Lagi, sekitar 400 Rohingya diselamatkan nelayan Aceh

Nurdin Hasan
Masih ada sekitar 300-400 pengungsi yang dievakuasi nelayan dari tengah laut.

Pengungsi Rohingya asal Myanmar dan Bangladesh mendapatkan suplai makanan dan minuman dari kapal nelayan Thailand di Laut Andaman, pada 14 Mei 2015. Foto oleh EPA

BANDA ACEH, Indonesia (UPDATED) – Sebanyak 433 warga etnis Rohingya, termasuk perempuan dan anak-anak, kembali diselamatkan nelayan tradisional Aceh saat mereka sedang terkatung-katung di Selat Malaka, Rabu dini hari, 20 Mei.

Panglima Laot Kuala Julok, Teuku Nyak Idrus, mengatakan perahu kayu yang membawa ratusan manusia perahu dalam kondisi lemas dan sakit-sakitan terdampar di dekat Kuala Julok, Kabupaten Aceh Timur, sekitar pukul 2:00 WIB.

“Lalu, para nelayan yang melihat mereka minta tolong segera menolong orang-orang itu dan mengangkut mereka dengan boat nelayan ke Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Julok,” kata Idrus.

Sebanyak 102 pengungsi pada rombongan pertama diselamatkan pada dini hari ini, sebelum sisanya ditolong para nelayan di pagi harinya.

Dari total 433 yang diselamatkan hari ini, 44 di antaranya adalah wanita dan 46 merupakan anak-anak

Hal tersebut dibenarkan oleh seorang anggota Search and Rescue (SAR) Langsa, Khairul Nova, yang menyatakan sekitar ratusan pencari suaka asal Myanmar telah diselamatkan oleh nelayan Julok dari Selat Malaka.

“Saya dapat kabar bahwa masih ada sekitar 300 hingga 400 orang lagi yang sedang dievakuasi nelayan dari tengah laut, tapi saya belum mendapat informasi lanjutan,” kata Khairul. 

Disebutkan bahwa kebanyakan manusia perahu yang diselamatkan itu dalam kondisi sangat lemas karena diyakini sudah beberapa hari tanpa makanan dan minuman. Banyak juga dari mereka yang sakit.

Tim kesehatan sudah ada di lokasi dan mereka mulai mengobati orang-orang sakit. Kebanyakan mereka yang sakit karena tidak makan dan dehidrasi.

“Saya sekarang sedang mengumpulkan ikan dari para nelayan dan beras dari warga untuk memasak kepada mereka,” kata Idrus.

Idrus menambahkan bahwa para nelayan Julok sedang berusaha untuk menarik perahu yang membawa ratusan pengungsi ke Kuala Julok.

“Daripada dibiarkan di laut, nanti akan tenggelam. Makanya kami berinsiatif untuk menarik boat itu ke darat,” katanya.

Begitu para pengungsi dibawa ke daratan, ratusan warga nelayan setempat segera memberikan bantuan air mineral dan makanan. Mereka membagi-bagikan pakaian kepada warga Rohingya, yang kondisinya amat memprihatinkan dan hanya memakai kain sarung.

“Banyak dari mereka yang laki-laki tidak lagi memakai pakaian saat dibawa ke sini,” katanya, seraya menambahkan dari pengakuan pengungsi itu ada di antaranya yang tewas di laut. Tetapi, jumlah mereka yang tewas belum diketahui secara pasti.

Belum jelas apakah perahu yang terdampar di Kuala Julok ini adalah kapal yang pernah terdeteksi di perairan Thailand, Kamis, 14 Mei. Saat itu, Angkatan Laut Thailand melarang perahu yang penuh manusia itu merapat ke daratan, tapi hanya memberikan bantuan.

Sementara itu, juru bicara Tentara Nasional Indonesia (TNI) Fuad Basya melarang nelayan menolong pengungsi yang terdampar di wilayah Indonesia, kecuali jika perahu yang mereka tumpangi tenggelam.

“Jangan sampai ada nelayan kita menjemput mereka (pengungsi Rohingya) ke luar batas laut kita, kemudian keluar dari kapal dan masuk perahu nelayan, dan masuk wilayah kita. Itu yang kita larang,” kata juru bicara TNI Fuad Basya, seperti dikutip BBC Indonesia.

Menurut Fuad, TNI tidak melarang upaya penyelamatan ke darat apabila “kapalnya tenggelam atau mereka terapung-apung di laut dan tidak ada kapalnya.”

“TNI mempunyai kewajiban menjaga kedaulatan wilayah Indonesia, termasuk di laut,” katanya.—Rappler.com