Baku tembak kembali pecah di Aceh, satu orang tewas

Nurdin Hasan
Lepas dari perjanjian damai yang pernah dibuat antara Pemerintah Indonesia dan GAM pada 2005, kelompok bersenjata tidak menghilang dari Aceh.

Polisi menyelidiki penembakan di Banda Aceh, November 2009. Foto oleh Hotli Simanjuntak/EPA

BANDA ACEH, Indonesia — Pasukan polisi yang sedang melancarkan operasi perburuan kelompok bersenjata di Provinsi Aceh, Minggu dinihari, 24 Mei 2015, terlibat baku tembak. Seorang pria yang diduga sipil bersenjata tewas tertembak dan dua lainnya ditangkap.

Kapolres Pidie Ajun Komisaris Besar Polisi Muhajir menyatakan insiden kontak senjata itu terjadi di kawasan persawahan Desa Blang Malu, Kabupaten Pidie, sekitar pukul 01:45 waktu setempat.

Kontak senjata berawal dari informasi masyarakat tentang ada anggota kelompok bersenjata yang keluar dari daerah Keumala menuju Kota Beureunuen dengan menggunakan mobil angkutan umum jenis labi-labi (angkot).

“Diduga kelompok tersebut hendak melakukan perampokan di sekitar SPBU Blang Malu,” kata Muhajir kepada Rappler.

Begitu tiba melewati Beureunuen, mobil yang di dalamnya terdapat 3 orang, termasuk sopir, berhenti di sebuah warung nasi dekat SPBU Blang Malu.

Kemudian tim gabungan Polri yang dipimpin Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Aceh melakukan penyergapan terhadap ketiga orang yang diyakini anggota kelompok bersenjata, kata Muhajir.

“Saat hendak disergap, mereka melarikan diri ke arah persawahan sambil melepaskan tembakan ke arah aparat keamanan,” ujarnya.

Aparat kepolisian yang dibantu personel Brigade Mobil segera melepaskan tembakan balasan sehingga terjadi kontak senjata selama beberapa menit.

Setelah diyakini tidak ada lagi tembakan balasan dari kelompok bersenjata, polisi melakukan pembersihan lokasi dan menemukan seorang dari mereka tewas dan dua lainnya menderita luka tembak.

“Tidak ada korban dari polisi,” katanya.

Korban tewas adalah Muhammad Rizal alias Cagee,  26 tahun, warga Desa Rheng, Kecamatan Keumala, Pidie. Dia tertembak di pinggang sebelah kiri tembus ke punggung.

Dari tangan korban tewas, polisi menyita sepucuk senjata otomatis jenis AK-56,  satu magazine AK dan 30 butir amunisi.

Dua orang lainnya yang ditangkap polisi adalah Muhammad Nasir dan Nasir Khadafi. Muhammad Nasir adalah warga Desa Ulee Blang, Aceh Utara. Dia tertembak di betis kanan dan saat ini dirawat di Rumah Sakit Umum Tgk Chiek Di Tiro di Sigli, ibu kota Pidie.

Khadafi berprofesi sebagai sopir. Dia kini ditahan di Mapolres Pidie untuk penyelidikan lebih lanjut. 

Sebelumnya dalam kontak tembak di kawasan rawa-rawa Desa Gintong, Kecamatan Grong-Grong, Pidie, Kamis dinihari, 21 Mei, pasukan gabungan TNI/Polri menewaskan 3 orang anggota kelompok bersenjata dan menyita sepucuk AK-56.

(BACA: Tiga pria bersenjata tewas dalam kontak tembak di Aceh)

Ketiga korban tewas adalah Ibrahim Yusuf, 42, Subki, 23 dan Yusliadi alias Mae Pong, 27. Mayat Subki dan Ibrahim ditemukan tergeletak beberapa saat usai batu tembak. Sedangkan, jenazah Yusliadi ditemukan dalam rawa saat penyisiran, Kamis pagi. Rappler.com