
Mereka dipindahkan ke tempat yang lebih baik mengingat GOR Lhoksukon sudah 'tak layak lagi'.

KUALA CANGKOI, Indonesia – Setelah sempat ditampung selama tiga hari di Gedung Olahraga (GOR) Lhoksukon, Kabupaten Aceh Utara, ratusan pencari suaka dari Myanmar dan Bangladesh, Rabu sore, 13 Mei, direlokasi ke pinggir laut di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang.

Proses pemindahan 586 imigran etnis Rohingya yang berasal dari Myanmar dan Bangladesh dilakukan dengan belasan bus dan truk milik Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dan Polres setempat. Para imigran, termasuk perempuan dan anak-anak, membawa perbekalan baju dan makanan yang disumbang warga Aceh Utara dalam bungkusan.

Tidak ada pelepasan secara resmi. Para imigran berebutan naik ke bus dan truk yang disiapkan di halaman GOR. Ratusan warga Aceh Utara berdiri di seputaran GOR untuk menyaksikan pemindahan mereka. Beberapa perempuan Aceh terlihat menitikkan air mata.

(BACA: Warga Aceh ingin adopsi anak Rohingya)

Setelah tiba di Kuala Cangkoi, sekitar 16 kilometer dari Lhoksukon, pengungsi laki-laki dan perempuan bersama anak-anak, termasuk sejumlah balita, dipisahkan. Pria ditempatkan di dalam musholla. Di sini, mereka dibagikan dalam dua kelompok. Warga Muslim Rohingya duduk bersama. Satu kelompok lagi, warga Bangladesh. Sedangkan, perempuan dan anak-anak ditempatkan di satu bangunan terpisah.

Ketika mereka tiba di Kuala Cangkoi, hanya ada beberapa warga nelayan di TPI tersebut. Tetapi, dalam 30 menit, seribuan warga dari desa-desa di Lapang berduyun-duyun datang dengan mobil dan sepeda motor untuk melihat para imigran tersebut.

Muhammad Kasem, 40, seorang imigran Bangladesh yang mampu berbicara bahasa Melayu, berharap di lokasi baru itu, warga juga baik dan bersedia membantu mereka seperti telah ditunjukkan masyarakat Lhoksukon.

“Warga di sana sangat baik. Mereka banyak bantu kami. Saya tidak tahu bagaimana di sini. Semoga mereka juga bantu kami seperti di sana,” katanya sambil menenteng bungkusan pakaian yang diberikan masyarakat Lhoksukon.

Di Kuala Cangkoi, terdapat tiga gedung yang digunakan untuk tempat tidur mereka. Sementara musholla bisa dipakai warga Muslim untuk melaksanakan shalat. Di dekat gedung juga telah didirikan tenda yang digunakan sebagai posko dan dapur umum.

(BACA: Cerita pencari suaka yang terdampar di Aceh)

Begitu para pengungsi tiba dan seribuan warga yang berdatangan, tiga perempuan Kuala Cangkoi segera menggalang dana untuk kebutuhan imigran gelap yang rencana awal hendak mengadu nasib ke Malaysia. Ketiganya berkeliling membawa kotak bekas air mineral ke setiap warga sambil berujar, “Ayo bantu sedikit uang untuk mereka.”

“Inisiatif menggalang dana datang tiba-tiba tadi pagi setelah kami tahu mereka akan dibawa ke sini. Kami beritahu kepala desa, dan beliau setuju. Makanya kami galang dana dari warga yang datang,” kata Akmar, seorang penggalang dana.

Hanya dalam satu jam, katanya, dalam kotaknya telah tergalang dana sekitar Rp 500 ribu. Hingga malam, warga yang datang terus silih berganti. Mereka rela berdesakkan di luar gedung, tempat para pengungsi sedang istirahat sambil menunggu proses pendataan.

Registrasi para imigran

Perempuan Muslim etnis Rohingya menunggu proses pendataan di tempat pengungsian di Kuala Cangkoi, Aceh. Foto oleh Nurdin Hasan/Rappler

Puluhan pegawai Kantor Imigrasi Lhokseumawe, dibantu sejumah tim International Organization for Migration (IOM) dan United Nations High Commissioner for Refugees (UNCHR), dikerahkan untuk mendata imigran yang terdampar di pantai Seuneudon, Aceh Utara, Minggu, 10 Mei silam.

Pendataan para pencari suaka dilakukan satu persatu dimulai dengan mengambil cap jempol. Lalu, nama mereka ditulis pada selembar kertas. Selanjutnya imigran disuruh memegang kertas dengan namanya untuk difoto. Hingga Rabu malam, pendataan itu masih berlangsung.

Public Information Officer UNHCR, Mitra Salima Suryono, yang ditanya wartawan di Kuala Cangkoi, mengatakan bahwa lokasi penampungan baru lebih baik dibandingkan GOR Lhoksukon.

“Kami memastikan kebutuhan mereka terpenuhi. Pemerintah lokal dan masyarakat baik hati sekali. Bantuan tidak berhenti mengalir,” katanya.

Ditambahkan bahwa UNHCR dan IOM akan melakukan registrasi para imigran. Hasil pendataan menjadi acuan bagi UNHCR untuk menyikapi kasus imigran Rohingya, termasuk kemungkinan penempatan ke negara ketiga yang memberikan suaka politik.

Seorang petugas IOM yang menolak disebutkan namanya memperkirakan mereka akan berada di Aceh lebih lama. Apalagi proses pendataan membutuhkan waktu karena setiap imigran akan diwawancara satu persatu. – Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.